Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Info Pendaftaran Online Santri Baru

Tata Cara dan Langkah Pendaftaran Online

KHR. Asnawi Kudus

KHR. Asnawi Muassis Madrasah Qudsiyyah dan Pendiri NU

Ngaji Online Ponpes Qudsiyyah Putri

Ngaji Online rutin setiap ba'dal maghrib selain malam jumu'ah streaming via fb dan YT Qudsiyyah Putri

Profil Ponpes Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum Ponpes

Profil MTs Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum MTs Qudsiyyah Putri

Sabtu, 12 September 2026

Memperteguh Eksistensi Pesantren di tengah Arus Modernisasi

Di tengah derasnya arus zaman yang kian menggerus nilai-nilai moral dalam kehidupan, masih ada pondok pesantren yang teguh mempertahankan nilai-nilai tersebut. Sebuah lembaga pendidikan yang telah lama berdiri ini terus menjaga jati dirinya sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan sekaligus pembentuk akhlak generasi penerus bangsa. Di lingkungan pesantren, para santri tidak hanya dibekali ilmu keagamaan, tetapi juga diajarkan bagaimana cara menyikapi berbagai persoalan di tengah masyarakat dengan bijak dan berlandaskan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh pesantren. Santri dapat  disebut sebagai generasi istimewa yang tumbuh dengan keseimbangan antara kecerdasan akal dan keteguhan akhlak.   

Tim redaksi Majalah Neswa berkesempatan mewawancarai K.H. Aniq Muhammadun yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Pakis, Tayu, Pati. Kiai asal Pati ini dikenal sebagai kiai ahli Bahtsul masail. Selain mengabdikan diri di dunia pesantren, K.H. Aniq Muhammadun juga aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Dalam wawancara tersebut, Kiai Aniq memberi pemahaman bahwa secara pemahaman kita, santri adalah orang yang pernah nyantri di pesantren, sedangkan makna Pesantren adalah lembaga pendidikan yang dimana ada santri yang di asuh oleh kiai. 


Sistem pengajaran pesantren telah memiliki akar sejarah sejak masa Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melalui kelompok Ashabus-Suffah, yaitu para sahabat yang tinggal di serambi Masjid Nabawi untuk belajar langsung kepada Nabi. Kelompok tersebut rata-rata berasal dari kaum Muhajirin yang nyantri kepada Nabi. Ketika Nabi shalat, mereka mengikutinya, begitu juga ketika Nabi mengaji dan berjihad, mereka pun mengikutinya. Pola pendidikan berbasis keteladanan ini kemudian diwarisi para ulama salaf dan berkembang menjadi sistem pesantren. 


Pesantren di zaman sekarang juga telah diakui dunia sebagai lembaga pendidikan yang berhasil mencetak generasi yang layak menjadi pemimpin bangsa. Karena di pesantren tidak hanya dididik dengan ilmu namun juga dengan al-amal bil ilmi. Di pesantren dikenal konsep ta’dib, yaitu pengamalan ilmu dalam perilaku sehari-hari. Hal ini membedakannya dari sekolah umum yang biasanya hanya menekankan ta’lim (pengajaran ilmu) semata. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter melalui ta’lim dan tarbiyah secara seimbang, sehingga menghasilkan lulusan dengan akhlak dan keilmuan yang terintegrasi.


Dari penuturan Kiai Aniq dapat ditarik kesimpulan bahwa arti santri sebenarnya adalah orang yang benar-benar di tarbiyah langsung oleh kiai. Tidak termasuk santri kalong yang hanya mengaji kemudian pulang (tidak bermukim di pondok pesantren). 


Ajaran Pesantren melalui karakter kiai, pengajaran ilmu Fikih, Tasawuf  dan Akhlak

“Santri merupakan cerminan dari pesantren itu sendiri, Pondok pesantren dapat diibaratkan sebagai sebuah kerajaan besar yang memiliki karakter dan ciri khas tersendiri.” karakter santri dapat bersumber dari keteladanan kiai. Sikap kiai baik yang khusyuk, sederhana, maupun nyentrik secara tidak langsung akan diwariskan kepada santrinya melalui proses pendidikan dan keteladanan sehari-hari. 


Di zaman sekarang beberapa pesantren mengalami transformasi seperti berubah menjadi boarding school. Zaman dulu santri mengaji dengan kiai yang benar-benar kiai, sehingga melahirkan  santri yang alim dan berakhlak. Kini, tidak jarang kiai menyerahkan kegiatan pondok kepada pengurus dan tidak selalu mendampingi santri-santrinya. Perubahan ini dapat mempengaruhi hasil pendidikan santri. Melihat kenyataan yang ada, Kiai Aniq menyarankan agar kiai di zaman sekarang tetap tekun memberikan teladan yang baik sebagai bagian penting dari proses Pendidikan. 


Santri kalangan Nahdliyin hingga kini masih berpegang teguh pada karakter santri salaf. Pondok Pesantren Salaf menitikberatkan pendidikan ilmu agama yang disertai pembentukan akhlak.

 

Banyak Masyarakat pada zaman sekarang yang masih sering menganggap santri gaptek (gagap teknologi) karena mereka melihat bahwa santri hanya belajar ilmu  agama dan akhlak saja. Kenyataannya, di samping mengajarkan berbagai fan ilmu seperti fikih, tasawuf,  akhlak, seperti kitab As-Sullam at-Taufiq dan Nashoihul ‘Ibad, banyak pesantren juga mengajarkan seni dan teknologi. 


Pengasuh Ponpes Mambaul Ulum ini juga menegaskan peran utama pesantren sebagai Lembaga pembentuk karakter sosial santrinya. Dalam kehidupan sosial, pesantren membekali santri dengan pendidikan akhlak, seperti pemahaman tentang Huququs Shuhbah (hak pertemanan), Huququl Walidain (bakti  orang tua), dan Huququl Jiran (hak tetangga), tujuannya agar hubungan kita dengan sesama manusia dapat terjalin dengan akrab dan penuh rasa saling menghormati. “Karena di  zaman modern, masalah yang berkaitan dengan akhlak seperti perilaku dalam bermasyarakat perlu di sikapi dengan akhlak,” terang beliau. Begitupun dengan masalah halal haram ataupun mu’amalah maka di sikapi dengan fikih. Meskipun demikian, tingkat pemahaman santri terhadap fan tersebut cukup beragam. Terdapat santri yang mampu menyerap pelajaran dengan baik, sementara sebagian lainnya masih memerlukan pendalaman lebih lanjut. 


Strategi Pesantren dalam menyeimbangkan Ilmu dan Akhlak

Dalam wawancara tersebut, K.H. Aniq Muhammadun beberapa kali menegaskan pentingnya ilmu dan akhlak. Beliau menuturkan, “Yang di rasa penting itu ilmu dan akhlak. Kedua-duanya itu sangat penting.” Dalam kehidupan pesantren memang tidak bisa lepas dari berbagai fan yang telah dijelaskan sebelumnya. Sebagai  santri, kita dapat mempelajari ilmu dari kitab kuning yang biasa disebut dengan “Trio Fathu” (Fathul Qorib, Fathul Mu’in dan Fathul Wahab) agar santri dapat memahami Muamalah ma'a Allah (hubungan dengan Allah) seperti bab thaharah, haji, shalat, puasa dan lain sebagainya, dan Muamalah ma'a makhluq (hubungan dengan sesama makhluk dan alam) seperti bab budak dan bab nikah, keduanya harus seimbang agar hidup menjadi lebih damai dan berkah.  Disamping itu,  Santri juga harus mempelajari akhlak seperti dari kitab Sullam at-Taufiq dan kitab Nashoihud Diniyyah, untuk menjaga nilai-nilai akhlak. “Terkadang ada santri yang pintar baca  kitab tetapi tidak  bisa menyikapi masalah yang terjadi di masyarakat karena  memang hal itu tidak  mudah,” jelas beliau. Menanggapi masalah ini, Pondok pesantren menghadirkan Bahtsul Masail sebagai metode pengajaran dalam menyikapi masalah dengan cara fikih juga dengan menganut cara ‘ibarotul ulama (pendapat ulama).

Kiai Aniq kembali mengingatkan bahwa “Pesantren tidak hanya mengajarkan teori, tetapi menanamkan ilmu dan akhlak melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.” Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

 إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَکَارِمَ الأَخْلَاق (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak), jadi pesantren bukan hanya mengajarkan ilmu tapi juga makarimal akhlak, membentuk Akhlak mulia dalam diri santri. Untuk mewujudkan makarimal akhlak itu sendiri, pesantren mengajarkan kitab akhlak dan tasawuf supaya santri tidak hanya bagus secara ilmiah sedangkan akhlaknya rusak. 

Dalam khazanah Islam, terdapat dua disiplin ilmu  yang saling melengkapi, yaitu fikih dan tasawuf. Sebagaimana ungkapan Imam Malik, 

مَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّفْ فَقَدْ تَفَسَّقَ، وَمَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّهْ فَقَدْ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَحَقَّقَ.

yang menegaskan bahwa keseimbangan antara fikih dan tasawuf akan mengantarkan seseorang pada kebenaran yang hakiki. Fikih mengatur aspek lahiriah dalam hukum dan tata cara ibadah, sedangkan tasawuf menata dimensi batin melalui proses tazkiyatul qalb (penyucian hati). Dengan demikian, Islam yang haqiqi adalah Islam yang tertata lahir dan batinnya. Dalam setiap ibadah yang bersifat ta‘abbudiyah (penghambaan murni), idealnya tidak terdapat campur tangan haddun nafsi (kepentingan pribadi), sehingga esensi penghambaan benar-benar terwujud secara utuh dan seimbang.


Apabila terdapat santri yang tidak menerapkan ajaran yang telah diajarkan di pondok pesantren, hal tersebut tidak dapat sepenuhnya disalahkan atau dibebankan kepada pihak pesantren. Tanggung jawab tersebut merupakan kesalahan individu yang bersangkutan. Adapun tugas pesantren adalah memberikan pendidikan dan menanamkan nilai-nilai kebaikan, sedangkan hasil akhirnya kembali bergantung pada pribadi masing-masing santri.

Ajaran orang tua atau guru kepada anak

Menurut Kiai Aniq Santri masa kini juga harus dididik secara universal. Guru maupun orang tua perlu mendidik anaknya sesuai zaman anaknya. Mendidik anak sesuai zaman sudah di terangkan dalam hadist dari Ali bin Abi Thalib R.A. 

“عَلِّمُوْا اَوْلاَدَكُمْ فَإِنّهُمْ سَيَعِيْشُوْنَ فِى زَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ”.  Kalamullah pun bersifat universal, sehingga bisa diterapkan di mana saja dan kapan saja. Apapun yang terjadi, seseorang harus tetap berpegang pada ajaran agama yang telah ditentukan. Jika terdapat kondisi atau kebiasaan yang berbeda, maka dapat menyesuaikannya dengan petunjuk Al-Qur’an. Seringkali, ketika suatu kebiasaan menyimpang dari ajaran Al-Qur’an tetapi yang disalahkan justru Al-Qur’an, padahal seharusnya yang perlu dikoreksi adalah kebiasaan tersebut agar selaras dengan ajaran agama. Misal, praktik “Female Breadwinner” di mana perempuan bekerja sementara laki-laki tinggal di rumah dan melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan perempuan merupakan hal yang bertentangan dengan ajaran agama dan sepatutnya dihindari. Segala hal semacam ini harus disesuaikan dengan Al-Qur’an agar tetap berada di jalan yang benar. Tugas mendidik anak itu mengajarkannya tentang agama yang benar dan kuat sehingga anak-anak tetap berpegang teguh pada agama meskipun di zaman yang penuh perubahan dan pengaruh negatif sekarang.

Harapan untuk seluruh santri


Usai memberikan semua jawaban, Kiai Aniq menitipkan harapan besar kepada seluruh santri. Di antaranya, karakter yang diajarkan dalam ilmu akhlak dan tasawuf harus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, santri perlu berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama yang baik dan selaras dengan hukum fikih serta akhlak, karena di dalam fikih terdapat pembahasan tentang iriyyah. Memang tidak mudah hidup bermasyarakat; santri dituntut untuk mampu membaca situasi dan kondisi. Sebisa mungkin, kita harus menghindari qoul yang dapat menimbulkan hal-hal yang tidak baik, dan menggunakan qoul yang telah diakui kebenarannya oleh para ulama.


Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh bersama teknologi, santri hari ini memikul dua tanggung jawab sekaligus: menjaga warisan keilmuan sekaligus beradaptasi dengan perkembangan digital. Di era 2026 yang ditandai dengan meluasnya informasi dalam hitungan detik, ruang digital menghadirkan beragam narasi yang kerap kali sulit dibedakan kebenarannya. Dalam Konteks keagamaan, kondisi ini dapat menyesatkan Masyarakat ketika mendapat hukum dari sumber yang tidak terpercaya. 

Menanggapi realita tersebut, Tim Redaksi Majalah Neswa menghadirkan K.H. Muhammad Yusuf Chudlori sebagai narasumber untuk memberikan pandangan komprehensif mengenai peran santri dalam merespons tantangan era digital. Gus Yusuf, sapaan akrabnya adalah ulama, budayawan, politikus, sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang.

Sebelum membahas perspektif digitalitas, beliau terlebih dulu menjelaskan bahwa “Pesantren itu tempat dimana terdapat mu’allim wal muta’allim, guru dan santri. Ada proses belajar mengajar. Meski judulnya pesantren kalau tidak ada santri ya tidak bisa di sebut pesantren.” Sedangkan pengertian secara fisik sebagaimana yang telah disebutkan Dr. Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya, bahwa pesantren itu tempat yang memiliki: asrama, santri, musholla/masjid, dan pengajaran kitab kuning.

Dalam pengajaran pesantren, harus ada tafaqquh fid din sebagai tujuan utama. Baik itu dalam ulumul Qur’an, ulumul Fiqh, ulumul Hadist, dan ulumul Usul. 

Selain mengajarkan ilmu pengetahuan, pesantren juga menanamkan pembentukan karakter dan moral santri. Tugas pokok pesantren itu ada dua, membentuk orang yang berilmu dan membentuk santri yang berkarakter. Sebagaimana al-ulama’ warasatul anbiya’. Warisan ulama’ itu ada dua, Pertama itu Ilmu, dimana ilmu itu hanya bisa diperoleh dengan belajar. Sebagaimana dalam nadhoman Wafi Ladunni Laduni qalla, karena sedikit sekali orang yang mendapat ilmu Ladunni (dengan tanpa belajar). 

Warisan ulama’ Kedua yakni Al-Hal (karakter). Karakter hanya bisa dibentuk dengan subbah (muasarah/bergaul). “Kenapa kita harus mondok, siang malam kita tidak boleh pulang? Karena itu dalam rangka membentuk karakter. Dari mulai kita bangun tidur, siang, sore, sampai tidur lagi,” tutur beliau dengan penekanan dan menggugah kesadaran.

Seorang anak yang awalnya ndablek, ketika mereka berkumpul dengan santri yang rajin, tahu tata krama, tawadlu’ maka lambat laun ia juga akan ikut menjadi anak yang baik. “Sifat ilmu itu sebagaimana air.” Air itu akan mengalir mencari tempat yang lebih rendah. Maka ilmu juga akan mencari anak-anak yang tawadlu’. Pesantren tidak hanya mencerdaskan akal fikiran santri, tetapi juga membentuk karakter moral santri.


Di antara keistimewaan lembaga pendidikan pesantren adalah keberadaannya yang telah ada jauh sebelum lahirnya NKRI. Nahdlatul Ulama’ dapat dikatakan sebagai pesantren besar, dan pesantren sendiri merupakan Nahdlatul Ulama’ kecil. Jejak historis menunjukkan bahwa santri merupakan bagian integral dari perjuangan kemerdekaan. Salah satu peristiwa yang utama adalah Resolusi Jihad yang diserukan oleh para ulama dan kiai pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut kemudian menjadi landasan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang puncaknya terdapat dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Resolusi Jihad menjadi bukti nyata bahwa para ulama dan santri turut mengambil peran penting dalam mempertahankan kedaulatan bangsa dari upaya penjajahan kembali. Dapat dikatakan NKRI harga mati , karena kita ikut mendirikan dan memperjuangkan negara Indonesia ini dengan sepenuh hati.


Dalam peradaban global yang terus mengalami perubahan, Lembaga pendidikan Islam tertua ini juga tampak menunjukkan wajah yang berbeda. Sebagaimana maqalah


 المُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيدِ الْأَصْلَحِ

Artinya “pesantren harus tetap terbuka dengan zaman tanpa meninggalkan tradisi lama yang baik.” Dulu, pesantren kerap dicap sebagai tempat kumuh dan santrinya penyakitan. Persepsi seseorang belum sah menjadi santri bila belum terkena gudik karena menganggap bagian dari proses menuntut ilmu  harus mulai ditinggalkan. Pondok di kata sebagai tempat kekerasan karena fenomena guru yang memukul santrinya dengan tuding juga perlu ditelaah lebih baik. Dewasa ini, pesantren menunjukkan dirinya sebagai tempat menuntut ilmu dengan lingkungan yang bersih dan suci. Karena prinsipnya sebagai tempat yang tidak harus mewah tapi wajib bersih, banyak pesantren hari ini yang tidak hanya peduli dengan kesehatan fisik tapi juga kesehatan mental.  Menelisik lebih dalam, kini tidak banyak ditemukan guru yang berani memukul santrinya. Pandangan berbeda yang diterima santri menjadi pengaruh besar dalam pembelajaran. Mungkin dulu dianggap sebagai barokah, tapi sekarang dikatakan sebagai zero toleransi. Gojlokan misalnya,  dengan mengganggu santri baru sampai menangis di era sekarang juga perlu ditinggalkan pesantren. Antar santri tidak boleh melakukan perundungan (bullying). Sebagai generasi yang tumbuh dengan khazanah keilmuan seorang santri harus mampu membedakan perbedaan makna dari kholqon dan khuluqon.  Kholqon memiliki makna asal kejadian dari Allah. Termasuk di dalamnya ciri-ciri fisik seperti hitam, putih, tinggi, pendek, keriting maupun lurus. Inilah yang tidak boleh dihina dan dicela, karena sejatinya ciptaan dari sang Khaliq. Berbeda dengan khuluqon  dengan artian akhlak. Guru dapat mengingatkan santrinya jika mereka berbicara kasar atau tidak sopan. Perkataan guru “Heh, lambemu,” itu artinya mengingatkan santri agar berkata yang lebih baik tidak bisa dimaknai dengan menghina fisik. 

Di samping  terkenal dengan kentalnya ilmu agama, banyak juga isu-isu miring yang didengar khalayak umum mengenai pesantren. Ibarat ikan di dalam aquarium yang di mana masyarakat luar bisa melihat seluk-beluk pesantren. Sebuah isu pelecehan di pesantren, berita guru yang cabul dengan santrinya hingga bullying banyak didengar oleh orang luar. Dengan sebuah fakta yang dapat menurunkan citra pondok pesantren, pesantren sendiri dapat mengangkat kembali citranya dengan menyembuhkannya bukan menutupinya. Salah satu langkah mengobatinya yakni dengan mengajarkan kewaspadaan dan keberanian kepada santri ketika ada temannya yang mulai menyukainya baik lawan jenis maupun sesama jenis serta saat muncul tanda-tanda perundungan. Pesantren juga perlu membuka ruang bercerita langsung dengan kiai melalui box massage seperti yang diterapkan di pondok pesantren yang diasuh narasumber dan di Qudsiyyah Putri. Menurut beliau, kita tidak perlu debat di media sosial dengan melayani hal-hal yang tidak jelas, tapi kita harus perbaiki dari dalam untuk mengembalikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa pesantren peduli terhadap kesehatan mental dan fisik. Tradisi buzzer yang sudah marak di media sosial perlu diimbangi dengan pembuktian bahwa pondok pesantren peduli dengan kedua hal tersebut (kesehatan mental dan fisik). “Jadi awak dewe iki mlaku bener wae di enteni salahe, apalagi kita salah wah mereka bersorak-sorak,” terang beliau. Kesimpulannya, banyak yang suka pesantren namun tidak sedikit pula yang membencinya, jadi harus berhati-hati mengingat bahwa pesantren ibarat seperti ikan dalam aquarium yang tidak bisa ditutup-tutupi dari pandangan luar.

Gus Yusuf dapat disebut kiai visioner. Beliau selalu mendorong santri-santri untuk tetap berpandangan ke depan. Secara tersirat beliau menyampaikan  bahwa perkembangan perangkat digital dan kecerdasan buatan tidak perlu dipandang sebagai ancaman bagi dunia pesantren. Menurutnya, teknologi pada hakikatnya adalah wasilah atau sarana yang berasal dari Allah yang dihadirkan melalui perantara manusia. Karena itu, umat Islam khususnya untuk pesantren tidak seharusnya menjauhi teknologi, tetapi justru memanfaatkannya untuk kemaslahatan. Menyoroti fenomena masyarakat yang kini sering bertanya kepada Artificial Intelligence (AI) tentang berbagai persoalan, termasuk hukum syariat adalah sebuah tantangan dan peluang bagi santri masa kini.  Dakwah santri hari ini tidak cukup hanya dari mimbar ke mimba lain, tetapi juga perlu merabah ke media digital. Dengan memahami belajar komputer atau bahkan belajar coding, santri dapat berkontribusi mengisi ruang digital dengan menyebarkan ilmu agama yang dipelajarinya di pesantren. Sebagai contoh, Gus Yusuf menyebutkan bahwa hasil Bahtsul Masail seharusnya tidak berhenti di ruang diskusi saja, tetapi  perlu dipublikasikan melalui berbagai media digital agar bisa diakses oleh masyarakat luas. Menurut beliau, jika santri terus-menerus berdakwah melalui tulisan dan semacamnya di  media digital, maka lambat laun hal itu akan mempengaruhi algoritma di internet. Dengan begitu, ketika masyarakat mencari jawaban keagamaan secara daring, mereka akan menemukan pandangan Islam yang berakar pada sumber terpercaya. Sebaliknya, jika para santri enggan menulis atau berdakwah di media tersebut, maka jangan heran apabila masyarakat yang bertanya kepada “AI" tentang agama justru menemukan jawaban yang cenderung berasal dari perspektif lain, seperti paham Wahabi. Masalah ini dapat dikatakan bukan semata kesalahan teknologi, melainkan juga akibat dari kurangnya kontribusi santri dalam mengisi ruang digital dengan pengetahuan keislaman yang mereka miliki. 

Selain itu, santri juga harus menjadi contoh bagi orang lain dalam melakukan “saring sebelum sharing” di internet. Dengan berpegang pada prinsip tabayyun, santri harus memastikan bahwa apa yang mereka bagikan itu tidak hanya populer, tetapi juga benar dan bermanfaat bagi kebaikan masyarakat  


Ada sebuah maqolah ulama’:

على العاقل أن يكون عارفا بزمانه مستقبلا في شأنه عارفا بربه


Santri harus paham dengan situasi pada zamannya, menjadi pribadi yang tidak asal melangkah, melainkan selalu memperhitungkan dampak jangka panjang demi masa depan yang lebih matang dan tetap mengenal tuhannya dengan benar dan mendalam, maksudnya dalam perkara akidah dan tauhid tidak boleh kita geser. Harus tetap dijaga dan dijalani dengan istiqamah.


Bagi banyak santri dan alumni, pesantren bukan sekadar tempat belajar agama. Kebersamaan menjadi salah satu hal yang paling dirindukan oleh kiai asal Magelang ini. Di sela-sela kesibukannya, Gus Yusuf sering mengajak teman-temannya untuk sekadar ngopi bersama, atau yang paling favorit makan sambal terong dengan lesehan. Sebagai santri alumni Lirboyo, setiap Kamis Legi beliau selalu ikut ngaji kitab Al-Hikam di sana. Hal ini sebagai upaya beliau untuk men-charge kembali semangat kesantriannya. supaya koneksi santri tidak terputus dengan guru, beliau menegaskan bahwa halaqah itu ada dua yakni halaqah batin dengan cara mengirimkan Surat Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada guru-guru dan halaqah lahir, yakni dengan cara sowan kepada guru-guru beliau. “Nek ora iso selapan pisan ya sebulan sekali,” tutur beliau. Menurut beliau, bagi alumni atau santri yang berada di luar Jawa juga bisa datang setengah tahun sekali atau setahun sekali, yang penting tetap ada. 

Pada akhir wawancara, beliau menyampaikan harapan terbesarnya supaya pesantren tetap lestari menjaga peninggalan para masyayikh. Kendati demikian bukan berarti meninggalkan zaman. Pesantren harus tetap adaptif, tanggap, transformatif serta cepat dalam mengikuti perkembangan zaman. Dengan begitu, pesantren akan tetap dicintai dan dibutuhkan oleh masyarakat sampai kapanpun. Beliau menuturkan bahwa jika orang tua hanya menginginkan anaknya pintar, mungkin tidak harus di pesantren. Namun, jika ingin anaknya pintar sekaligus memiliki akhlak yang baik, maka pesantren adalah jawabannya.


PULL QUOTE 

“Yang di rasa penting itu ilmu dan akhlak. Kedua-duanya itu sangat penting.” 


Pondok pesantren dapat diibaratkan sebagai sebuah kerajaan besar yang memiliki karakter dan ciri khas tersendiri


“Teknologi saat ini dapat memberikan peluang besar bagi santri, ibarat gelas kosong tinggal mau mengisi atau tidak.”



Reporter:

Alfaina Rosyada (5 Tahfidz B)

Elmaba Qirani (5 Kitab)

Nadya Shofwatil Haq (5 Tahfidz C)

Lutfiana Ulfa (5 Tahfidz A)

Kanila Khoirun Naili (5 Tahfidz B)

Nadhifa Luthiyatunnisa’ (4 Tahfidz A)

Adzkia Hanun Mumtaza (3 Kitab A)








PROSPEK PESANTREN DALAM MENJAGA MORAL BANGSA


Nyai Hj. Nur Hannah Zamzami



Pesantren merupakan Lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Kata “pesantren” sendiri  mempunyai makna “asrama tempat murid atau santri belajar mengaji”. Sebagai salah satu Lembaga pendidikan, pesantren mempunyai peran yang sangat krusial dalam membentuk karakter santri dan menjaga moral anak bangsa di Tengah perkembangan zaman. Saat ini, arus perkembangan zaman membawa banyak pengaruh bagi manusia. Baik pengaruh negatif maupun positif. Hal tersebut menjadi salah satu faktor utama pesantren untuk berperan sebagai sarana penjaga moral bangsa di Tengah arus zaman.

Untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif, tim redaksi Majalah Neswa edisi 6 berkesempatan untuk mewawancarai Ibu Nyai Hj. Nur Hannah Zamzami, ulama putri asal kediri yang merupakan pengasuh pondok pesantren Al-Baqarah Lirboyo.


Beliau menjelaskan bahwa pesantren mempunyai peranan yang sangat penting di era saat ini. Dapat dikatakan pesantren, karena santri tidak hanya diberi pelajaran saja namun juga dididik. “Sebetulnya kata ‘diajari’ dengan kata ‘dididik’ memiliki makna yang berbeda. ‘diajari’ memiliki makna di beri Pelajaran tanpa di beri contoh. Misalnya, Guru bidang pertanian menyampaikan materi kepada murid tanpa menjadi seorang petani. Sedangkan kata ‘dididik’ memiliki makna di beri materi sekaligus di beri contoh. Misalnya, Kyai di pesantren ketika mengajarkan santrinya tentang tata cara berwudhu maka kyai nya pun juga ikut berwudhu. Begitu juga sama ketika mengajarkan santrinya shalat jamaah maka kyainya menjadi imam shalat.” tutur beliau dengan lugas.


Keunggulan pengajaran pesantren

Kelebihan pesantren yang tidak bisa di temukan di luar adalah pembentukan karakter melalui pendidikan dan akhlak. Tidak ada ceritanya di pesantren, terutama pesantren salaf itu santri melakukan aksi demo terhadap kyai nya. Karena santri telah dididik untuk selalu berhusnudzon kepada guru bagaimanapun tingkah laku guru itu sendiri. Hal itu terjadi karena pesantren tidak menutup kemungkinan bahwa seorang guru tetaplah manusia yang pasti memiliki salah. Di pesantren para santri juga di ajarkan untuk berdoa agar Allah menutup aib-aib guru dari pandangan kita, supaya tidak hilang keberkahan ilmunya. Karena ketika santri mengetahui aib gurunya, ada kemungkinan mereka akan membicarakan guru tersebut di belakangnya. Perbuatan itulah yang dapat menghilangkan keberkahan ilmu pada diri santri.


Di pesantren, seorang guru hanya dituntut untuk mengajarkan, menyampaikan ilmu dan memberikan uswatun hasanah (contoh yang baik) kepada santri. Seperti bagaimana cara melakukan ibadah secara istiqomah dan tata krama. Selebihnya persoalan apakah santri tersebut paham atau tidak merupakan urusan Allah. Seorang guru tidak bisa memintarkan anak orang lain, akan tetapi hanya Allah yang dapat memberi pemahamana tersebut dengan membuka pintu hidayah dan futuh anak tersebut. Tidak selamanya memberi Pelajaran itu berupa mauidlah atau nasehat, tetapi dengan mengamati tingkah laku guru juga merupakan bentuk ajaran guru kepada santrinya. “Bahkan metode pembelajaran seperti itu lebih mudah diimplementasikan oleh santri daripada hanya diberikan teori tanpa contoh dari guru,” Tutur Ummi Hannah.


Kyai dan Bu Nyai hanya ditugaskan untuk memberi teladan yang baik. Begitu pula dengan orang tua kita, pembentukan karakter anak zaman sekarang tidak hanya bergantung di pesantren saja, namun faktor dominan pembentuk karakter anak bertumpu pada peran orang tua. Dimana ketika seorang anak melihat perilaku orang tuanya ia akan lebih mudah mengikutinya. Pepatah mengatakan “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” Maka benar bahwa tingkah laku anak lebih banyak dipengaruhi oleh didikan orang tua.


Pencetak generasi unggul

Sebagian orang beranggapan bahwa pesantren adalah pendidikan yang tertinggal zaman. Akan tetapi hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurut Ummi Hannah sendiri, pendidikan pondok pesantren justru memiliki peluang yang besar dalam mencetak generasi yang lebih unggul. Terbukti dengan  banyaknya lulusan pesantren yang sudah menjadi wakil rakyat seperti gubernur dan sebagainya. Di sisi lain, banyak guru di pesantren sering memberi dawuh “Kalau memondokkan anak itu tidak perlu khawatir besok makan apa atau akan jadi apa, sejatinya ketika kita berkhidmat pada ilmunya Allah itu sama seperti kita berkhidmat pada Allah. Menjadi budak manusia saja diberi makan, apalagi menjadi hamba Allah”. “Peluang yang didapat sangat besar, tergantung bagaimana keyakinan kita untuk berkhidmah pada ilmunya Allah. Di pesantren santri diarahkan untuk berniat khidmah pada ilmu, dengan cara mencari ilmunya Allah kemudian mengamalkannya.” tutur beliau dalam penjelasannya.


Memperkuat Peran Santri Lewat Digitalisasi Dakwah

Di tengah perannya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Baqoroh Putri, Ummi Hannah juga dikenal sebagai sosok yang mendukung pemanfaatan teknologi untuk dakwah. Namun, pada praktiknya Ummi Hannah hanya menggunakan media sosial WhatsApp. Adapun unggahan yang beredar di media sosial lain seperti Instagram, Facebook, dan sebagainya merupakan unggahan dari para alumni atau para pengurus yang mengelola akun resmi Pondok Pesantren Al-Baqoroh Putri. Ummi Hannah mendukung anak-anak muda, para pendakwah, atau siapa pun yang memanfaatkan media sosial sebagai ladang dakwah. Diakui atau tidak, pada zaman sekarang masyarakat lebih sering membuka telepon genggam daripada membuka Al-Qur’an atau kitab. Oleh karena itu, dakwah melalui media sosial dinilai lebih mudah diakses oleh berbagai kalangan. Dan untuk mengimbangi  media sosial agar tidak hanya dipenuhi oleh konten kemaksiatan, maka menampilkan hal-hal yang baik tentu jauh lebih bermanfaat daripada membiarkan kemaksiatan ditampilkan secara nyata dan terbuka.


Peran perempuan dan Rahasia menghafal ala Ummi Hannah

Ummi Hannah, sosok inspiratif bagi perempuan berkat perannya sebagai pengasuh dari salah satu pondok terbesar di Indonesia dan seorang Hafidzah dengan hafalan yang Mutqin. Dalam wawancara kami, beliau memberikan penjelasan lugas  mengenai peran seorang perempuan.

Dalam konteks pendidikan, perempuan memiliki peran sebagai pendidik untuk generasi berikutnya. Maka pendidiknya harus terdidik terlebih dahulu. “Mendidik satu perempuan sama dengan mendidik satu generasi.” Tutur Ummi Hannah. Perempuan memiliki peran yang besar dan tidak dapat dipandang sebelah mata. Allah SWT menganugerahkan kepada perempuan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh laki-laki, khususnya dalam proses kehamilan, melahirkan, menyusui, serta mendidik anak yang penuh dengan pengorbanan dan kesabaran. Dalam ajaran Islam, setiap kesulitan yang dijalani perempuan dalam mengasuh dan mendidik anak memiliki nilai pahala yang besar, bahkan dinilai setara dengan jihad meskipun tidak terlibat langsung dalam peperangan. Selain itu, peran perempuan dalam mengurus rumah tangga dan membantu keluarga, ketika dijalani dengan keikhlasan demi meraih ridha suami, juga bernilai ibadah, sebab ridha Allah SWT bergantung pada ridha suami. Keteladanan ini tercermin dalam kisah Siti Asiyah yang memperoleh kemuliaan di sisi Allah SWT meskipun hidup sebagai seorang istri Fir’aun.

Banyak sekali tokoh perempuan yang bisa menjadi panutan bagi perempuan di zaman sekarang. Mengidolakan seseorang itu tidak harus mengikuti semua tingkah lakunya selama hal itu tidak dilarang agama. Misalnya mengidolakan Sayyidah Fathimah, maka kita tidak harus bercadar untuk mengikuti beliau. Namun hiduplah sebagai Sayyidah Fathimah di zaman sekarang tanpa meninggalkan syariat-syariatnya


Kemudian Ummi Hannah juga turut memberikan rahasia beliau dalam menghafal Al-Qur’an. Keseriusan menjadi kunci utama beliau  dalam menentukan arah keberhasilannya mengahafal Al-Qur’an. Menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat, penawar, dan pedoman hidup membutuhkan kesungguhan serta kejelasan tujuan. Seseorang harus mampu memprioritaskan hal-hal yang menjadi tujuan utamanya agar tidak teralihkan oleh kesibukan yang kurang bermanfaat. Prinsip ini sejalan dengan kaidah الِاشْتِغَالُ بِغَيْرِ الْمَقْصُودِ إِعْرَاضٌ عَنِ الْمَقْصُودِ, yang menegaskan bahwa kesibukan terhadap sesuatu di luar tujuan utama dapat menyebabkan seseorang berpaling dari tujuan tersebut. Hal ini tampak dalam aktivitas keseharian, seperti program kajian Al-Qur’an ba’da subuh yang tidak akan berjalan maksimal tanpa kesadaran untuk meninggalkan hal-hal yang tidak penting. Dalam pesannya, Ummi Hannah menekankan pentingnya memprioritaskan tujuan agar cita-cita dapat tercapai. Ia juga mengingatkan bahwa ilmu tidak dapat diraih dengan kemalasan, sebab ilmu tidak diwariskan, melainkan diperoleh melalui kesungguhan dan kemauan untuk belajar. Pesan tersebut dikuatkan dengan Q.S. Maryam ayat 12 yang menegaskan bahwa ilmu harus dicapai dengan semangat dan tekad yang kuat, serta disertai cita-cita yang tinggi.


Di akhir pemaparannya, Ummi Hannah menyampaikan dua pesan penting yang patut menjadi perhatian santri putri:

1. Bijak dalam bermedia sosial. “Pergunakanlah media sosial secukupnya, karena tidak semua harus diunggah di media sosial,” pesan beliau. Biarlah santri putri diketahui oleh khalayak umum sebagai orang yang rajin mengaji, primpen (terjaga), menutup aurat, berbakat dibidang yang baik. Tidak perlu menunjukkan ke semua orang kalau ia memiliki tubuh yang bagus dan wajah yang cantik. Meskipun ia telah keliling sampai ke ujung dunia, tidak semua harus diunggah di media sosial. Karena terkadang bukan kita yang jahat, namun nikmat yang kita terima menyakiti orang lain dan itu bisa menjadi penyakit ‘ain. Bahkan jika orang lain mempunyai sifat hasad kepada kita bisa saja dia menyakiti diri kita sendiri.


2. Memelihara rasa malu. 

“Milikilah rasa malu yang di zaman akhir ini sudah sangat berkurang terutama pada anak-anak remaja masa kini,” tutur beliau. Syarat utama untuk menjadi Wanita sholihah adalah memiliki rasa malu yang besar. Munculnya rasa malu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama karena kodrat kita yang di takdirkan sebagai wanita. Maka aurot wanita menjadi tolak ukur dalam menjaga rasa malu tersebut. Jangan hanya karna memiliki wajah cantik dan rambut ikal yang Panjang, kita dengan bebas memperlihatkannya kepada umum. Jadilah anak perempuan yang menjadi jalan surga bagi ayah dan suami kalian.   


Pull Qoute: 

“BERKHIDMAH PADA ILMU ALLAH ADALAH BERKHIDMAH PADA ALLAH”

(pada lembar kedua)


“Ummi Hannah menekankan pentingnya memprioritaskan tujuan utama agar cita-cita dapat tercapai”

(pada lembar terakhir)


Reporter: Nazila Ikmaliyalatho (4 Tahfidz A)

                Nadhifa Luthfiyatunnisa (4 Tahfidz A)

                Elmaba Qirani (5 Kitab)

                Lutfiana Ulfa (5 Tahfidz A)

                Alfaina Rosyada (5 Tahfidz B)

Rabu, 26 Agustus 2026

PONPES QUDSIYYAH PUTRI GELAR PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW 1–12 RABIUL AWWAL, DITUTUP PEMBACAAN DHIBA’ DINI HARI

 

KUDUS — Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri Kudus menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Rangkaian acara peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang digelar selama dua belas hari penuh sejak tanggal 1 hingga 12 Rabiul Awwal.

              Peringatan bulan kelahiran Baginda Nabi ini menjadi agenda rutin yang paling dinanti-nantikan oleh seluruh santri. Tidak hanya sekadar acara formal, rangkaian acara dirancang untuk menanamkan kecintaan terhadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melalui pembacaan Dziba’ dan Al-Barzanji, dilaksanakan setiap hari pada tanggal 1-12 Rabi’ul awwal mulai pukul 21.00 – selesai yang bertempat di Joglo pondok pesantren Qudsiyyah Putri.

              Peringatan maulid nabi ini dipimpin oleh grup Rebana Mimil Mubarok dan Nasyid El-Mahabba secara bergantian. Suasana asrama Pondok  Pesantren Qudsiyyah Putri mulai menggema dengan lantunan shalawat.

              Tepat tanggal 12 Rabi’ul Awwal pukul 03.30 WIB dini hari, di penghujung malam menjelang terbitnya fajar, alunan suara Diba’ dipimpin oleh pengasuh Pondok Pesantren Qudsiyyah putri dan dilantukan secara Bersama-sama oleh semua santri. Suara ribuan santri berpadu dengan batin kerinduan kepada sang Nabi di udara dingin subuh. Ketika keheningan malam masih menyelimuti kota Kudus, ribuan santri putri sudah bersiap memenuhi halaman pondok pesantren qudsiyyah putri untuk melantunkan dziba’ bersama.

              Acara pembacaan Dhiba' dini hari dilaksanakan untuk mengingat keberkahan di sepertiga malam yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat subuh berjama’ah serta do’a Bersama.

Selasa, 25 Agustus 2026

REBANA MIMIL MUBAROK MERIAHKAN PERINGATAN MAULID NABI DI MASJID AGUNG KUDUS

 

Masjid Agung Kudus menggelar rangkaian kegiatan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan tersebut menjadi salah satu kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Masjid Agung Kudus. Pada 23 Agustus 2026 M atau 10 Rabi'ul Awwal 1448 H, Grup Rebana Mimil Mubarok mendapat undangan untuk ikut memeriahkan kegiatan Maulid Nabi di Masjid Agung Kudus. Kehadiran Grup Rebana Mimil Mubarok menjadi bagian dari rangkaian penampilan rebana yang digelar selama malam 1 hingga 12 Rabi'ul Awwal. Setiap malamnya, Masjid Agung Kudus menghadirkan grup rebana yang berbeda untuk mengisi acara. Masyarakat juga turut antusias mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.

 

Pada hari sebelumnya, seluruh perwakilan kamar dikumpulkan oleh pengasuh Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri. Dalam pertemuan tersebut, disampaikan bahwa setiap kamar diminta mengajukan lima orang untuk mengikuti peringatan Maulid Nabi di Masjid Agung Kudus.

Pada pukul 18.30 WIB, seluruh perwakilan kamar telah bersiap untuk mengikuti kegiatan tersebut. Mereka kemudian berangkat    menggunakan tiga truk yang didampingi oleh pengurus ISQI kelas 11

 

 Sesampainya di Masjid Agung Kudus, rombongan disambut oleh segenap panitia Maulid Masjid Agung Kudus. Semangat dan antusias mereka selama menghadiri dan  partisipasi mereka dalam  menyemarakkan acara maulid nabi menjadikan suasana maulid yang diselenggarakan menjadi lebih bermakna dan penuh khidmat.Acara kemudian dilanjutkan dengan pembukaan dan pembacaan Maulid Nabi, serta ditutup dengan pembacaan tasbih bersama.

 

Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah masyarakat Kudus. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW serta semangat untuk meneladani akhlak dan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari.

 

Demikian rangkaian kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Kudus. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi bentuk penghormatan dan rasa syukur atas kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga dapat menambah rasa cinta kepada beliau, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan semangat untuk meneladani akhlak dan ajaran beliau.

Semoga kegiatan ini memberikan manfaat dan keberkahan bagi seluruh peserta serta masyarakat yang hadir.

 

 

Senin, 24 Agustus 2026

RAKER DAN ORIENTASI DIGELAR, SATUKAN VISI DAN LANGKAH UNTUK KEMAJUAN ORGANISASI

 

Kudus, 21 Agustus 2026 — Ikatan Santri Qudsiyyah Putri (ISQi) masa khidmat 2026/2027 menyelenggarakan kegiatan Orientasi dan Rapat Kerja (Raker) pada 19–21 Agustus 2026 di MC Pro Villa, Kajar. Mengusung tema “Visioner Berdedikasi, ISQi Berevolusi”,kegiatan ini menjadi langkah awal dalam memberikan pembekalan dan mempersiapkan para pengurus untuk menjalankan amanah selama satu periode kepengurusan. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut terdiri atas rangkaian Orientasi dan Rapat Kerja. Selama pelaksanaan kegiatan, para pengurus mengikuti berbagai agenda yang dirancang untuk menunjang kesiapan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab organisasi, sekaligus membangun kesamaan visi serta komitmen dalam kepengurusan ISQi masa khidmat 2026/2027.

Pada Rabu–Kamis,19–20 Agustus, kegiatan orientasi diisi dengan beberapa materi, di antaranya analisa diri, etika pengurus, dan teknik pembuatan proposal. Seluruh rangkaian acara diikuti oleh para pengurus sebagai bagian dari pembekalan awal sebelum memasuki periode kepengurusan.

Pada Jumat, 21 Agustus, kegiatan dilanjutkan dengan Rapat Kerja. Dalam kegiatan ini, setiap departemen menyusun dan membahas program kerja yang akan dilaksanakan selama masa khidmat 2026/2027. Pembahasan program kerja dilakukan sebagai upaya untuk menentukan arah gerak organisasi serta menyusun langkah kerja yang terarah dan sistematis. Rapat Kerja juga menjadi momentum bagi seluruh pengurus untuk menyelaraskan program antar departemen serta memperkuat koordinasi dan kerja sama dalam menjalankan setiap agenda yang telah direncanakan. Dengan adanya perencanaan yang matang, setiap bidang diharapkan dapat melaksanakan program kerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Melalui kegiatan Orientasi dan Rapat Kerja ini, ISQi masa khidmat 2026/2027 diharapkan mampu membentuk kepengurusan yang visioner, berdedikasi, dan memiliki komitmen dalam menjalankan amanah organisasi. Dengan semangat “Visioner Berdedikasi, ISQi Berevolusi”, seluruh pengurus diharapkan dapat menjalankan kepengurusan secara optimal serta membawa ISQi menuju perkembangan yang lebih baik.