Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Info Pendaftaran Online Santri Baru

Tata Cara dan Langkah Pendaftaran Online

KHR. Asnawi Kudus

KHR. Asnawi Muassis Madrasah Qudsiyyah dan Pendiri NU

Ngaji Online Ponpes Qudsiyyah Putri

Ngaji Online rutin setiap ba'dal maghrib selain malam jumu'ah streaming via fb dan YT Qudsiyyah Putri

Profil Ponpes Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum Ponpes

Profil MTs Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum MTs Qudsiyyah Putri

Tampilkan postingan dengan label Biografi Masyayikh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi Masyayikh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2026

Biografi K.H. Saifuddin Luthfi

                                       KH.SAIFUDDIN LUTHFI



K.H.Saifuddin Luthfi yang kerap disapa dengan “Mbah Ipud”merupakan salah satu kiai di kota kretek, yakni Kudus. Beliau adalah masyaikh dari madrasah yang berada di Kudus. Madrasah tersebut dikenal dengan nama Qudsiyyah. Sekarang beliau mengajar Falak dan Mantiq di kelas 12 MA Qudsiyyah.
 
     Riwayat pendidikan Mbah Ipud ternyata hanya sampai tingkat Tsanawiyyah (MTs). Namun beliau dapat mengajar Tingkat Aliyah (MA). Padahal, sewaktu beliau masih belajar, beliau termasuk santri yang jarang mencatat dan sering tidur. Anehnya, saat beliau ditanya mengenai pembelajaran yang sedang dijelaskan, beliau bisa menjawabnya. Sehingga banyak orang yang mengatakan bahwa Mbah Ipud mendapatkan ilmu laduni. Karena kecerdasannya, beliau pernah mendapatkan amanah untuk mengajar sebagai dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN )yang sekarang telah menjadi UIN Sunan Kudus.Sayangnya, beliau tidak mengajar di STAIN dikarenakan kurangnya persyaratan administrasi.
 
     Mata Pelajaran yang sangat beliau kuasai adalah ilmu falak. Beliau turut serta dalam pembuatan Kalender Qudsiyyah. Selain itu, Mbah Ipud juga memiliki ketertarikan dalam seni. Salah satunya ialah beliau senang membuat syair dan puisi. Diantara karya beliau adalah mars Qudsiyyah Putri. Beliau dan Gus Apanglah yang menciptakan Mars Qudsiyyah Putri. Mbah Ipud yang Menyusun lirik, sedangkan Gus Apang yang membuat nadanya.
 
    Sebagai masyarakat Kudus yang dikenal dengan kota kretek dan khas akan banyaknya pabrik produksi rokok, Mbah Ipud juga tidak luput dari kegiatan merokok. Disaat beliau memecahkan sebuah arkeolog yang ditemukan di Masjid Al-Aqsa Menara Kudus, beliau juga melakukannya dengan merokok. Namun Mbah Ipud bukanlah perokok berat. Beliau merokok sesuai kebutuhan.
 
    Di samping beliau mengajar di MA Qudsiyyah Putri, beliau juga mengisi pengajian. Beliau mengajar kitab Riyadlus Shalihin rutin setiap malam Selasa, ba’da maghrib di Masjid Al-Aqsa Menara Kudus.
 

    Sebagai penerus bangsa, kita perlu senantiasa semangat belajar, mengasah ketajaman berpikir, serta mensucikan hati demi memantaskan diri meraih keluasan ilmu dan keberkahan hidup. Keterbatasan pendidikan formal bukanlah penghalang untuk mencapai puncak keilmuan.

Rabu, 19 Agustus 2026

SEJUTA RINDU, PADAMU SANG KYAI SEJUTA KRIDA

Sekitar 73 tahun silam, tepatnya pada tahun 1953, seorang Hj. Masyfiah Padurenan melahirkan putranya yang ketiga. Anak yang diharapkan tumbuh dengan membawa kejayaan serta kasih sayang bagi orang-orang disekitarnya. Terlihat dari nama yang H. Muhammad Asnawi dan Hj. Masyfiah berikan, yakni Fathur Rahman. Beliau merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara yakni Sholih (meninggal waktu kecil), K. Agus Nawawi, KH. Fathur Rahman (beliau), KH. Muslihuddin, Hj. Sholihah, KH. Ahmad Asnawi dan H. Muhdi Asnawi. Dibesarkan di desa yang religius dan kental akan kebudayaan Islamnya, KH. Fathur Rahman dididik tegas oleh orangtuanya, sehingga menjadikan beliau pribadi yang tangguh dan kuat akan prinsipnya. 


KH. Fathur Rahman kecil mengawali pendidikan di SD Padurenan hingga lulus pada tahun 1965. Patuh akan perintah sang ayah, beliau melanjutkan pendidikan di pondok Bejen, milik KH. Chambali Sumardi sekaligus menimba ilmu di MI Qudsiyyah dan masuk di kelas tiga MI. Setelah lulus MI, beliau mengembangkan keilmuannya di MTS Qudsiyyah pada tahun 1970 hingga lulus pada tahun 1973. Kemudian beliau menyelesaikan Pendidikan Madrasah Aliyah Qudsiyyah sebagai lulusan pertama, pada tahun 1976.

Setelah menamatkan pendidikan sebagai mutakhorijin Madrasah Qudsiyyah, beliau, atas bimbingan dan arahan Guru Besar KH. Sya’roni Ahmadi, melanjutkan studi ke IAIN Semarang. Bertempur menggali ilmu di sana, sehingga meraih gelar  sarjana muda pada tahun 1979. Ditahun yang sama, pada 1 September 1979, KH Fathur Rahman mulai menjadi pentransfer ilmu di Madrasah Qudsiyyah. Pada saat itu, beliau mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris. KH. Nur Hamid Singocandi, KH. Hilal Haidar Damaran, K. Jalal Mahalli Sunggingan, dan teman teman, adalah angkatan pertama yang menjadi santri KH. Fathur Rahman.

                         

1983—KH. Yahya Arif menimpakan amanah kepada KH. Fathur Rahman untuk menjadi Kepala Madrasah Aliyah yang merupakan madrasah tertua di Kudus. Maka, sampailah 26 tahun beliau menjadi kepala Madrasah, yakni hingga tahun 2009. Kiprah beliau untuk Qudsiyyah tidak hanya berhenti disitu. Tahun awal didirikannya Ma’had Qudsiyyah pada 2010 lalu, beliau lah yang mengemban amanah untuk menjadi mudir nya. Pada masa itu juga, beliau diangkat menjadi Al Mudirul Khas (wakil dari Al Mudirul ‘Am). Jabatan beliau bertahan hingga 2025, sebelum akhirnya terjadi reorganisasi yayasan. setelah berpulangnya KH. Sya’roni Ahmadi dan Kh. Em Nadjib Hassan. Setelahnya, KH. Fathur Rahman dilepas jabatan sebagai Al Mudirul Khas, dan diangkat menjadi Al Mudirul ‘Am Madrasah Qudsiyyah.

Tak hanya untuk Madrasah Qudsiyyah. KH. Fathur Rahman juga memeras peluh untuk berkiprah di lingkup pendidikan lainnya. Hal ini terbukti dengan jejak beliau mengajar di Madrasah An Nur Daren, Madrasah Al Hidayah Getassrabi, Madrasah Hasyim Asy’ari Karangmalang, Madrasah Diniyyah Sudimoro, dan Madrasah Diniyyah Darussalam Padurenan.

Lain dari kiprah mengajar, Kyai ahli Tawassul yang memiliki kebiasaan membaca semua nama Walisongo dalam setiap hadrohnya ini, aktif dalam kepengurusan Nahdlatul ‘Ulama. Mulai dari tingkat Ranting, MWC, juga tingkat Cabang. Bukan sekedar itu, beliau pun aktif dalam mengisi pengajian rutin di masjid dan musholla. Majelis rutin KH. Fathur Rahman, beliau beri tajuk dengan Tujid Lula (Pitu Mesjid dan Telu Musholla). Mana saja 7 Masjid tersebut? Yakni masjid Winong, masjid Karaan, masjid Gerjen, masjid Srabi Lor, masjid Srabi Kidul, masjid Sudimoro, dan masjid Kebangsan. Sedangkan Telu musholla yang dimaksud adalah musholla Krajan Padurenan, musholla Gerjen, dan musholla Karangmalang. Selain majelis rutinan, beliau juga kerap mengisi pengajian di berbagai daerah. 

KH. Ahmad Asnawi, yang merupakan adik dari KH. Fathur Rahman pernah mengatakan bahwa istikhoroh beliau 99% valid dengan kenyataan. Istikhoroh yang beliau gunakan yakni istikhoroh Al-Qur’an, ayat yang dibuka maka itulah yang menjadi petunjuk. Lantas selain itu, KH. Fathur Rahman adalah Kyai humoris dengan berbagai jokes yang tentunya tetap membuat para pendengarnya berpikir terlebih dahulu sebelum tertawa. Diluar joke-joke yang tentunya sudah membuat para santri hafal akan style guyonan beliau, KH. Fathur Rahman adalah masyayikh yang terkenal akan kelihaian beliau dalam membaca manaqib. Hingga julukan ahli manaqib pun tersemat pada diri beliau. Manaqib yang sering beliau gunakan adalah manaqib Lujainuddani, manaqib syekh Abdul Qodir Al Jilany yang beliau dapatkan dari Habib Muhammad Alkaff (abah dari Habib Ja’far Alkaff). Kitab ini adalah tulisan tangan asli dari Habib Muhammad Alkaff. Selain manakib Lujainuddani, beliau juga sering membaca manaqib Jawahirul Ma’ani dan mendapatkan izin untuk memberikan ijazah manaqib tersebut dari Syekh Jauhari Umar, penyusun manaqib. Dari sana, beliau kerap diminta untuk membacakan manaqib ke tempat orang-orang yang punya hajat.

Sering mengisi pengajian, dan disuwuni untuk membacakan manaqib,  tahukah bahwa beliau merupakan salah satu pendiri dan penggerak majlis Hubbur Rasul—majelis pecinta Rasulullah yang didirikan oleh Habib Abdullah Al Hinduan, Mayong. Beliau menjadi penggerak masyarakat di daerah Kaliwungu dan Gebog. Sedangkan penggerak di Nalumsari adalah Habib Ahmad Al Jufri. Beliau bertiga adalah sahabat karib yang membumikan dan menggemakan sholawat sebelum kepopuleran Syekher Mania dan Zahir Mania.

Pagi itu, disaat para santri beliau tengah tekun menuntut ilmu. Tepatnya Sabtu Pon, 1 Jumadal Akhiroh 1447 H. atau yang kerap orang awam kenal sebagai Sabtu, 22 November 2025 TU., KH. Fathur Rahman sedang menanti jemputan sopir yang biasa mengantar beliau pergi ziarah ke makam Mbah Sunan Kudus—beberapa tahun terakhir ini, Mbah Fathur memang sedang menjalani rutinitas berziarah ke makam Mbah Ja’far Shodiq setiap hari Sabtu bersama perwakilan guru angkatan di Qudsiyyah— Hari itu, sopir beliau tak dapat datang karena sakit. Alhasil, beliau tidak jadi ziarah. Berselang beberapa waktu, pada pukul 11.00 beliau memutuskan untuk beristirahat di kamar. Namun justru, istirahat itu menjadi istirahat panjang beliau. Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un. 72 tahun, atau 74 tahun versi hijriahnya, KH. Fathur Rahman berpulang pada sang Illahi, Sang Maha Menghidupkan juga Sang Maha Mematikan. Bukan hanya sanak saudara, 7 putra dan 19 cucu beliau, namun para santri-santrinya pun turut merasakan duka mendalam. Di tengah santri Qudsiyyah Putri sibuk mengerjakan puluhan soal ulangan, kabar duka berpulangnya Kyai tercinta kita tersebut, berhasil membuat kelopak tak lagi kuasa membendung tangis mendalam.


Pull Qoute: “Kan rindu selalu segala hal tentangmu. Selamat jalan Mbah Fathur, selamat jalan Kyai sang penghantar sanad Manaqib. ”

Oleh: Sina Gamelalita Mahabati (4 Tahfidz B)


Sabtu, 11 Oktober 2025

ULAMA’ AL-QUR’AN

KH. SYA’RONI AHMADI

 

Penjelasan mengenai Al Qur’an memang harus disampaikan dengan menyesuaikan kemampuan pendengarnya. Itu menjadi jalan ampuh agar ayat ayat Al-Qur’an dapat menyentuh hati Begitulah KH. Sya’roni Ahmadi menyampaikan melalui pengajian yang diampunya diberbagai

majlis, khususnya dipengajian Tafsir Al- Jalalain dimasjid Al Aqsha menara kudus, setiap jumat bakda subuh. Hal itu berlangsung selama hampir 40 tahun, yakni sejak tahun 1983.

Tak pelak, hal itu menarik ribuan jamaah yang tidak saja berasal dari kudus, melainkan juga dari sekitarnya. Bahkan, mereka bukan saja warga Nadhliyah yang berafiliasi dengan Nadhatul ulama, tapi juga ada yang merupakan warga Muhammadiyah. Pasalnya Kyai Sya’roni tidak pernah membedakan dua ormas tersebut.Pengajian yang disampaika juga lebih umum. Ulin Nuha menjelaskan bahwa Kyai Sya’roni dalam pengajian Tafsirnya mengupayakan persatuan dan kerukunan.

Hal itu ditempuh dengan perdamaian perselisihan dalam masalah khilafiyah antara Nadhatul Ulama dan Muhammadiyah. Sebab, dalam pandangan Kyai Sya’roni, perselisihan yang terjadi antara umat islam, khususnya antara penganut Nadhatul Ulama dan Muhammadiyah, dalam hal tuntunan ibadah seperti qunut, jumlah rakat tarawih, dan lain-lain. Lebih banyak disebabkan karena ketidak tahuan sejarah dalil ataupun landasan.

Karenanya, cara yang ditempuh untuk merukunkan keduanya adalah dengan melakukan tabayun secara objektif. Tidak saja rukun sesama muslim yang berbeda pandangan, Kyai Sya’roni juga mengajak muslim untuk rukun dengan nonmuslim melalui pengajian tersebut. Rukun dalam segi muamalahnya, tidak melampui batas akidah dalam syariah. Misalnya Kyai Sya’roni memperbolehkan mengucapkan selamat hari natal kepada umat Nasrani dengan catatan sebagai ucapaan selamat atas kelahiran Nabi Isa as.

Tetapi haram jika diniati sebagai bentuk pengakuan terhadap keyakinan mereka, atas kelahiran Yesus. Kemampuannya dalam menyampaikan tafsiran Al- Qur’an dengan Bahasa yang mudah dipahami itu memang sudah diasah sejak dini.

Setidaknya, beliau memperdalam pengetahuan Tafsirnya melalui beberapa Kyai, yakni KH. M. Arwani Amin, KH. R. Asnawi, KH. Turaichan Adjhuri, dan Sayyid Abdilah. Keseriusanya dalam ilmu agama memang sudah tumbuh sejak kecil. Bagaimana tidak, usia 11 tahun ia sudah menyelesaikan hafalan Alfiyyah Ibnu Malik, kitab monumental tentang tata Bahasa Arab. 3 tahun berikutnya, diusianya ke 14 tahun, Kyai Sya’ roni Ahmadi sudah menghafal Al Qur’an secara keseluruhan kepada KH. Arwani Amin dalam jangka waktu delapan bulan.

Kepada Kyai Arwani juga, beliau berulang kali mengkhatamkan kitab Tafsir Al-Jalalain yang menjadi pegangan dalam pengajiannya dimenara kudus. Semua pengajiannya itu sebagai santri kolong. Ya, beliau tidak memiliki pesantren. Meski demikian tidak membuatnya patah arah. Justru menjadi motivasi untuk semakin giat mendalami ilmu, tidak saja mengaji dimasjid masjid, Kyai Sya’roni juga tercatat mengajar di berbagai pesantren dan madrasah di kota kudus, seperti Madrasah Banat NU, Mualimat, Qudsiyyah, TBS dan Madrasah Diniyah Krandon Kudus.

Bahkan, beliau juga menyampaikan berbagai ceramah sejak mudanya. Kyai kelahiran 17 Agustus 1931 itu sudah kehilangan ibunya sejak usia 8 tahun, sedangkan sang ayah menyusul 5 tahun berikutnya sewaktu umur 13 tahun, setelah itu diasuh oleh kakeknya. Selain itu, Kyai Sya’roni juga salah seorang ulama yang produktif berkarya menulis kitab-kitab mengenai Ahlussunnah Wal Jamaah, bacaan Al Qur’an dan ilmu Tafsir diantaranya Al- Faraid al- saniyah dan Faidl al- Asani.

 

              ‘Dadi wong islam seng rukun senajan omahe dewe dewe’

                                -KH SYA’RONI AHMADI-

 


Senin, 16 Desember 2024

Keyakinan Adalah Kunci Dari Segalanya, Em. Nadjib Hassan

 


 


Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah karakter yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Dengan menjadi pribadi yang bermanfaat kita dapat memberikan dampak positif bagi diri kita dan orang lain. “Kuncinya orang hidup itu harus banyak belajar yang baik, dan rajin, kalau bekalnya baik tinggal mengembangkan saja” itulah yang dikatakan Drs. KH. Em. Nadjib Hassan. Pria kelahiran Kudus, 25 November 1956 ini merupakan ketua Jl.Menara No.01, hal tersebut membuat beliau sangat cinta dengan kota Kudus.

 

KH. Nadjib Hassan menempuh Pendidikan di Madrsah Qudsiyyah sejak memasuki jenjang MTs. Dari sinilah beliau mulai mempelajari ilmu agama, walaupun beliau tidak pernah mondok, tetapi beliau sering mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan seperti Batshul Matsail, Munadharoh, dan lain lain. Disinilah beliau dapat bertemu dan mengenal para masyayikh, diantaranya KH. Sya’roni ahmadi, KH. Turaichan Adjhuri, dan Kyai Yusuf Muhammad. Setelah lulus dari Qudsiyyah belisu melanjutkan kuliah di IAIN Yogyakarta dan dimintai untuk menjadi dosen disana, tetapi beliau menolak dan memilih kembali untuk berkiprah di Kudus.

 

Saat beliau sudah di Kudus, beliau diamanahi untuk memimpin Yayasan Menara, sekaligus mengajar di Madrasah Qudsiyyah, tempat beliau menuntut ilmu. Beliau juga mendapat banyak tawaran pekerjaan, tetapi beliau selalu menolak dan memberikan pada orang lain, karena beliau ingin berkiprah di Masyarakat.

 

Pada tahun 1987, beliau diangkat menjadi Katib NU, padahal sebelumnya beliau tidak pernah mengikuti kegiatan di Tingkat ranting maupun MWC, tapi akhirnya beliau tetap menjalaninya dengan niat aktif di NU sekaligus beliau belajar, karena menurut beliau belajar itu dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, tidak terbatas dibangku sekolah atau kuliah.

 

Pada tahun 1990, RSI Sunan Kudus didirikan, lalu beliau diutus menjadi manager rumah sakit dari situ beliau banyak belajar tentang management rumah sakit, dan beliau yakin bahwa semua bisa dilakukan asalkan ada kemauan “Kabeh-kabeh iku angger dilakoni” itulah ujar beliau.

 

Semakin banyak kagiatan, menurut beliau akan menambah semakin banyak wawasan. Jika mempunyai wawasan banyak pasti mempunyai konten dan bahan yang banyak pula.

 

Beliau berpesan “Tugas kita sebagai pelajar adalah banyak Mutholaah, banyak belajar, dan diskusi. Yang termasuk kelemahan dari kalangan Nahdliyyin adalah kurang terbiasa menulis” Hal ini dahulu telah dikritik oleh Cak Nun, beliau mengatakan bahwa NU kaya katalog tapi miskin metode.

Prinsip beliau dalah “Yang paling kunci dari semuanya adalah mendidik orang untuk berfikir secara sistematis”, karna pemikiran yang sistematis dapat diterapkan dalam semua aspek, baik dalam pendidikan, penerapan dalam Masyarakat, dan dalam bidang apapun. Berkat prinsip tersebut beliau dapat mengikuti banyak kegiatan dengan baik, meskipun tidak sesuai dengan pendidikannya, dan beliau berharap santri santri milenial zaman sekarang dapat berpegang pada prinsip tersebut untuk mencetak generasi yang dapat beradaptasi dalam lingkungan seperti apapun.

Selasa, 08 November 2022

KH. Ma'ruf Asnawi

 


Qudsiyyahputri.com. KH. Ma’ruf Asnawi lahir pada pada hari Kamis tahun 1911 atau 1329 H. Silsilahnya adalah KH. Ma’ruf  bin Asnawi bin Abdurrahman bin Sayyidah A’isyah binti Habib Ahmad bin Habib Ibrahim Bafaqih (Sunan Puger). Beliau dikenal sebagai khalifah Tarekat Syadzaliyah di Kudus. Sedangkan posisi mursyid dipegang langsung oleh KH. Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan. Pusat kegiatan tarekat ini adalah di Jumutan Demangan dan Kauman Menara. Sampai saat ini pengurus tarekat Syadziliyah sudah mempunyai lahan tanah untuk dijadikan pusat kegiatan tarekat yang bertempat di Kaliwungu Kudus.

Sebagaimana diungkapkan oleh KH. Nur Halim, tarekat syadziliyah (sebutan yang asli di kitab Mafakhir adalah Syadzzaliyah nisbat tempat Syadzzalah), Mujiz awalnya memang Habib Luthfi. Namur Habib Luthfi pernah dawuh untuk memudahkan orang dlu’afa’ (likibari sinnihi, sepuh atau lidla’fi malihi, anak muda tidak punya biaya) KH. Ma’ruf Asnawi pernah mbadali bai’at. Khalifah yang disandang itu atas perintah Mursyid. Karena Habib Luthfi kasihan dengan orang Kudus yang datang ke Pekalongan, tapi tidak ketemu Habib, maka bisa dibai’at KH. Ma’ruf Asnawi. “Kanggo sing sepuh mbah atau yang gak punya biaya” kata Habib.

Orang Kudus yang pertama bai’at tarekat ke Pekalongan adalah H. Chambali Balaitengahan. Sedangkan “Mbah Ji”-panggilan akrab KH. Ma’ruf Asnawi-baru bai’at tahun 1975. Mulanya ia menjadi murid biasa puasanya 3 hari; kamis, jum’at dan sabtu. Ahadnya dibai’at Syadzaliyah. Kepergiannya ke pekalongan naik bis ditemani putranya Mahfudh Nur. Murid tarekat dari Kudus angkatan “Mbah Ji” kira-kira ada belasan orang, yaitu:
  1. H. Raden Hambali
  2. Hasyim Tepasan
  3. H. Tahar Prambatan
  4. H. Hanafi Balaitengahan Langgardalem
  5. As’ad Demaan
  6. H. Khoiron Damaran
  7. H. Muhklas Damaran
  8. H. Mahfudl Ma’ruf (1980)
  9. Letnan Daeng Demaan (ABRI)
  10. Letnan Sutoyo Demangan
  11. Pak Dul (Burikan nikah dapat Solo)
Kemudian pada periode kedua disusul angkatan KH. Thoriq yang sekarang menjadi badal kira-kira tahun 1987/1988. tarekat ini berkembang dan menjadi luas berawal dari guru-guru Madrasah Qudsiyyah. Dimana semua guru dan karyawan Qudsiyyah 90% menjadi pengikut tarekat ini. Sampai sekarang murid tarekat ino sekitar 10.000 yang terdiri dari Kudus, Jepara dan Pati. Ini semua atas perjuangan Habib Lutfi. Karena Habib memperjuangkan tarekat di Kudus tidak seperti di daerah lainnya. Habib memang diakui bisa ngemong masyarakat, ngemong muridnya.

Konon cerita, pada tahun 1985 ketika KH. Ma’ruf Asnawi diangkat khalifah beliau masih takut. “Mboten Bib, kulo kok dadi khalifah, kulo taseh kethoh dung pripun Bib?” Habib jawab: “Ngeten Mbah, kulo ngendiko niki mboten ngendiko piyambak, nanging instruksi saking Njeng Rasul, Njeng Rasul mangguihi kulo” kata Habib. Dan kemudian ia ditanya Habib: “Piye mbah Ma’ruf?”.

Secara tegas KH. Ma’ruf menyatakan ketidaksediaannya karena menganggap dirinya belum mampu. Namun lagi-lagi dawuh dari mursyid harus dipatuhi. Habib Luthfi juga menyatakan: “Kamu jadi muridku kok takut jadi khalifah, saya takut kalau dimarahi Nabi Muhammad. Nabi shadiqul mashduq  Mbah”. Akhirnya dawuh ini beliau iakan. “Ngoten Bib, ngeh sampun. Nanging sak dongi mboten wadahe, kulo ngih sami’na wa atha’na” ujar Ma’ruf tulus.

Setelah itu Habib memberikan ijazah untuk puasa 1 minggu mulai hari Kamis. Setelah selesai puasa, Mbah Ji kembali sowan ke Pekalongan dengan umbal bis. Setelah sampai sana, Habib mengenakan baju kebesaran tarekat sebagaimana Qadli yakni memakai jubah hitam dan surban hijau. Sebelumnya ia berwudlu dulu dan membaca amalan syahadat, shalwat, istighfar dan dzikir. Prosesi bai’ai dimulai dengan jabat tangan sambil duduk dengkul-dengkulan (antar lutut ketemu dan berhadapan). Kemudian Habib mulai memba’iatnya: “Ajaztuka min tariqatis syadaliyah“. Dengan tegas KH. Ma’ruf menjawab: “Qabiltu“.
Dijelaskan oleh Habib saat itu bahwa posisinya adalah membantu orang yang mau bai’at tarekat ini. “Maksude ngewangi kulo (badalku) karena  guru mursyid syughul-nya banyak” kata Habib.

Kegiatan rutin tarekat ini adalah pengajian rutin pada Jum’at Kliwon. Kegiatan lainnya adalah Haul Syekh Syadzali, dan setiap malam Selasa pengajian kitab Mafakhir, bacaan manaqib syadzaliyah, maulud malam senin sebulan sekali setiap 12 (dan tiap bulan Rabi’ul Awal dilaksanakan 12 hari).

Tarekat ini banyak diminati oleh kalangan muda. Rata-rata pengikutnya adalah guru, pedagang dan masyarakat biasa. Dalam mengirim fatihah juga tidak seperti layaknya tarekat yang lain dengan menyebut semua guru mursyid. Amalan tarekat ini sangat sederhana. Tarekat ini didapatkan Habib Luthfi dari Mbah Sayid Abdul Malik Purwokerto yang jalur sanadnya sampai Sayyidina Ali.

Kalau membaca hadlrah (kirim surat fatihah) pertama adalah ibtigha’a mardlatillah. Kedua kepada Nabi wailihi. Dan ketiga kepada Syekh Syadzali dan sadati al-thariqah wa ushulihi wa masyayikhihi ila Rasulillah. Dan keempat ke mujiz, Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar  bin Thaha bin Yahya.

Bacaan wiridnya adalah istighfar 100 kali, shalawat 100 kali, dan kalimat thayyibah 100 kali. Untuk kalimah thoyyibah dianjurkan dibaca dengan dzikir khafi (suara dalam). Bacaan tahlil: La dimulai dari puser naik sampai dada hingga mahdlatul fikri (pusat pemikiran) sehingga lupa dunyawiyah terus ditarik sampai lengan kanan. Illallah masuk ke jantung kiri. Kalau digambar seperti Lam Alif yang terbalik.

Yang perlu ditegaskan dalam tarekat ini adalah murid itu menjadi “warga tarekat”, bukan ahli tarekat. Kalau menyebut ahli nampaknya terlalu ketinggian, dan akan muncul takabbur. Karena dia merasa sudah ahli ngibadah dan mudah digelincirkan. Dalam manaqib disebutkan: Walaqad adlathu bimitsli hadzihil waqi’ati sab’ina min ahlitthariq, qad abahtu lakal muharramat.

Selasa, 02 Agustus 2022

KH. Muhammad Sya'roni Ahmadi


Qudsiyyahputri.com. K.H. Sya’roni Ahmadi Al-Hafidz merupakan ulama yang alim dalam bidang tafsir. Beliau juga dikenal oleh masyarakat sebagai ulama yang sangat karismatik dan disegani masyarakat. Karena kedalaman dan luasnya ilmu, banyak kiai Kudus yang belajar atau mengaji dengan beliau. 
Berkat keistikamahan, keikhlasan dan perjuangannya dalam mengajarkan ilmu agama banyak pula murid-murid beliau yang menjadi orang alim dan orang berpengaruh di daerahnya masing-masing. Beliau merupakan figur yang sederhana, ramah, dan tawadlu' terhadap siapa pun.

Dalam berdakwah beliau K.H. Sya’roni Ahmadi Al-Hafidz mempunyai peran yang signifikan dalam berdakwah menyebarluaskan agama Islam di Kudus. Pengajian majelis Tafsir Kitab Tafsir Jalalain rutinan, yaitu setiap Jumat bakda subuh di masjid Menara Kudus banyak dihadiri muhibin dan masyarakat dari berbagai kalangan; bukan hanya masyarakat Kudus namun juga berasal Jepara, Pati, Demak, dan sekitarnya.

Terbukti demi mengaji dan mendapatkan ilmu dari K.H. Sya’roni Ahmadi, banyak masyarakat dari dalam dan luar kota yang berombongan menggunakan mobil, bis dan sebaginya. Meskipun K.H. Sya’roni Ahmadi merupakan Mustasyar PBNU banyak masyarakat dari selain NU juga ikut mengaji dengan beliau.

Seringnya, dalam majelis pengajian beliau menggunakan bahasa Jawa halus, sederhana dan kadang diselingi humor namun mengenang di hati pendengarnya. Mengenai kelahirannya, beliau K.H. Sya’roni Ahmadi lahir di Kudus pada tanggal 17 Agustus 1931. Lahir dari pasangan Bapak H. Ahmadi dengan Nyai Hj. Masnifah. Beliau merupakan anak ke 7 dari 8 saudara. Ibunya wafat saat K.H. Sya’roni Ahmadi masih kecil, sekira umur 8 tahun, sehingga beliau diasuh oleh ayahnya. Namun  tidak berlangsung lama, sang ayah menyusul ibunya wafat saat beliau umur 13 tahun.

Selain itu K.H. Sya’roni Ahmadi menjadi anak yatim piatu. Bersama Sang Abah saat kecil beliau sering diajak sowan kepada kiai sekitar Kudus dari Jekulo sampai daerah Mayong Jepara untuk menimba ilmu dan tabarukan. Sejak kecil beliau juga sudah terlihat sangat menggandrungi ngaji. Begitu juga kecerdasan dan ghirah (semangat) beliau dalam menekuni berbagai fan ilmu terlihat semenjak masih kecil. Terbukti bahwa di usia 11 tahun beliau sudah hafal Alfiyah Ibnu Malik yang berjumlah 1002 nazam dan bahkan sudah hafal Al-Qur’an dalam usia 14 tahun.

Di antara guru-guru beliau adalah Sayyid Abdillah Dema’an, K.H. R. Asnawi Kudus, K.H. Turachan Adjuhr,  K.H. Arwani Amin Al-hafidz, K.H. Turmudzi dan lain-lain. 

Untuk menyambung silaturahim dan menyempurnakan bagian dari agama, K.H. Sya’roni Ahmadi menikah dengan beliau Bu Nyai Afifah (wafat 10 Syawal 1442 H/22 Mei 2021). Dari pernikahannya K.H. Sya’roni Ahmadi dan Bu Nyai Afifah dikaruniai 8 anak. Enam anak perempuan yaitu Zuhairoh, Zulaifa, Zuhaidah, Zuhailah, Zufariyah Noor, dan Manunal Ahna dan 2 anak laki-laki; Muhammad Yusrul Hana dan Muhammad Yusrul Falah. 

Karya-Karya Peninggalan K.H. Sya’roni Ahmadi 

Selain berdakwah beliau melanggengkan tradisi ulama melalui tulisan. Banyak karya-karya buah pena yang dihasilkan K.H. Sya’roni Ahmadi Al-Hafidz dalam berbagai fan ilmu yang sampai saat ini dipelajari dan dikaji di pondok pesantren, madrasah dan lain sebagainya. Di bawah ini karya dari beliau:

1.    Kitab Faraid al-Saniyyah

Kitab ini dita’lif oleh beliau selama kurang lebih dua tahun. Yang di dalamnya memuat doktrin atau dalil-dalil amalan-amalan Ahlussunah Wal Jama’ah yang meliputi ahlussunah itu sendiri dalam hadis nabi, talkin mayit, syahadah lil mayit, ziarah kubur, tawasul, dan lain sebagainya.

2.    Kitab Faidl al-Asani

Dalam samudra ilmunya khususnya dalam bidang Qur’an dan tafsir beliau juga mengarang kitab yang membahas qira’ah sab’ah yang diberi nama Faidl Al-Sani yang terdiri dari 3 juz.

3.    Kitab Al Tashrih al-Yasiir Fi al-Ilmi al-Tafsir

Kitab ini merupakan ta’lif beliau yang membahas tentang tafsir yang mempunyai tebal 79 halaman yang selesai disusun pada 1408 H. Membahas mulai segi pembacaan, lafal-lafal, sanad, makna-makna yang berkaitan dengan hukum dan sebagainya. Dalam susunannya kitab ini tersusun bab demi bab yang berisi bait-bait syair yang kemudian diberikan penjelasan di bawahnya.

4.    Kitab Tarjamah al-Sulam al-Munawaraq 

Kitab ini merupakan kitab dari fan ilmu mantiq. Yang membahas mengenai logika dan fikiran manusia dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

5.    Kitab Tarjamah Tashil Al-Turuqat 

Kitab ini merupakan terjemah dari nazam waraqat dalam fan ilmu Ushul Fiqh dengan tebal 53 halaman yang telah selesai disusun pada Rabu kliwon 20 Safar 1405 H/14 November 1984 M. Di dalamnya dilengkapi dengan nazam-nadam waraqat beserta makna pesantren serta beliau juga melengkapi penjelasan penjelasan dari setiap nazamnya.

6.    Kitab Qiraah Al Ashriyyah

Sebagaimana yang telah dituturkan oleh beliau, kitab ini disusun untuk memudahkan para santri atau murid dalam belajar kitab kuning. Dan kitab ini juga tersusun menjadi 3 Juz.

Kabar wafat K.H. Sya’roni Ahmadi Al-Hafidz Kudus 

Duka mendalam bagi masyarakat Kudus, muhibin dan para santri-santrinya K.H. Sya’roni Ahmadi wafat pada Selasa 27 April 2021 M bertepatan 15 Ramadan 1442 H. Ribuan pelayat memadati dalem beliau guna ngalap berkah, mendoakan, serta mengikuti prosesi pemakaman beliau. K.H. Sya’roni Ahmadi Al-Hafidz Kudus dimakamkan sekira pukul 16:00 di kompleks dalem beliau sendiri tepatnya di sebelah barat aula belakang dalem beliau yang terletak di Dukuh Pagongan Desa Kajeksan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Semoga kita semua diberikan taufik-Nya untuk meneladani sifat dan akhlak beliau. Amiin. 

Sumber : LP Ma'arif NU Jateng

Kamis, 05 Mei 2022

KH. M. Ma'ruf Irsyad Sang Murobbi Ruh Sejati




Qudsiyyahputri.com. KH. M MA’RUF IRSYAD. lahir pada hari ahad pon, 27 muharrom 1358 H. Yang bertepatan dengan 19 maret 1939 M. Di langgardalem, Kota, Kudus. Dari pasangan KH. Irsyad dan Hj. Munijah. Kyai Ma’ruf merupakan anak ke -9 dari sepuluh bersaudara. Namun yang hidup dari sepuluh bersaudara tersebut sampai dewasa hanya 5 yaitu: ibu Hj. Ruqoyyah, H. Mas’ud , KH. Selamet Solichul Hadi, Hj. Zubaedah, dan KH. M. Ma’ruf Irsyad. Ayah beliau berasal dari Balung Kendal, Balerejo, Dempet, Demak dan merupakan seorang sufi yang saleh dan handal mengaktualisasikan kitab-kitab salaf.

Menurut statement sosiolog, ’’garis keturunanbagi seorang kyai dipandang sebagai suatu faktor yang menyebabkan seorang menjadi kyai besar’’. Disamping pengetahuan dan ilmu agamanya yang luas .

Mungkin ini juga yang menjadi salah satu faktor KH. Ma’ruf irsyad akhirnya menjadi kyai besar. Garis keturunan belia jika ditarik ke atas adalah Ma’ruf bin Irsyad bin Kertonadi bin Ahmad Yasir bin Syariban bin syeh Dzakirin kemudian nasab beliau berlanjut sampai pada pangeran kadilangu Demak.

Bahkan sejumlah kalangan mempercayai bahwa kyai ma’ruf irsyad termasuk keturunan Raden syahid Sunan Kalijaga Demak yang merupakan salah satu Walisongo.

Adapun ibunda kyai ma’ruf adalah putri dari mbah sumo masijan seorang tukang jagal kerbau yang tersohor sebagai ahli bidang ilmu supranatural yang berdomisilih di kota kudus, yang konon berasal dari kadilangu demak.

Masa kecil

Sejak kecil beliau sudah merasakan pahitnya kehidupan. Menginjak umur 3 tahun beliau sudah menjadi yatim, ayah beliau KH.irsyad menghaap illahi robbi tepatnya pada tahun 1942 M. Dimasa penjajahan jepang.

Otomatis ibunda beliau Hj. Munijah mempunyai peran ganda, selai sebagai ibu rumah tanggga, beliau juga harus menompang perekonomian keluarga. Sudah barang tentu sebagai anak-anak yang birrul walidain putra-putri mbah mun (sapaan akrab Hj. Munijah) saling bahu membahu membantu ibundanya. Walaupun masih kecil kyai Ma’ruf tidak mau ketinggalan.

Usaha mbah mun adalah membuat kue atau jajanan, sementara ma’ruf kecil bertugas menyetorkan ke warung warung. Pagi-pagi sekali beliau mengantarkan kue atau jajanan tersebut, namun beliau sering terlambat ke sekolah, dan harus rela mendapat hukuman . karena sering terlambat akhirnya guru-guru beliau mengetahui kondisi beliau kemudian memakluminya.

Sore harinya setelah pulang sekolah ma’ruf kecil kembali ke warung-warung tadi untuk mengambil uang dari hasil penjualan jajanan. Terkadang disaat menunggu ma’ruf kecil diperintah oleh sang pemilik warung untuk mencuci piring tanpa upah. Sebagai anak yang masih polos beliau menjalaninya dengan penuh keikhlasan karena semua ini pasti ada hikmahnya.

Tidak hanya itu sejak masih kecil beliau sudah terampil merajut kain untuk dibuat toplek (kopiyah), karena tidak mempunyai modal beliau menjadi buruh kepada juragan kopiyah. Dari hasil jeri payah membuat toplek tersebut beliau gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pencarian ilmu

Kesungguhan dan semangat belajar beliau memang sudah tampak menonjol sejak masih kecil, walau rintangan membentang tak jadi masalah bagi beliau.

Awal pendidikan beliau dimulai di pesantren kediaman beliau sendiri. Ma’ruf kecil bersama dengan kakaknya yang bernama solichul hadi, belajar pula mengaji pada kakak iparnya KH.rif’an yang pada saat itu pengasuh pesantren raudlatul mutta’allimin setelah peninggalan mbah irsyad.

Walau kecerdasan ma’ruf kecil tidak dalam kategori istimewa namun beliau mempunyai himmah yang kuat untuk belajar ilmu-ilmu agama, dan sangat tekun mengisi waktunya dengan menuntut ilmu-ilmu agama. Beliau benar-benar memanfaatkan waktunya dengan mendatangi majlis-majlis para tokoh ulama kota kudus yang menjadi rujukan umat di zamannya. Diantaranya guru-guru beliau adalah KH. Ma’ruf Asnawi, KH. Turaikhan Adjuhri, KH. Arwani Amin, KH. Hambali, KH. Ma’mun Siroj, KH. Sirojuddin, dan KH. Sya’roni Ahmadi.

Disamping mengaji diberbagai majlis ta’lim kepada kyai, ma’ruf kecil juga pernah mengenyam pendidikan formal. Beliau pertama kali belajar di SD demangan kudus, namun beliau hanya sampai kelas 5 saja. Dikarenakan ingin mendalami ilmu-ilmu agama beliau pindah ke MI TBS kudus yang pada saat itu masih di ampu oleh guru-guru favorit beliau. Hingga dilanjutkan ke jenjang tsanawiyyah. Sorenya beliau belajar di madrasah mu’awanatul muslimin yang konon merupakan madrasah tertua di kudus.

Hebatnya, meski masih kecil, setiap beliau mendaftar sekolah ma’ruf kecil selalu datang sendiri tanpa diantar seorang wali sebab beliau tidak mau menyusahkan orang lain. Itu karena sosok mandiri beliau yang sudah tertanam sejak masih kecil dan atas dasar keinginan yang kuat untuk menunaikan kewajiban menuntut ilmu.

Pernikahan

Pada saat itu putri dari KH. Ma’ruf Asnawi yaitu nyai Salamah adalah kembang desa yang menjadi buah bibir karena kecantikannya. Selain berparas cantik dan putri dari seorang kyai tentu kesolehannya sudah tidak diragukan lagi, mungkin itu penyebab para pelamar dari orang-orang kaya hingga para pejabat berlomba-lomba ingin mendapatkannya.

Akan tetapi mbah ji (sapaan akrab KH. Ma’ruf Asnawi) seorang kyai alim yang terkenal dengan kezuhudannya. Hanya saja beliau menginginkan seorang menantu yang berkompeten dalam bidang ilmu agama.

Seakan seperti sayembara, setiap ada pelamar mbah ji menyodorkan kitab kuning untuk dibaca sambil berucap ‘’njenengan sampun saged nopo kok sampun wonten ngelamar putri kulo.’’ Mengetahui persyaratan tersebut banyak para pelamar yang  menyerah satu persatu atau dalam kata lain menyerah sebelum bertanding.

Sikap mbah ji sepertinya memberi isyarat bahwa putrinya hanya akan diberikan kepada murid kesayangan yaitu M. Ma’ruf Irsyad seorang pemuda yang alim dan berkepribadiaan mulia. Akhirnya gayung pun bersambut mbah mun meminang putri mbah ji untuk putra kesayangan.

Pernikahan M. Ma’ruf Irsyad dan ibu Salamah jatuh pada hari selasa pon 11 mei 1965 M. Bertepatan dengan hari kemenangan islam sedunia plus buka luwur sayyid ja’far shadiq sunan kudus 10 muharrom 1385 H. Walaupun pernikahan tersebut dilaksanakan secara sederhana akan tetapi tetap berlangsung dengan sangat khidmat.

Dari pernikahan ini beliau di karuniai 6 anak yaitu: Hj. Uswah Ma’ruf (kauman menara kudus), kami murtadlo (meninggal ketika berumur 1,5 tahun), Hj.Ulfa Ma’ruf (cendono kudus), Hj. Khorin Nida (janggalan kudus), Hj. Sailin Nihlah (bareng kudus), Hj. Dini Fakhriyati (langgar dalem kudus) ketiga diantaranya merupakan hamilatul qur’an.

Masa-masa sulit

Setelah menikah. Beliau bersama istrinya harus berjuang secara mandiri untuk mengarungi samudra kehidupan dalam biduk rumah tangga. Untuk menghidupi diri dan keluarga, beliau mengajarsambil berkhidmah di madrasah qudsiyyah yang keadaannya masih sangat memprihatinkan. Belum semaju seperti sekarang, dengan hanya mengandalkan gaji guru pada masa itu sudah barang tentu perekonmian keluarga masih belum mencukupi. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengikuti tes seleksi PGA (PNS guru agama) dengan tujuan meringankan beban madrasah agar tidak perlu menggaji beliau lagi dan mendongkrak perekonomian keluarga. Dan alhamdulillah beliau lulus seleksi dan menjadi guru PNS, walaupun sudah menjadi guru PNS beliau ditugaskan tetap mengajar di qudsiyyah.

Namun beliau menjadi guru PNS tidak belangsung lama, karena setiap pegawai negri harus masuk golkar yang pada saat itu belum ada kata ``partai’’nya. Padahal beliau tidak ingin berkecipung di catur kepolitikan, akhirnya beliau memutuskan untuk keluar dari PNS, banyak sekali yang menyayangkan keputusannya. Tapi bagaimana lagi? Tekat beliau sudah bulat tak bisa tergoyahkan lagi.

Setelah keluar dari PNS perekonomian beliau kembali terpuruk. Sebagai seorang muslim sejati beliau tidak mau hanya berpangku tangan, sebab allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya.

Setelah mondar-mandir kesana kemari akhirnya beliau mendapatkan tawaran dari kakaknya sendiri yaitu; H. Mas’ud untuk ikut bekerja di toko kain ``barokah’’ kyai ma’ruf akhirnya bekerja di toko tersebut, setiap selesai mengajar sampai terbenamnya matahari.

Mengasuh pesantren

Pondok pesantren raudlatul muta’allimin yang didirikan mbah irsyad sebelumnya hanya bangunan yang secara fisik awalnya biasa saja, konon hanya terbuat dari bambu tidak semegah seperti sekarang , namun setelah KH.M. ma’ruf irsyad mulai mengasuh pesantren yang berdiri sebelum kemerdekaan ini, berangsur-angsur berkembang baik segi fisik maupun pendidikan.

Banyak para donator-donatur yang tidak segan menginfakkan hartanya kepada pesantren, bahkan jumlah santripun meningkat setiap tahunnya, hal itu disebabkan keuletan serta keikhlasan beliau. Hingga nama pondok pesantren raudlatul muta’allimin yang juga dikenal pondok jagalan, sekarang lebih masyhur dengan sebutan ``pondok kyai ma’ruf.’’

Setiap santri dianggap seperti anak sendiri tanpa pandang bulu, para santrimembayar iuran itu hanya untuk keperluan santri sendiri. Bahkan dulu tunggakan listrik pondok, kyai ma’ruf sendiri yang membayarnya. Dikisahkan bahwa setiap para santrinya yang memberikan bisyaroh, beliau selalu mengembalikannya dengan bentuk membelikan fasilitas-fasilitas untuk para santri.

Wadhifah

Kegiatan beliau sehari-hari sangatlah sibuk sangat tidak mungkin jika dilakukan oleh orang biasa. Setiap pagi beliau pergi mengajar ke berbagai madrasah diantaranya, madrasah qudsiyyah, TBS kudus, banat kudus, mu’allimat kudus, diniyah kradenan kudus, dan mu’awanatul muslimin kenepan kudus.

Siang hingga sore harinya jika tidak ada undangan beliau gunakan untuk istirahat dan menerima tamu. Rumah beliau terbuka lebar untuk para tamunya, siapapun yang datang kepada beliau akan dilayani dengan ramah. Bahkan tatkala menyajikan suguhan, dan tak jarang beliau sering mengangkat sendiri sajian dari dapur dan menyugukannya kepada para tamunya.

Malamnya, mulai magrib beliau sudah berada di masjid untuk berjamaah bersama para santri dan masyarakat. Dilanjutkan dengan pengajian rutin setiap ba’da magrib. Beliau punya prinsip tidak mau menerima undangan jika bersamaan dengan mengajar para santri.

Sehabis shalat isya’ kyai yang juga ketua dewan syuriah PC NU Kudus ini merupakan seorang muballigh yang handal. Hingga hampir setiap malam beliau harus memnuhi undangan ke berbagai daerah dan pulang hingga larut malam. Sesibuk itu beliau masih sempat bangun malam untuk menunaikan ibadah tahajud dan shalat ssunnah lainnya. Memang di lihat dari dzahirnya kelihatan sangat berat, namun jika sudah didasari dengan rasa cinta semua menjadi ringan melakukannya.

Setiap subuh beliau selalu ke masjid untuk berjamaah bersama para masyarakat sekitar dan para santrinya. Diceritakan,bahwa kyai ma’ruf setiap ba’da shalat subuh bulan sya’ban beliau membagi bagikan uang ataupun sarung kepada para masyarakat yang ikut berjama’ah, supaya masyarakat sekitar bersemangat untuk berjama’ah di masjid.

Keistiqomahan

Kyai yang berthoriqoh naqsabandiyyah kholidiayyah ini merupakan sosok yang istiqomah, itu terbukti setiap beliau mengajar ataupun mengisi majlis ta’lim, beliau tidak pernah absen kecuali udzur syar’i. Bahkan diceritakan bahwa beliau mengajar di majlis ta’lim karang malang selama 20 tahun tidak pernah absen sama sekali.

Problem solving

Setiap kali para santri mendapatkan masalah baik berupa tingkah laku maupun yang lainya kyai ma’ruf selalu memberi jawaban dan solusi. Padahal para santri belum mengutarakannya (disimpan dalam hati). 

Kitab yang diajarkan

Kitab yang beliau ajarkan sangatlah banyak dan beragam, mulai dari kitab-kitab kecil sampai kitab yang besar, kitab-kitab ilmu fiqih hingga tasawuf. Diantara kitab yang beliau ajarkan adalah tafsir jalalain, jami’ shagir, riyadus shalihin, kifayatul atqiya’, majalisu tsaniyyah, irsyadul ibad, hadits buchori muslim, ihya’ ulumuddin, nashaihul ibad, durrotun nasihin, sulam taufiq, dll

Kepergian sang murobbi ruh

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Di usia senja beliau masih eksis dalam mengajar dan berdakwah, bahkan kegiatan beliau malah semakin padat , apalagi dibulan rajab (syahrullah), dan bulan sya’ban (syahru rosululilah). Terpampang jelas di kalender yang bisa dibuat mencatat jadwal pengajiannya terlihat banyak coretan menandakan sangking padatnya.

Pada malam rabu tanggal 21 juli 2010 beliau memimpin acara peringatan haul KH.M.Irsyad , ayahhandanya. Acara tersebut sudah rutin diadakan setiap tahunnya dan beliau tidak pernah absen memimpin acara tersebut. Dalam acara tersebut beliau masih terlihat bugar. keeesokan harinya setelah menunaikan sholat dzuhur berjamaah dengan para santri beliau merasakan sakit nyeri sehingga beliau dilarikan ke RSUD kudus dan dimasukkan ruang ICU. hari kamis legi tanggal 22 juli 2010 /10 sya’ban 1431 jam 08.00-09.00 beliau pulang kehadirat allah dengan raut wajah bahagia.

Sumber : Santri Jagalan

Kamis, 14 April 2022

KH. Yahya Arif


Qudsiyyahputri.com. KH. Yahya Arif tak lain merupakan putra ke tiga dari dua belas bersaudara pasangan dari H. Arif dan Ardinah. Dilahirkan pada tanggal 23 Juni 1923 M, di desa Kauman Menara Kudus. Sosok KH Yahya Arif tumbuh dan berkembang di lingkungan pondok pesantren dan kyai.

Masa Muda dan Pendidikan

Bermacam-macam pengajaran dan pengalaman pendidikan beliau lalui. Pertama kali beliau masuk Madrasah Qudsiyyah, di mana saat itu murid Madrasah Qudsiyyah masih sedikit. Sebagai orang yang termasuk keluarga kurang mampu, sambil sekolah beliau membuat layang-layang untuk kemudian dijual ke pasar Johar (Wergu). Ini dilakukan tak lain untuk membiayai sekolah serta mencukupi kebutuhan sehari-harinya. 

Setelah lulus dari Madrasah Qudsiyyah, beliau melanjutkan studi dan berguru pada kyai Yahya Abu Amar Sunggingan. Karena beliau sangat patuh dan tekun dalam belajar, maka gurunya begitu sayang dan selalu memperhatikannya. Setelah itu beliau meneruskan studinya ke pesantren Tanggulangin Sidoarjo. Selain terkenal dengan kecerdasannya yang luar biasa, KH. Yahya Arif dikenal dengan sifatnya yang andhap ashor (ramah tamah). Hal ini membuat gurunya menyukainya dan bahkan menjadikannya sebagai abdi dalem (pembantu gurunya). 

Selaian mondok, beliau juga berguru pada beberapa kyai di Kudus antara lain KH. Ma’mun Siraj untuk mendalami ilmu Faraid. Dalam hal Ilmu Falak beliau berguru kepada KH. Turaichan Adjhuri as Syarofi Langgardalem Kudus. 

Sekitar tahun 1951 M KH Yahya Arif pulang dari pesantren Tanggulangin Surabaya. Kepulangan beliau disambut gembira oleh masyarakat dan lantas beliau diminta untuk mengajar di Madrasah Qudsiyyah. 

Perjuangan untuk Madrasah 

Perjuangan beliau dalam memajukan Madrasah sangat besar. Perannya dalam memajukan Madrasah terlihat dalam bidang pendidikan. Kitab-kitab yang beliau tulis untuk diajarkan di madrasah begitu banyak dan hingga saat ini terus digunakan. 

Dalam hal administrasi, peran beliau sangat penting. KH Yahya Arif terkenal dengan ketelitiannya dalam hal tata usaha madrasah saat itu. Sehingga banyak data-data penting madrasah yang tetap terselamatkan hingga saat ini. Prinsip beliau tak lain adalah demi kepentingan dan kemajuan Madrasah Qudsiyyah.

Kehidupan dalam Keluarga 

Seperti halnya pria lain, beliau juga menjalankan sunnah rasul yaitu menikah. KH Yahya Arif memperistri Ibu Ni'afah, seorang gadis dari Janggalan Kota Kudus. Tepatnya pada 20 Rabi’ul Awal 1377 H bertepatan dengan tanggal 15 Oktober 1957 M beliau menjalankan akad nikah. Dalam menjalani rumah tangga beliau dikaruniai empat anak yaitu Sa’adah, Syafa’ah, Sayyidah, dan Masykuri. 

Sebagai kepala rumah tangga, tidak lepas dari tanggungjawab memberi nafkah kepada keluarga. Beliau pun bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Di samping mengajar di Madrasah Qudsiyyah, beliau juga memproduksi pakaian kemudian menjualnya. Selain itu, beliau juga pernah melakukan hubungan kerja secara syirkah dengan orang Kedungwaru Demak dalam bidang pertanian dan perkayuan. Namun kerja keras itu semua tak tampak di mata umum sehingga wajar kalau orang mengatakan, bahwa Mbah Ya, panggilan akrab beliau, hanya mengajar di Madrasah Qudsiyyah. 

Naik Haji 

Pada tahun 1993 M beliau menjalankan ibadah haji bersama guru-guru Madrasah Qudsiyyah yang lain. Ini merupakan fadhal dari Allah atas keuletan dan kerja keras beliau.

Kegemaran Beliau 

Di masa hidupnya beliau mempunyai banyak kegemaran di antaranya adalah silaturrahim ke tempat yang dekat ataupun jauh. Tak peduli entah itu terhadap yang tua maupun terhadap yang muda. Kegemaran lainnya adalah suka menyenangkan putra-putrinya dengan membuatkan mainan anak-anak yang baru musim di waktu itu. 

Bershodaqoh juga menjadi hobi KH Yahya Arif. Utamanya kepada para pengemis yang ada di lingkungan Menara, dan kepada pengemis yang datang ke rumahnya setiap hari Jumuah. Di samping itu, mbah Ya juga gemar bershadaqah pada hari Kamis berupa jajan pasar. 

”Tiada hari tanpa muthola’ah” menjadi prinsip beliau. Dengan kegemaran ini terbukti banyak karya-karya yang beliau tulis dan hingga sekarang masih tetap digunakan sebagai kitab pegangan di Madrasah yang berdiri sejak tahun 1919 ini. 

Membaca Al-Qur’an di waktu malam menjadi kegemaran beliau yang jarang ditinggalkan. Menurut cerita dari keluarga, KH Yahya Arif setelah pulang dari Baitullah selalu khatam Al Qur’an setiap pekan dan biasanya khataman pada malam Kamis. 

Pulang ke Rahmatullah 

Innalillahi wainna Ilaihi Raji’un, pada Rabu Kliwon, 28 Muharram 1418 H. bertepatan dengan tanggal 4 Juni 1997 M pukul 19.30 WIB KH. Yahya Arif dipanggil oleh Allah dalam usia 74 tahun. Pemakaman beliau dilaksanakan pada Hari Kamis Legi sekitar pukul 14.00 WIB di pemakaman Sedio Luhur Krapyak Kudus. Beliau wafat meninggalkan dua orang putri dan satu putra serta empat cucu. 

Minggu, 13 Februari 2022

KHR. Asnawi



Kelahiran, Nama dan Nasab


KH Raden Asnawi, atau biasa disebut Mbah Asnawi dilahirkan pada hari Jum’at Pon, kisaran tahun 1861 M (1281 H) di daerah Damaran, salah satu desa di kecamatan Kota Kudus, Jawa Tengah. Orang tuanya memberikan nama "Ahmad Syamsyi" bagi dirinya. Nama ayah beliau adalah H. Abdullah Husnin, sedangkan ibu beliau bernama Raden Sarbinah. H. Abdullah Husnin, ayah beliau berprofesi sebagai seorang pedagang konfeksi yang tergolong besar. Apabila dirunut keatas, beliau merupakan ma keturunan ke-14 Sunan Kudus (Raden Ja’far Shodiq) dan keturunan ke-5 KH Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati, seorang kiyai yang terkenal akan kewaliannya.

Perkembangan dan Pendidikan

Ahmad Syamsyi dikenalkan pada pelajaran agama semenjak kecil oleh orang tuanya, disamping juga mengajarkan cara berdagang. Pada usia15 tahun, sekitar tahun 1876 M. orang tuanya pindah ke Tulungagung Jawa Timur. Di sana ayahnya mengajarkan cara berdagang  berdagang mulai dari pagi hingga siang. Sepulang dari berdagang, mulai dari sore sampai malam hari beliau  mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung. Beliau juga pernah mengahi kepada KH. Irsyad Naib, Mayong, Jepara.

Mengajar Ilmu Agama


Sewaktu umur 25 tahun, kira-kira pada tahun 1886 M. Ahmad Syamsi menunaikan ibadah haji yang pertama Sepulangnya dari haji pertamanya, nama Raden Ahmad Syamsi diganti dengan Raden Haji Ilyas.  Nama Ilyas ini kemudian diganti lagi dengan Raden Haji Asnawi, setelah pulang dari menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya.

Kira-kira umur 30 tahun KHR. Asnawi diajak oleh ayahnya untuk pergi haji yang kedua dengan niat untuk bermukim di tanah suci. Di saat-saat melakukan ibadah haji, ayahnya pulang ke rahmatullah, meskipun demikian, niat bermukim tetap diteruskan selama 20 tahun. Selama itu KHR.Asnawi juga pernah pulang ke Kudus beberapa kali untuk menjenguk ibunya yang masih hidup beserta adik yang bernama H. Dimyati yang menetap di Kudus hingga wafat. Ibunya wafat di Kudus sewaktu KHR. Asnawi telah kembali ke tanah suci untuk meneruskan cita-citanya.

Sepulangnya dari ibadah haji ini, KHR. Asnawi mulai mangajar dan melakukan tabligh agama. Pada setiap Jumu’ah Pahing, sesudah shalat Jumu’ah, KHR. Asnawi mengajar Tauhid di Masjid Muria (Masjid Sunan Muria) yang berjarak + 18 Km dari kota Kudus, dan jalan pegunungan yang menanjak ini ditempuhnya dengan berjalan kaki. KHR. Asnawi juga selalu berkeliling mengajar dari masjid ke masjid sekitar kota saat shalat Shubuh.

Secara khusus KHR. Asnawi juga mengadakan pengajian rutin, seperti Khataman TafsirJalalain dalam bulan Ramadlan di pondok pesantren Bendan Kudus. Khataman kitab Bidayatul Hidayah dan al-Hikam dalam bulan Ramadlan di Tajuk Makam Sunan Kudus. Membaca kitab Hadist Bukhari yang dilakukan setiap jamaah fajar dan setiap sesudah jama’ah shubuh selama bulan Ramadhan bertempat di Masjid al-Aqsha Kauman Menara Kudus, sampai KHR. Asnawi wafat, kitab ini belum khatam, makanya diteruskan oleh al-Hafidh KHM. Arwani Amin sampai khatam. Kegiatan dakwah beliau tidaklah terbatas daerah Kabupaten Kudus saja, melainkan juga menjangkau ke daerah lain seperti Demak, Jepara, Tegal, Pekalongan, Semarang, Gresik, Cepu, dan Blora.

Di antara ilmu yang diutamakan oleh KHR. Asnawi adalah Tauhid dan Fiqih. Karenanya, bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya, KHR. Asnawi hingga kini masih selalu diingat melalui karya populernya yang kini dikenal dengan “Shalawat Asnawiyyah.”  Selain itu karya Asnawi seperti Soal Jawab Mu’taqad Seket, Fasholatan Kyai Asnawi (yang disusun oleh KH. Minan Zuhri), Syi'ir Nasihat, Du’aul ‘Arusa’in, Sholawat Asnawiyyah dan syi’iran lainnya juga tetap diajarkan di pengajian-pengajian pesantren dan masjid-masjid hingga saat ini.

Kehidupan di Mekah

Di Mekah, KHR. Asnawi tinggal di rumah Syeikh Hamid Manan (Kudus). Namun setelah menikahi Nyai Hj. Hamdanah (janda Almaghfurlah Syeikh Nawawi al-Bantani), KHR. Asnawi pindah ke kampung Syami’ah. Dalam perkawinannya dengan Nyai Hj. Hamdanah ini, KHR. Asnawi dikaruniai 9 putera. Namun hanya 3 puteranya yang hidup hingga tua. Yaitu H. Zuhri, Hj. Azizah (istri KH. Shaleh Tayu) dan Alawiyah (istri R. Maskub Kudus).

Selama bermukim di Tanah Suci, di samping menunaikan kewajiban sebagai kepala rumah tangga, KHR. Asnawi masih mengambil kesempatan untuk memperdalam ilmu agama dengan para ulama besar, baik dari Indonesia (Jawa) maupun Arab, baik di Masjidil Haram maupun di rumah. Para Kyai Indonesia yang pernah menjadi gurunya adalah KH. Saleh Darat (Semarang), KH. Mahfudz (Termas), KH. Nawawi (Banten) dan Sayid Umar Shatha.

Selain itu, KHR. Asnawi juga pernah mengajar di Masjidil Haram dan di rumahnya, di antara yang ikut belajar padanya, antara lain adalah KH. Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), KH. Bisyri Sansuri (Pati/Jombang), KH. Dahlan (Pekalongan), KH. Shaleh (Tayu pati), KH. Chambali Kudus, KH. Mufid Kudus dan KHA. Mukhit (Sidoarjo). Di samping belajar dan mengajar agama Islam, KHR. Asnawi turut aktif mengurusi kewajibannya sebagai seorang Komisaris SI (Syariat Islam) di Mekah bersama dengan kawan-kawannya yang lain.

Pada waktu bermukim ini, KHR. Asnawi pernah mengadakan tukar pikiran dengan salah seorang ulama besar, Mufti Mekah bernama Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau tentang beberapa masalah keagamaan. Pembahasan ini dilakukan secara tertulis dari awal masalah hingga akhir, meskipun tidak memperoleh kesepakatan pendapat antara keduanya. Karena itu KHR. Asnawi bermaksud ingin memperoleh fatwa dari seorang Mufti di Mesir, maka semua catatan baik dari tulisan KHR. Asnawi dan Syeikh Ahmad Khatib tersebut dikirim ke alamat Sayid Husain Bek seorang Mufti di Mesir, akan tetapi Mufti Mesir itu tidak sanggup memberi fatwanya. (sayang, catatan-catatan itu ketinggalan di Mekah bersama kitab-kitabnya dan sayang keluarga KHR. Asnawi lupa masalah apa yang dibahas, meskipun sudah diberitahu).

Melihat tulisan dan jawaban KHR. Asnawi terhadap tulisan Syeikh Ahmad Khatib itu, tertariklah hati Sayid Husain Bek untuk berkenalan dengan KHR. Asnawi. Karena belum kenal, maka Mufti Mesir itu meminta bantuan Syeikh Hamid Manan untuk diperkenalkan dengan KHR. Asnawi Kudus. Akhirnya disepakati waktu perjumpaan yaitu sesudah shalat Jum’ah. Oleh Syeikh Hamid Manan maksud ini diberitahukan kepada KHR. Asnawi dan diatur agar KHR. Asnawi nanti yang melayani mengeluarkan jamuan.

Sesudah shalat Jum’ah datanglah Sayyid Husain Bek ke rumah Syeikh Hamid Manan dan KHR. Asnawi sendiri yang melayani mengeluarkan minuman. Sesudah bercakap-cakap, bertanyalah tamu itu: “Fin, Asnawi?” (Dimana Asnawi?), “Asnawi? Hadza Huwa” (Asnawi ? Inilah dia) sambil menunjuk KHR. Asnawi yang sedang duduk di pojok, sambil mendengarkan percakapan tamu dengan tuan rumah. Setelah ditunjukkan, Mufti segera berdiri dan mendekat KHR. Asnawi, seraya membuka kopiah dan diciumlah kepala KHR. Asnawi sambil berkenalan. Kata Mufti Sayyid Husain Bek kepada Syeikh Hamid Manan: "Sungguh saya telah salah sangka, setelah berkenalan dengan Asnawi. Saya mengira tidaklah demikian, melihat jasmaniahnya yang kecil dan rapih".

Teguh Dalam Berdakwah

Saat menjenguk kampung halamannya, bersama kawan-kawannya KHR. Asnawi mendirikan Madrasah Madrasah Qudsiyyah (1916 M). Dan tidak berselang lama, KHR. Asnawi juga memelopori pembangunan Masjid Menara secara gotong royong. Malam hari para santri bersama-sama mengambil batu dan pasir dari Kaligelis untuk dikerjakan pada siang harinya. Di tengah-tengah melaksanakan pembangunan itulah, terjadi huru-hara pada tahun 1918 H, kejadian ini berbuntut pada penangkapan terhadap KH. Asnawi dan rekannya KH. Ahmad Kamal

Damaran, KH. Nurhadi dan KH. Mufid Sunggingan dan lain-lain, dengan dalih telah mengadakan pengrusakan dan perampasan oleh pemerintah penjajah. Mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam penjara dengan masa hukuman 3 tahun.

Pada zaman penjajahan Belanda, KHR. Asnawi  juga sering dikenakan hukuman denda karena pidatonya tentang Islam serta menyisipkan ruh nasionalisme dalam pidatonya. Begitu juga pada masa pendudukan Jepang. KHR. Asnawi pernah dituduh menyimpan senjata api, sehingga rumah dan pondok KHR. Asnawi dikepung oleh tentara Dai Nippon, dan KHR. Asnawi pun dibawa ke markas Kempetai di Pati.

Meski sering menghadapi ancaman hukuman, namun KHR. Asnawi tidak pernah berhenti berdakwah, amar ma'ruf nahi munkar. Bahkan didalam penjara sekalipun, KHR. Asnawi tetap melakukan amar ma'ruf nahi munkar. KHR. Asnawi tetap membuka pengajian di penjara. Banyak kemudian di antara para penjahat kriminal yang dipenjara bersamanya, kemudian menjadi murid KHR. Asnawi.

Fatwa Larangan Berdasi

Dalam memperjuangkan Islam, KHR. Asnawi memiliki pendirian yang teguh. Prinsip-prinsip hidupnya sangat keras dan watak perjuangnnya terkenal galak, sebab kala itu bangsa Indonesia sedang dirundung nestapa penjajahan kaum kafir. Keyakinan inilah yang dipeganginya sangat kokoh sekali. Bagi KHR. Asnawi, segala hal yang dilaksanakan oleh Belanda tidak boleh ditiru. Bahkan tidak segan-segan KHR. Asnawi memfatwakan hukum agama dengan sangat tegas, anti-kolonialisme, seperti mengharamkan segala macam bentuk tasyabbuh (menyerupai) perilaku para penjajah dan antek-anteknya.

Salah satu diantara fatwanya yang keras ini adalah larangan untuk memakai berdasi dan menghidupkan radio, termasuk menyerupai gaya jalan orang-orang kafir (Belanda dan China). Fatwa larangan berdasinya ini sangat terkenal, hingga suatu ketika KH Saifuddin Zuhri melepaskan dasi dan sepatunya ketika mengunjungi KHR. Asnawi. KH Saifuddin Zuhri kala itu sedang menjabat Menteri Agama, namun demi menghormati KHR. Asnawi, ia bertamu hanya dengan memakai sandal tanpa dasi.

Tawaran Menjadi Penghulu

Pada kisaran tahun 1927 M. KHR. Asnawi membangun pondok pesantren di Desa Bendan Kerjasan Kudus, di atas tanah wakaf dari KH. Abdullah Faqih (Langgar Dalem) dan dukungan dari para dermawan dan umat Islam. Pada tahun ini pula, Charles Olke Van Der Plas (1891-1977), seorang pegawai sipil di Hindia Belanda, pernah datang ke rumah KHR. Asnawi untuk meminta kesediaannya memangku jabatan penghulu di Kudus. Secara tegas KHR. Asnawi menolak penawaran tersebut.

Dalam pandangan KHR. Asnawi, jika dirinya diangkat sebagai penghulu, maka tidak akan lagi dapat bebas melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap para pejabat. Beda halnya jika tetap menjadi orang partikelir, ia dapat berdakwah tanpa harus menanggung rasa segan (ewuh pakewuh).

Wafatnya KH Asnawi

KHR. Asnawi berpulang ke rahmatullah pada Sabtu Kliwon, 25 Jumadil Akhir 1378 H. bertepatan tanggal 26 Desember 1959 M. pukul 03.00 WIB. KHR. Asnawi meninggal dunia dalam usia 98 tahun, dengan meninggalkan 3 orang istri, 5 orang putera, 23 cucu dan 18 cicit (buyut). Kabar wafatnya KH.R Asnawi disiarkan di Radio Republik Indonesia (RRI) Pusat Jakarta lewat berita pagi pukul 06.00 WIB. Penyiaran itu atas inisiataif Menteri Agama RI KH Wahab Chasbullah yang ditelepon oleh HM. Zainuri Noor.