Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Info Pendaftaran Online Santri Baru

Tata Cara dan Langkah Pendaftaran Online

KHR. Asnawi Kudus

KHR. Asnawi Muassis Madrasah Qudsiyyah dan Pendiri NU

Ngaji Online Ponpes Qudsiyyah Putri

Ngaji Online rutin setiap ba'dal maghrib selain malam jumu'ah streaming via fb dan YT Qudsiyyah Putri

Profil Ponpes Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum Ponpes

Profil MTs Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum MTs Qudsiyyah Putri

Selasa, 08 November 2022

KH. Ma'ruf Asnawi

 


Qudsiyyahputri.com. KH. Ma’ruf Asnawi lahir pada pada hari Kamis tahun 1911 atau 1329 H. Silsilahnya adalah KH. Ma’ruf  bin Asnawi bin Abdurrahman bin Sayyidah A’isyah binti Habib Ahmad bin Habib Ibrahim Bafaqih (Sunan Puger). Beliau dikenal sebagai khalifah Tarekat Syadzaliyah di Kudus. Sedangkan posisi mursyid dipegang langsung oleh KH. Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan. Pusat kegiatan tarekat ini adalah di Jumutan Demangan dan Kauman Menara. Sampai saat ini pengurus tarekat Syadziliyah sudah mempunyai lahan tanah untuk dijadikan pusat kegiatan tarekat yang bertempat di Kaliwungu Kudus.

Sebagaimana diungkapkan oleh KH. Nur Halim, tarekat syadziliyah (sebutan yang asli di kitab Mafakhir adalah Syadzzaliyah nisbat tempat Syadzzalah), Mujiz awalnya memang Habib Luthfi. Namur Habib Luthfi pernah dawuh untuk memudahkan orang dlu’afa’ (likibari sinnihi, sepuh atau lidla’fi malihi, anak muda tidak punya biaya) KH. Ma’ruf Asnawi pernah mbadali bai’at. Khalifah yang disandang itu atas perintah Mursyid. Karena Habib Luthfi kasihan dengan orang Kudus yang datang ke Pekalongan, tapi tidak ketemu Habib, maka bisa dibai’at KH. Ma’ruf Asnawi. “Kanggo sing sepuh mbah atau yang gak punya biaya” kata Habib.

Orang Kudus yang pertama bai’at tarekat ke Pekalongan adalah H. Chambali Balaitengahan. Sedangkan “Mbah Ji”-panggilan akrab KH. Ma’ruf Asnawi-baru bai’at tahun 1975. Mulanya ia menjadi murid biasa puasanya 3 hari; kamis, jum’at dan sabtu. Ahadnya dibai’at Syadzaliyah. Kepergiannya ke pekalongan naik bis ditemani putranya Mahfudh Nur. Murid tarekat dari Kudus angkatan “Mbah Ji” kira-kira ada belasan orang, yaitu:
  1. H. Raden Hambali
  2. Hasyim Tepasan
  3. H. Tahar Prambatan
  4. H. Hanafi Balaitengahan Langgardalem
  5. As’ad Demaan
  6. H. Khoiron Damaran
  7. H. Muhklas Damaran
  8. H. Mahfudl Ma’ruf (1980)
  9. Letnan Daeng Demaan (ABRI)
  10. Letnan Sutoyo Demangan
  11. Pak Dul (Burikan nikah dapat Solo)
Kemudian pada periode kedua disusul angkatan KH. Thoriq yang sekarang menjadi badal kira-kira tahun 1987/1988. tarekat ini berkembang dan menjadi luas berawal dari guru-guru Madrasah Qudsiyyah. Dimana semua guru dan karyawan Qudsiyyah 90% menjadi pengikut tarekat ini. Sampai sekarang murid tarekat ino sekitar 10.000 yang terdiri dari Kudus, Jepara dan Pati. Ini semua atas perjuangan Habib Lutfi. Karena Habib memperjuangkan tarekat di Kudus tidak seperti di daerah lainnya. Habib memang diakui bisa ngemong masyarakat, ngemong muridnya.

Konon cerita, pada tahun 1985 ketika KH. Ma’ruf Asnawi diangkat khalifah beliau masih takut. “Mboten Bib, kulo kok dadi khalifah, kulo taseh kethoh dung pripun Bib?” Habib jawab: “Ngeten Mbah, kulo ngendiko niki mboten ngendiko piyambak, nanging instruksi saking Njeng RasulNjeng Rasul mangguihi kulo” kata Habib. Dan kemudian ia ditanya Habib: “Piye mbah Ma’ruf?”.

Secara tegas KH. Ma’ruf menyatakan ketidaksediaannya karena menganggap dirinya belum mampu. Namun lagi-lagi dawuh dari mursyid harus dipatuhi. Habib Luthfi juga menyatakan: “Kamu jadi muridku kok takut jadi khalifah, saya takut kalau dimarahi Nabi Muhammad. Nabi shadiqul mashduq  Mbah”. Akhirnya dawuh ini beliau iakan. “Ngoten Bib, ngeh sampun. Nanging sak dongi mboten wadahe, kulo ngih sami’na wa atha’na” ujar Ma’ruf tulus.

Setelah itu Habib memberikan ijazah untuk puasa 1 minggu mulai hari Kamis. Setelah selesai puasa, Mbah Ji kembali sowan ke Pekalongan dengan umbal bis. Setelah sampai sana, Habib mengenakan baju kebesaran tarekat sebagaimana Qadli yakni memakai jubah hitam dan surban hijau. Sebelumnya ia berwudlu dulu dan membaca amalan syahadat, shalwat, istighfar dan dzikir. Prosesi bai’ai dimulai dengan jabat tangan sambil duduk dengkul-dengkulan (antar lutut ketemu dan berhadapan). Kemudian Habib mulai memba’iatnya: “Ajaztuka min tariqatis syadaliyah“. Dengan tegas KH. Ma’ruf menjawab: “Qabiltu“.
Dijelaskan oleh Habib saat itu bahwa posisinya adalah membantu orang yang mau bai’at tarekat ini. “Maksude ngewangi kulo (badalku) karena  guru mursyid syughul-nya banyak” kata Habib.

Kegiatan rutin tarekat ini adalah pengajian rutin pada Jum’at Kliwon. Kegiatan lainnya adalah Haul Syekh Syadzali, dan setiap malam Selasa pengajian kitab Mafakhir, bacaan manaqib syadzaliyah, maulud malam senin sebulan sekali setiap 12 (dan tiap bulan Rabi’ul Awal dilaksanakan 12 hari).

Tarekat ini banyak diminati oleh kalangan muda. Rata-rata pengikutnya adalah guru, pedagang dan masyarakat biasa. Dalam mengirim fatihah juga tidak seperti layaknya tarekat yang lain dengan menyebut semua guru mursyid. Amalan tarekat ini sangat sederhana. Tarekat ini didapatkan Habib Luthfi dari Mbah Sayid Abdul Malik Purwokerto yang jalur sanadnya sampai Sayyidina Ali.

Kalau membaca hadlrah (kirim surat fatihah) pertama adalah ibtigha’a mardlatillah. Kedua kepada Nabi wailihi. Dan ketiga kepada Syekh Syadzali dan sadati al-thariqah wa ushulihi wa masyayikhihi ila Rasulillah. Dan keempat ke mujiz, Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar  bin Thaha bin Yahya.

Bacaan wiridnya adalah istighfar 100 kali, shalawat 100 kali, dan kalimat thayyibah 100 kali. Untuk kalimah thoyyibah dianjurkan dibaca dengan dzikir khafi (suara dalam). Bacaan tahlil: La dimulai dari puser naik sampai dada hingga mahdlatul fikri (pusat pemikiran) sehingga lupa dunyawiyah terus ditarik sampai lengan kanan. Illallah masuk ke jantung kiri. Kalau digambar seperti Lam Alif yang terbalik.

Yang perlu ditegaskan dalam tarekat ini adalah murid itu menjadi “warga tarekat”, bukan ahli tarekat. Kalau menyebut ahli nampaknya terlalu ketinggian, dan akan muncul takabbur. Karena dia merasa sudah ahli ngibadah dan mudah digelincirkan. Dalam manaqib disebutkan: Walaqad adlathu bimitsli hadzihil waqi’ati sab’ina min ahlitthariq, qad abahtu lakal muharramat.

Sabtu, 22 Oktober 2022

El-Lathief Grobogan Ikut Meriahkan Acara Qudsiyyah Putri Bersholawat



 

KUDUS-Qudsiyyahputri.com. Pengurus Ikatan Santri Qudsiyyah Putri (ISQi) menggelar acara Qudsiyyah Putri Bersholawat guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Yang berlokasi di lapangan Qudsiyyah Putri pada pukul 20.00-23.30 WIB dan dihadiri oleh sejumlah 750 santri Ponpes Qudsiyyah Putri beserta segenap para tamu undangan, Jum’at (21/10/2022).

Penyelenggaraan Qudsiyyah Putri Bersholawat ini diawali dengan iringan sholawat dari grup rebana Al-Mubarok Qudsiyyah Putri. Dilanjutkan dengan serangkaian acara, mulai dari Pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan oleh Azza (kelas 1), Pembacaan Sholawat Asnawiyyah dan Qudsiyyah yang dipimpin oleh Ulya dan Nailis (kelas 3), Pembacaan Maulid Nabi dari El-Lathief, Sambutan Ketua ISQi, dan diakhiri dengan Sambutan Pengasuh Ponpes Qudsiyyah Putri sekaligus Mauidhoh Hasanah.

Kemeriahan acara pada waktu pembacaan maulid Nabi Muhammad SAW diisi oleh grup rebana El-Lathief dari kabupaten Grobogan yang diikuti dengan khidmat dan kebahagiaan bagi semua orang yang hadir. Setelah selesainya pembacaan maulid Nabi, vocal Al-Mubarok Qudsiyyah Putri mengadakan collab bersama El-Lathief. “Bulan maulid adalah bulan dimana Rasulullah dilahirkan ke dunia. Maka dari itu, Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri mengadakan serangkaian acara. Dimulai dari acara khotmil Qur’an, pemilihan Duta santri dan sebagai puncak acara yakni Qudsiyyah Putri Bersholawat,” ucap Zulfa Kamalia, wakil ketua 1 dalam sambutannya mewakili ketua ISQi.

Bapak M.Isbah Kholili, pengasuh ponpes Qudsiyyah Putri dalam sambutan sekaligus mauidhoh hasanah beliau menjelaskan tentang cinta kepada sang kekasih, Baginda Nabi Agung Muhammad SAW. Orang yang cinta kepada kekasihnya itu harus punya bukti (minimal 3): Harus mengetahui siapa itu kekasih kita, selalu menyebut-nyebut namanya, dan kita akan selalu mengikuti apa yang dia lakukan. “Makhluk terbaik yang diutus oleh Allah SWT. adalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

Jumat, 21 Oktober 2022

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

 



Qudsiyyahputri.com-
Kamis, 20 Oktober 2022. Kandidat Duta Santri nomor 3, Khumaeroh Izzatin Nisa’ sukses mendapat tiara Duta Santri yang disematkan oleh Duta Santri sebelumnya, Endang Sulasih. Gadis yang akrab disapa Izzatin itu mengaku bahwa dirinya sedikit tak menyangka akan terpilih menjadi Duta Santri tahun 2022, lantaran merasa penampilannya kalah dari finalis lain, yang terdiri dari kelas 3 hingga 5.

Sebelumnya, Izzatin sendiri telah mengikuti Duta Santri sejak pertama kali diadakan, yakni tahun 2020 saat ia masih duduk di kelas 2 dan selalu lolos ke babak 3. Gadis berusia 14 tahun itu mengaku tak tahu apa-apa dan sangat insecure dengan ke-5 finalis lain saat itu. Bagaimana tidak? iAa adalah finalis termuda dan satu-satunya yang masih duduk di kelas 2.

Berbeda dengan tahun ini yang ke-6 finalisnya kosong dari kehadiran kelas 2. Bisa dibilang, belum ada santri kelas 2 yang lolos ke babak 3 selain dirinya.

“Rasanya ya, nyangka-nyangka ga nyangka, udah yang ketiga kali soalnya. Kata orang-orang sih, sunnah rasul,” tuturnya. (3/11)

Izzatin adalah wujud nyata dari pantang menyerah. Pasalnya, ini adalah kali ketiga gadis itu menginjakkan kakinya di panggung grand final duta santri. Sebelum tampil gadis yang telah duduk di kelas 4 itu berpesan pada seluruh penonton untuk tak berharap banyak padanya, lantaran hal tersebut yang menyakitkan menurutnya.

Gadis kelahiran Kudus, 25 Februari 2008 itu juga memberi semangat pada santri-santri kelas 2 agar dapat kembali menghiasi panggung final Duta Santri tahun depan.

“Jangan mau kalah sama senior-seniornya, fighting!!!” imbuhnya.

Rayakan Hari Santri Qudsiyyah Putri Adakan Pemilihan Duta Santri

 



 Kudus-Qudsiyyahputri.com. Kamis, 20 Oktober 2022. Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri adakan babak final Duta Santri 2022 yang bertempat di lapangan pesantren. Event yang diadakan setahun sekali sebagai puncak rangkaian acara Hari Santri Nasional tersebut terdiri dari 3 babak yang berlangsung dari tanggal 18 hingga 20 Oktober 2022.

Babak 1 atau penyisihan menyeleksi 29 peserta terpilih yang berasal dari santri-santri kelas 2 hingga 5, dengan mengujikan 4 aspek, yaitu perkenalan berbahasa asing, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan pengetahuan umum.

12 peserta yang lolos selanjutnya masuk ke babak semifinal, yang menitikberatkan pada pidato berbahasa Jawa Krama Inggil dan tambahan pengujian Bahasa Inggris, Bahasa Arab, pengetahuan umum, hafalan sesuai jurusan (tahfidz/kitab), dan membaca kitab.

Puncaknya, pada babak 3 atau final terdapat penyampaian visi-misi ke-6 finalis, unjuk bakat, dan tambahan pengujian sebagaimana yang diujikan pada babak sebelumnya.

Event yang melibatkan peserta, 5 orang penguji, beberapa staf, host, dan seluruh santri yang menonton itu berlangsung meriah, dengan kostum yang berbeda disetiap babaknya, yakni gamis untuk babak penyisihan, kreasi sarung dan baju kurung untuk babak semifinal, dan gamis bebas untuk babak final.

Senin, 19 September 2022

QUDSIYYAH PUTRI ADAKAN LATIHAN DASAR JURNALISTIK BERSAMA UIN SURAKARTA


 

Kudus-Qudsiyyahputri.com. Pada tanggal 16-18 september 2022, bertepatan pada hari Jumu’ah-Ahad,  Ponpes Qudsiyyah Putri adakan Latihan Dasar Jurnalistik (LDJ) di Villa MC Pro Kajar, Dawe, Kudus, untuk pembekalan dalam pembuatan majalah neswa edisi 3 dan pengelolaan  website Qudsiyyah Putri yang diisi oleh dosen-dosen dan mahasiswa-mahasiswa berprestasi dari UIN Surakarta.

LDJ kali ini terlihat lebih seru dan lebih mengesankan dari pada tahun-tahun sebelumnya, peserta LDJ kali ini juga cukup  berbeda, yang dimana pada tahun ini semua peserta diambil dari pengurus ISQi yang telah terseleksi dan berjumlah 35 orang.

Pada hari Jumu’ah sore setelah jama’ah ashar, semua peserta LDJ berkumpul di depan kantor untuk persiapan berangkat ke Villa MC Pro. Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan menggunakan angkot, akhirnya mereka semua sampai ditempat yang dituju. Pada malam harinya mereka melakukan evaluasi majalah neswa edisi 2, dan pengarahan oleh pengasuh Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri tentang konsep majalah neswa edisi 3 dan website Qudsiyyah Putri, setelah selesai mereka semua beristirahat.

Di tengah malam, pemateri-pemateri dari UIN Surakarta telah sampai di Kudus, dan pada pagi harinya semua peserta berkumpul dan berkenalan dengan para pemateri. Setelah perkenalan mereka memasuki materi yang pertama, jumlah materi pada LDJ kali ini ada 9 materi, mereka menyelesaikan 9 materi tersebut selama 2 hari 1 malam. Di tengah-tengah materi mereka juga melakukan ice breaking, agar tidak terlalu sepaneng, mereka juga melakukan beberapa praktik agar saat terjun langsung di masyarakat mereka tidak kaget, dan bisa dievaluasi oleh  kakak-kakak dari UIN Surakarta. Semua kegiatan berjalan dengan lancar, santai, tetapi memahamkan.