Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Info Pendaftaran Online Santri Baru

Tata Cara dan Langkah Pendaftaran Online

KHR. Asnawi Kudus

KHR. Asnawi Muassis Madrasah Qudsiyyah dan Pendiri NU

Ngaji Online Ponpes Qudsiyyah Putri

Ngaji Online rutin setiap ba'dal maghrib selain malam jumu'ah streaming via fb dan YT Qudsiyyah Putri

Profil Ponpes Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum Ponpes

Profil MTs Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum MTs Qudsiyyah Putri

Senin, 21 September 2026

Resensi Buku; ENSIKLOPEDIA WANITA AL-QUR’AN

 

Judul          : ENSIKLOPEDIA WANITA AL-                             QURAN

Pengarang   : Imad Al. Hilali 

Penerbit      : Penerbit Qaf

Tahun Terbit: Maret 2024

ISBN            :  978-623-6219-74-4

Halaman     :  470 halaman

 

Pernahkah kita bertanya bagaimana kisah hidup para wanita yang di sebutkan dalam Al-Qur’an? Di dalam buku Ensiklopedia Wanita Al-Qur’an membahas secara komprehensif tentang tokoh-tokoh wanita yang disebutkan dalam Al-Qur’an, beserta peran, kisah dan keteladanan mereka. 

Buku ini mengulas kisah hidup Siti Hawa, Siti Hajar (ibunda Nabi Ismail), Sarah (ibunda Nabi Ishaq), Zulaikha (istri penguasa Mesir), Ibunda Musa dan saudarinya, Asyiah binti Muzahim (Istri Fir’aun), Balqis (Ratu Saba yang bijak), Maryam (ibunda Nabi Isa) serta tokoh wanita lainnya hingga zaman Rasulullah. Kisah mereka diabadikan di dalam Al-Qur’an.

Seperti Kisah Siti Hajar (Ibunda Ismail) dalam buku Ensiklopedia Wanita Al-Qur’an, umumnya digambarkan sebagai sosok perempuan dengan keteguhan iman yang luar biasa. Didalam buku ini diceritakan Siti Hajar dikenal sebagai seorang wanita salehah yang kemudian menjadi istri dari Nabi Ibrahim Ia dipercaya berasal dari kalangan yang sederhana. Beliau ditinggalkan di lembah tandus (Makkah). Atas perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan bayi Nabi Ismail ke sebuah lembah yang saat itu tandus dan tidak berpenghuni. Saat persediaan air habis, Siti Hajar berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali demi mencari air untuk anaknya. Kejadian ini menjadi asal usul ibadah sa’i dalam Haji dan Umrah. Di tengah-tengah keputusasaan Siti Hajar, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan pertolongan dengan memancarkan air dari tanah di dekat kaki Nabi Ismail, yang kemudian dikenal sebagai Air zamzam. Di dalam kisah Siti Hajar bukan sekadar cerita sejarah, tapi pelajaran tentang keseimbangan antara usaha (lari mencari air) dan tawakal (yakin pada pertolongan Allah). 

Selain itu, buku ini mengulas pula nama-nama wanita yang zalim, seperti Istri Nabi Nuh alaihi salam., Istri Nabi Luth alaihi salam, Ummu Lahab, dan masih banyak lagi. Mereka tak lain adalah penempuh jalan keburukan dan pelaku kesesatan yang menjadi pelajaran bagi kita semua.

Kisah dari kalangan Wanita yang zalim seperti Ummu Lahab diceritakan di dalam buku ini. Ummu Lahab bernama asli Arwa binti Harb, saudara dari Abu Sufyan dan istri dari Abu Lahab, paman Nabi Muhammad. Ia hidup di lingkungan bangsawan Quraisy di Makkah. Dia sangat membenci Nabi Muhammad, ia sering menyakiti Nabi Muhammad serta menyebarkan fitnah dan hasutan agar orang-orang menjauhi dakwah Islam beliau. Ia bersama suaminya akan mendapat balasan atas permusuhan mereka, yaitu siksa yang pedih.

Jika Siti Hajar adalah simbol keteguhan iman, maka Ummu Lahab adalah simbol kerasnya penolakan terhadap kebenaran. Dua kisah ini seperti bertolak belakang, menunjukkan bahwa setiap pilihan hidup membawa konsekuensinya.

Buku ini menyajikan penjelasan berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, Tafsir, Hadist dan konteks sejarah yang memperkaya pemahaman pembaca tentang kedudukan wanita dan ajaran islam.

Di balik setiap kisah terdapat pesan-pesan mulia yang mendalam mengenai posisi dan peran wanita dalam Al-Qur’an, baik dari sisi kebaikan maupun keburukan. Hal ini menjadi sumber inspirasi bagi wanita dan pelajaran praktis bagi wanita untuk menghadapi kehidupan, termasuk peran penting mereka sebagai pendidik generasi mendatang.

Pull Qoute: “Ensiklopedia ini bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungi, diteladani, dan diambil pelajaran baiknya.”


Oleh: Izzana Aidil Arafah (3 Tahfidz A)




 

RESENSI KITAB; Adabul 'Alim Wal Muta'alim

 
Adabul ‘Alim wal Muta’allim

Karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari

Nama Kitab: Adabul ‘Alim wal Muta’allim

Pengarang: Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari

Tebal Halaman: IV+110 Halaman

Ukuran: 15 x 23 cm

Bahasa: Arab

Penerbit: Maktabah Turots Al-Islami (Tebuireng)

 

Kitab Adabul Alim wal Mutaallim adalah kitab karya simbah KH.Hasyim Asy’ari yang membahas tentang etika orang yang berilmu [‘alim] dan orang yang menuntut ilmu [muta’allim]. Kitab ini merupakan salah satu kitab simbah KH.Hasyim Asy’ari yang terdapat dalam kitab Irsyadus Syari. Kitab ini melibatkan pada akhlaq seorang santri dan guru dalam pembelajaran maupun dalam kehidupan sosial sehari-hari. Setidaknya seorang santri mempunyai akhlaq yang baik kepada guru dalam hal mencari ilmu agar seorang santri tidak terlepas dari aktivitas pembelajaran, karena pembelajaran merupakan aktivitas keilmuan. Adapun Pembahasan dalam kitab ini mencakup beberapa bab, yaitu etika seseorang kepada diri sendiri, guru, murid, pelajaran, adab menulis dan mengajar, serta etika terhadap buku dan kitab.

Adab terhadap ilmu, ulama’, dan orang ‘alim adalah hal yang sangat krusial. Landasan utamanya merujuk pada firman Allah SWT QS. Al-Mujadilah: 11

                                {يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰت}

Yang artinya: “Allah akan mengangkat derajat/tingkatan orang orang yang beriman diantara kamu, dan orang yang diberi ilmu.” Yang dimaksud dengan "orang yang diberi ilmu" adalah mereka yang mengumpulkan ilmu sekaligus mengamalkannya. Sebagai orang yang beriman, kita tidak boleh menyepelekan kitab hanya sebagai tumpukan kertas biasa. Kitab harus dihormati karena mengandung ilmu yang kita pelajari. Adab tidak hanya terbatas pada sopan santun antar manusia, tetapi juga mencakup penghormatan terhadap sumber ilmu itu sendiri.

Hukum mempelajari kitab ini pada dasarnya adalah sunnah muakkadah [sangat dianjurkan], dan dalam konteks tertentu bisa menjadi fardhu ‘ain [wajib bagi setiap individu]. Tujuan dalam kitab ini agar setiap orang memiliki akhlaqul karimah yang baik kepada siapapun, baik kepada ulama’ ahli kitab, dan baik terhadap kitabnya sendiri. Dasar pijakan dalam kitab ini adalah Al-qur’an dan Hadis. Kitab ini menegaskan bahwa adab atau etika dalam menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu memiliki posisi yang sangat vital, bahkan sering dianggap lebih utama daripada ilmu itu sendiri.


Gunakan masa muda dan umurmu untuk memperoleh ilmu. Jangan mau terpedaya oleh rayuan menunda-nunda dan berangan-angan panjang, sebab setiap detik umur yang terlewatkan dari umur tidak akan tergantikan” 

    [HADRATUSSYAIKH KH. HASYIM ASY’ARI] 

 



                                                       Oleh: Farah Rayya Makki (5 Tahfidz A) 


HAK DAN PERAN PEREMPUAN DALAM ISLAM

Menurut Al-Habib Abdullah bin Mahfudz Al-Haddad  

Akhlak terpuji merupakan fondasi peradaban, dan pesantren menjadi wadah utama untuk menegaskan moral tersebut. Dalam menghadapi derasnya arus zaman, pesantren membimbing santri untuk menginternalisasi nilai-nilai moral dari Al-Qur’an, nilai-nilai islam secara nyata dalam kehidupan, serta menjadikannya pilar moral bangsa yang mampu menyeimbangkan iman, ilmu, dan amal. Nilai-nilai ini berlandaskan keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ketulusan menjalankan perintahnya, dan meneladani akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. 


Seorang wanita muslimah yang menginginkan keselamatan agamanya hendaknya menjadikan rasa takut kepada Allah sebagai pakaian hatinya.  Al-Imam al-Haddad memfatwakan agar wanita lebih menjaga dirinya daripada memperindah tampilan lahirnya, sebab kerusakan agama sering bermula dari kelalaian terhadap hal-hal yang tampak kecil namun terus-menerus dilakukan. Allah Ta‘ala berfirman:        

وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَٰلِكَ ٰ خَيْرٌ                                                                                                                                                           

“Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A‘raf: 26).

Selain itu, Allah juga mengingatkan agar seorang mukmin lebih memperhatikan keadaan batinnya dan menjaga kehormatan diri, sebagaimana firman-Nya:

وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْن فُرُوجَهُنَّ                                                                                  
“Dan katakanlah kepada para wanita yang beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan mereka.” (QS. An-Nur: 31).

          Beliau menegaskan bahwa kemuliaan wanita bukan pada tampilan lahirnya di hadapan manusia, melainkan pada kemampuannya menjaga adab, kehormatan, dan rasa malu. Karena itu, seorang wanita hendaknya tidak meremehkan pergaulan, ucapan, maupun penampilannya, sebab semua itu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

          Buku Pedoman Wanita Muslimah yang memuat fatwa-fatwa Al-Imam Al-Haddad disusun sebagai tuntunan bagi kaum wanita agar tidak larut dalam kesibukan yang melalaikan dari kewajiban utama dalam agama. Di dalamnya ditekankan pentingnya menjaga shalat, menaati perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta menjauhi perkara-perkara yang diharamkan. Al-Imam Al-Haddad mengingatkan bahwa amalan sunnah tidak akan memberi manfaat apabila kewajiban diremehkan dan batas-batas syariat dilanggar. Oleh sebab itu, kitab ini menjadi rujukan penting dalam menata kehidupan beragama secara seimbang dan bertanggung jawab.


Realitas masa kini menunjukkan bahwa pembahasan mengenai hak-hak perempuan sebagaimana dituntunkan oleh syariat Islam belum mendapat porsi yang memadai dalam wacana publik. Berbagai narasi di media massa sering disusun untuk mendukung kerangka pemikiran tertentu dan kepentingan sosial-politik, bukan semata-mata untuk menjaga hak perempuan menurut Islam. Dalam sebagian wacana tersebut, perempuan diarahkan untuk menafsirkan kebebasan dan peran sosialnya dengan mengesampingkan prinsip-prinsip adab, rasa malu, dan batasan syariat. Pola penyampaian semacam ini berpotensi menjauhkan perempuan dari nilai-nilai kearifan Islam yang telah mengatur kehidupan mereka secara seimbang.

Pernyataan ini jelas bertentangan dengan sikap kelompok lain yang terlalu kaku (jumud), melarang perempuan keluar rumah, menuntut ilmu, atau bekerja. Menurut Al-Imam Al-Haddad, kedua kelompok yang mengatasnamakan hak perempuan versi modern maupun yang bersikap jumud (kaku dalam memahami syariat) sama-sama jauh dari ajaran Islam yang benar.

Islam mengajarkan sikap tawasuth (tengah-tengah), yaitu melarang pakaian terbuka dan tabarruj (berpakaian secara berlebihan). Namun, membolehkan perempuan untuk menuntut ilmu, bekerja, dan beraktivitas di luar rumah, selama tetap menjaga kehormatan, menutup aurat, dan menjauhi segala perbuatan yang dapat menimbulkan fitnah atau menggoda laki-laki. Larangan terhadap perempuan untuk keluar rumah atau bekerja bukanlah ajaran Islam, melainkan bentuk kekakuan yang menyimpang dari nash-nash syariat dan tidak mencerminkan praktik para sahabat maupun tabi‘in. Islam menekankan rasa malu, penjagaan kehormatan, dan penutupan perhiasan tubuh, bukan pengasingan total dari kehidupan masyarakat.

Pada masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para sahabat perempuan menghadiri majelis beliau. Saat itu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajar, menasihati, dan berdialog dengan mereka secara langsung. Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam setelah shalat Id mendatangi para perempuan dan menasihati mereka agar bersedekah, karena sedekah dapat menjadi pelindung dari api neraka dan jalan menuju keselamatan.

Seorang perempuan dengan wajah pucat, berdiri dan bertanya: “Mengapa, ya Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Karena kalian lebih banyak mengadu (mengeluh) dan mengingkari kelebihan dan kebaikan suamimu.” Akhirnya, para perempuan pun menyedekahkan perhiasan yang mereka miliki. Hadis ini menunjukkan dengan jelas bahwa perempuan hadir aktif di ruang publik, bertanya, dan mengikuti nasihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tanpa melanggar batasan syariat. 

Dari sini, kita memahami bahwa hak-hak perempuan menurut Islam bukanlah kebebasan tanpa batas maupun kekakuan yang menindas. Islam menegakkan keseimbangan perempuan boleh berperan aktif, menuntut ilmu, bekerja, dan berinteraksi, selama tetap menjaga kehormatan, menutup aurat, dan menaati perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Al-Imam Al-Haddad menekankan bahwa propaganda modern yang mengatasnamakan “hak-hak perempuan” tetapi mendorong percampuran aurat, kebebasan tanpa batas, dan pengabaian adab, bertentangan dengan ajaran Islam. Begitu pula sikap jumud yang melarang perempuan sepenuhnya dari belajar dan bekerja juga menyimpang dari syariat. Jalan Islam adalah pertengahan: menjaga kehormatan, menaati syariat, menebar manfaat, dan tetap berperan di masyarakat.

Demikianlah inti dari hak-hak perempuan menurut Islam: keamanan, kehormatan, ilmu, dan peran yang bermanfaat, bukan propaganda duniawi yang menyesatkan, dan bukan pula kekakuan yang mengekang. Dengan meneladani para sahabat perempuan dan nasihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam setiap muslimah dapat tampil, berilmu, aktif, dan terhormat, selaras dengan tuntunan syariat.

 

Referensi: Al-Haddad, A. B. M. 2024. Buku pedoman wanita Muslimah Madura: HIMMAH Madura Multimedia.

Pull Quote: “Hak-hak perempuan menurut Islam bukanlah kebebasan tanpa batas maupun kekakuan yang menindas. setiap muslimah dapat tampil, berilmu, aktif, dan terhormat, selaras dengan tuntunan syariat.

Oleh: Atik Abidah (5 Tahfidz A) 

 

 

المدارس الإسلامية الداخلية كحصون لللأخلاق للجيل الشاب

الأخلاق هي مجموعة من القيم واالمبادئ والمعايير التي تعمل كإرشادات للأفراد او االمجتمعات لتمييز بين السلوك الجيد والسيئ في الحياة اليومية

القضية التي لا تزال قيد النقاش في ممختلف لأوساط هي قضية الجيل لأصغار سنا، الذي لاتزال شخصياته غير مستقرة باعتباره خليفة لأمة في تحقيق المثل العليا والنضال، مع كل ما يترتب على ذالك من عوقب

 في كلمة الله، سوراة النساء (4): 9، التي تقول وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

في سورة النساء اية ٩، في لحقيقة الله قد أنذار البشر ليخافوا دائماً اذا تركوا جيلاً ضعيفاً في الحياة القادمة. كما أن الله قد اعطى حلا لهذه المشكلة، وهو باتقوى تجاهه. تنقيذ التقوى في الحياة اليومية مهم القيام به كدليل على الطاعة الله. هذه الأية تعلم البشر لتحمل مسؤولية كبيرة تجاه مصير الأجيال القادمة، سواء في التعليم أو الاقتصاد أو الدين. وفقاً لتفسير المصباح لمؤلفه محمد قريش شهاب، فقد فسّر كلمة "ضعيف" (ضعافا) بشكل واسع، وتشمل الضعف الجسدي والعقلي والاقتصادي والعقيدة، لذالك يجب على الاَباء التأكد من أن الجيل القادم لا يتخلف أو يُهمل

في العصر الحديث، بدأ العديد من الشباب يتأثرون بقيم لاتتماشى مع التعاليم الدينية والأخلاق وغالبًا مايحدث ذلك بسبب عدم وجود رقابة أبوية، مما يؤدي إلى قيام الشباب بتطبيق اللأفكار التي يحصلون عليها من وسائل التواصل الاجتماعي مباشرة في حياتهم اليومية وتعد المدارس اللإسلامية الداخلية إحدى الوسائل للحفاظ على أخلاق الأمة في الوقت الحاضر

المدارس الإسلامية الداخلية هي أقدم المؤسسات التعلمية في إندونيسيا. ويتضح ذلك من بيان صادر عن وزارة الدولة الإندونيسية، الذي يشير إلى المدارس الإسلامية الداخلية باعتبارها ’’أقدم نموذج تعليمي في إندونيسيا ‘ ساهم بشكل كبير في بناء الأمة في مختلف الجوانب. في البداية، كانت المدارس الإسلامية الداخلية مؤسسات تقليدية لدراسة العلوم الإسلامية كدليل للحياة (تفقّه فى الدين)، مع اتركيز على أهمية الأخلاق في المجتمع، ١٩٩٤ مستُه

البيسانترين هي مؤسسات تعليمية تقدم منهجاً يركز على التعليم الديني الإسلامي. وتعد البيسانترين مؤسسات تعليمية فريدة من نوعها، ويرجع ذلك جزئياً إلى أن الطلاب يتم تدريبهم على العيش بدون والديهم حتى يصبحوا أفرادًا مستقلين في حياتهم المستقبلية

إن دور المدارس الإسلامية الداخلية في مواجهة التطورات السريعة للعصر مهم للغاية. للمدارس الإسلامية الداخلية وظيفة مزدوجة (ذو وجوه ) في بناء الشخصية، وهي كمؤسسات دينية تعمل على نشر وتطوير المعرفة الدينية الإسلامية وكمؤسسات تدريبية ناجحة تنتج قادة للمجتمع الأمة. فى المدارس الإسلامية الداخلية، يتم تدريب الطلاب على ان يكونوا مستقلين ولكن ليس معزولين. وهذا يعني أنه على الرغم من قدرتهم على القيام بالعديد من الأشياء بشكل مستقل، يجب على الطلاب أن يتذكروا أنّ البشر خلقوا ككائنات اجتماعية تحتاج إلى بعضها البعض. وبالتالي، يُتوقع من الطلاب أن يتمتعوا بروح اجتماعية قوية

تؤثر القواعد المختلفة المطبقة في المدرس الإسلامية الداخلية تأثيرًاكبيراً. من خلال هذه القواعد، يُتوقع من الطلاب التمسك بالقيام الأخلاقية التي تُدرَّس في المدرسة الداخلية، مثل الإخلاص والصدق والمسؤولية. كما يعتاد الطلاب على التفكير مرّتين قبل القيام بأي شيء. على سبيل المثال، يتم تعليمهم ألا يتسر عوا في استنتاجات بشأن الأخبار المتداولة على وسائل التواصل الاجتماعي، وأن يرشحوا كل معلومة يحصلون عليها من خلال البحث عن الحقيقة وراءها. بالإضافة إلى ذلك، يعتاد الطلاب على النظر إلى القضايا من منظور أوسع، لايقتصر على تقييمها من جانب واحد، بل يأخذ في الاعتبار تأثيرها في المستقبل وذالك على أمل ان يصبح الجيل القادم أفر اداً يتمتعون بالمرونة والقوة من حيث المعرفة والتقوى.

  Sumber: https://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/tadzkiyyah/article/view/2097/1585

 https://www.neliti.com/id/publications/235781/generasi-muda-dan- tantangan-abad-modern-serta-tanggung-jawab-pembinaannya


بقلم: نشوى نجما دينا(٥ تحفيظ ب)





Minggu, 20 September 2026

SUSUNAN TIM WEBSITE QUDSIYYAH PUTRI 2026-2027

SUSUNAN TIM WEBSITE 

QUDSIYYAH PUTRI 2026/2027


Pimpinan Redaksi        : Fathin Tsurayya

Redaktur Pelaksana      :  Luthfiyah

Redaktur                       :  Najmia Habiba

                                         Najman Nafila

                                         Zahra Mufida 'Althafunnisa

Sekretaris                      : Ayudhia Khalila

Reporter                        : Nafisa Aniq Rosyada

                                        Lugiyana Elok Faiqoh

                                        Nafisa Akmalina Tanziila

Editor                            : Najwa Fathiyyatul Yumna

                                        Wafiq Lailatun Nadhifah 

                                        Rhegina Putri Salwa