Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Rabu, 19 Agustus 2026

SEJUTA RINDU, PADAMU SANG KYAI SEJUTA KRIDA


    Sekitar 73 tahun silam, tepatnya pada tahun 1953, seorang Hj. Masyfiah Padurenan melahirkan putranya yang ketiga. Anak yang diharapkan tumbuh dengan membawa kejayaan serta kasih sayang bagi orang-orang disekitarnya. Terlihat dari nama yang H. Muhammad Asnawi dan Hj. Masyfiah berikan, yakni Fathur Rahman. Beliau merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara yakni Sholih (meninggal waktu kecil), K. Agus Nawawi, KH. Fathur Rahman (beliau), KH. Muslihuddin, Hj. Sholihah , KH. Ahmad Asnawi dan H. Muhdi Asnawi. Dibesarkan di desa yang religius dan kental akan kebudayaan Islamnya, KH. Fathur Rahman dididik tegas oleh orangtuanya, sehingga menjadikan beliau pribadi yang tangguh dan kuat akan prinsipnya. 

KH. Fathur Rahman kecil mengawali pendidikan di SD Padurenan hingga lulus pada tahun 1965. Patuh akan perintah sang ayah, beliau melanjutkan pendidikan di pondok Bejen, milik KH. Chambali Sumardi sekaligus menimba ilmu di MI Qudsiyyah dan masuk di kelas tiga MI. Setelah lulus MI, beliau mengembangkan keilmuannya di MTS Qudsiyyah pada tahun 1970 hingga lulus pada tahun 1973. Kemudian beliau menyelesaikan Pendidikan Madrasah Aliyah Qudsiyyah sebagai lulusan pertama, pada tahun 1976.

Setelah menamatkan pendidikan sebagai mutakhorijin Madrasah Qudsiyyah, beliau, atas bimbingan dan arahan Guru Besar KH. Sya’roni Ahmadi, melanjutkan studi ke IAIN Semarang. Bertempur menggali ilmu di sana, sehingga meraih gelar  sarjana muda pada tahun 1979. Ditahun yang sama, pada 1 September 1979, KH Fathur Rahman mulai menjadi pentransfer ilmu di Madrasah Qudsiyyah. Pada saat itu, beliau mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris. KH. Nur Hamid Singocandi, KH. Hilal Haidar Damaran, K. Jalal Mahalli Sunggingan, dan teman teman, adalah angkatan pertama yang menjadi santri KH. Fathur Rahman. 

1983—KH. Yahya Arif menimpakan amanah kepada KH. Fathur Rahman untuk menjadi Kepala Madrasah Aliyah yang merupakan madrasah tertua di Kudus. Maka, sampailah 26 tahun beliau menjadi kepala Madrasah, yakni hingga tahun 2009. Kiprah beliau untuk Qudsiyyah tidak hanya berhenti disitu. Tahun awal didirikannya Ma’had Qudsiyyah pada 2010 lalu, beliau lah yang mengemban amanah untuk menjadi mudir nya. Pada masa itu juga, beliau diangkat menjadi Al Mudirul Khas (wakil dari Al Mudirul ‘Am). Jabatan beliau bertahan hingga 2025, sebelum akhirnya terjadi reorganisasi yayasan. setelah berpulangnya KH. Sya’roni Ahmadi dan Kh. Em Nadjib Hassan. Setelahnya, KH. Fathur Rahman dilepas jabatan sebagai Al Mudirul Khas, dan diangkat menjadi Al Mudirul ‘Am Madrasah Qudsiyyah.

Tak hanya untuk Madrasah Qudsiyyah. KH. Fathur Rahman juga memeras peluh untuk berkiprah di lingkup pendidikan lainnya. Hal ini terbukti dengan jejak beliau mengajar di Madrasah An Nur Daren, Madrasah Al Hidayah Getassrabi, Madrasah Hasyim Asy’ari Karangmalang, Madrasah Diniyyah Sudimoro, dan Madrasah Diniyyah Darussalam Padurenan.

Lain dari kiprah mengajar, Kyai ahli Tawassul yang memiliki kebiasaan membaca semua nama Walisongo dalam setiap hadrohnya ini, aktif dalam kepengurusan Nahdlatul ‘Ulama. Mulai dari tingkat Ranting, MWC, juga tingkat Cabang. Bukan sekedar itu, beliau pun aktif dalam mengisi pengajian rutin di masjid dan musholla. Majelis rutin KH. Fathur Rahman, beliau beri tajuk dengan Tujid Lula (Pitu Mesjid dan Telu Musholla). Mana saja 7 Masjid tersebut? Yakni masjid Winong, masjid Karaan, masjid Gerjen, masjid Srabi Lor, masjid Srabi Kidul, masjid Sudimoro, dan masjid Kebangsan. Sedangkan Telu musholla yang dimaksud adalah musholla Krajan Padurenan, musholla Gerjen, dan musholla Karangmalang. Selain majelis rutinan, beliau juga kerap mengisi pengajian di berbagai daerah. 

KH. Ahmad Asnawi, yang merupakan adik dari KH. Fathur Rahman pernah mengatakan bahwa istikhoroh beliau 99% valid dengan kenyataan. Istikhoroh yang beliau gunakan yakni istikhoroh Al-Qur’an, ayat yang dibuka maka itulah yang menjadi petunjuk. Lantas selain itu, KH. Fathur Rahman adalah Kyai humoris dengan berbagai jokes yang tentunya tetap membuat para pendengarnya berpikir terlebih dahulu sebelum tertawa. Diluar joke-joke yang tentunya sudah membuat para santri hafal akan style guyonan beliau, KH. Fathur Rahman adalah masyayikh yang terkenal akan kelihaian beliau dalam membaca manaqib. Hingga julukan ahli manaqib pun tersemat pada diri beliau. Manaqib yang sering beliau gunakan adalah manaqib Lujainuddani, manaqib syekh Abdul Qodir Al Jilany yang beliau dapatkan dari Habib Muhammad Alkaff (abah dari Habib Ja’far Alkaff). Kitab ini adalah tulisan tangan asli dari Habib Muhammad Alkaff. Selain manakib Lujainuddani, beliau juga sering membaca manaqib Jawahirul Ma’ani dan mendapatkan izin untuk memberikan ijazah manaqib tersebut dari Syekh Jauhari Umar, penyusun manaqib. Dari sana, beliau kerap diminta untuk membacakan manaqib ke tempat orang-orang yang punya hajat.

Sering mengisi pengajian, dan disuwuni untuk membacakan manaqib,  tahukah bahwa beliau merupakan salah satu pendiri dan penggerak majlis Hubbur Rasul—majelis pecinta Rasulullah yang didirikan oleh Habib Abdullah Al Hinduan, Mayong. Beliau menjadi penggerak masyarakat di daerah Kaliwungu dan Gebog. Sedangkan penggerak di Nalumsari adalah Habib Ahmad Al Jufri. Beliau bertiga adalah sahabat karib yang membumikan dan menggemakan  sholawat sebelum kepopuleran Syekher Mania dan Zahir Mania.

Pagi itu, disaat para santri beliau tengah tekun menuntut ilmu. Tepatnya Sabtu Pon, 1 Jumadal Akhiroh 1447 H. atau yang kerap orang awam kenal sebagai Sabtu, 22 November 2025 TU., KH. Fathur Rahman sedang menanti jemputan sopir yang biasa mengantar beliau pergi ziarah ke makam Mbah Sunan Kudus—beberapa tahun terakhir ini, Mbah Fathur memang sedang menjalani rutinitas berziarah ke makam Mbah Ja’far Shodiq setiap hari Sabtu bersama perwakilan guru angkatan di Qudsiyyah— Hari itu, sopir beliau tak dapat datang karena sakit. Alhasil, beliau tidak jadi ziarah. Berselang beberapa waktu, pada pukul 11.00 beliau memutuskan untuk beristirahat di kamar. Namun justru, istirahat itu menjadi istirahat panjang beliau. Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un. 72 tahun, atau 74 tahun versi hijriahnya, KH. Fathur Rahman berpulang pada sang Illahi, Sang Maha Menghidupkan juga Sang Maha Mematikan. Bukan hanya sanak saudara, 7 putra dan 19 cucu beliau, namun para santri-santrinya pun turut merasakan duka mendalam. Di tengah santri Qudsiyyah Putri sibuk mengerjakan puluhan soal ulangan, kabar duka berpulangnya Kyai tercinta kita tersebut, berhasil membuat kelopak tak lagi kuasa membendung tangis mendalam.

Pull Qoute: “Kan rindu selalu segala hal tentangmu. Selamat jalan Mbah Fathur, selamat jalan Kyai sang penghantar sanad Manaqib. ”

Oleh: Sina Gamelalita Mahabati (4 Tahfidz B)