Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Info Pendaftaran Online Santri Baru

Tata Cara dan Langkah Pendaftaran Online

KHR. Asnawi Kudus

KHR. Asnawi Muassis Madrasah Qudsiyyah dan Pendiri NU

Ngaji Online Ponpes Qudsiyyah Putri

Ngaji Online rutin setiap ba'dal maghrib selain malam jumu'ah streaming via fb dan YT Qudsiyyah Putri

Profil Ponpes Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum Ponpes

Profil MTs Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum MTs Qudsiyyah Putri

Tampilkan postingan dengan label kolom ustadz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kolom ustadz. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 September 2026

MENJAGA WARISAN, MENJEMPUT MASA DEPAN

MENJAGA WARISAN, MENJEMPUT MASA DEPAN

Oleh: Muhammad Ainun Najib

 (Pengasuh Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri) 

I. Pesantren dan Amanah Menjaga Warisan Salaf

Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi mata rantai estafet keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya dalam manhaj Syafi’iyyah, keilmuan bukan hanya transmisi teks, tetapi transmisi adab, sanad, dan ruh keilmuan.

Imam An-Nawawi رحمه الله dalam Al-Majmu’ menegaskan:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْعِلْمَ شَرِيفٌ لِشَرَفِ مَعْلُومِهِ

“Ketahuilah bahwa ilmu itu mulia karena kemuliaan objek yang dipelajarinya.”

Ilmu syar’i menjadi mulia karena ia berkaitan dengan Kalamullah dan Sunnah Rasul-Nya. Maka pesantren sebagai penjaga ilmu-ilmu syar’i memiliki tanggung jawab besar: menjaga kemurnian pemahaman sekaligus menanamkan akhlak sebagai buahnya.

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali رحمه الله menjelaskan bahwa ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan:

الْعِلْمُ بِلَا عَمَلٍ جُنُونٌ وَالْعَمَلُ بِلَا عِلْمٍ لَا يَكُونُ

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu tidak akan benar.”

Di sinilah pesantren berdiri sebagai benteng moral bangsa. Bukan hanya mencetak generasi cerdas secara intelektual, tetapi matang secara spiritual dan kokoh secara akhlak.

II. Keutamaan Adab Sebelum Ilmu

Tradisi salaf menempatkan adab di atas segalanya. Abdullah bin Mubarak berkata:

تَعَلَّمْنَا الْأَدَبَ ثَلَاثِينَ سَنَةً وَتَعَلَّمْنَا الْعِلْمَ عِشْرِينَ سَنَةً

“Kami belajar adab selama tiga puluh tahun, dan belajar ilmu selama dua puluh tahun.”

Dalam mazhab Syafi’i, adab terhadap guru dan ilmu merupakan fondasi keberkahan. Imam Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim (yang menjadi pegangan pesantren) menegaskan bahwa keberhasilan menuntut ilmu sangat bergantung pada penghormatan kepada guru.

Imam Asy-Syafi’i رحمه الله sendiri berkata:

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا إِلَّا وَدِدْتُ أَنْ يُجْرِيَ اللَّهُ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِهِ

“Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali aku berharap Allah menampakkan kebenaran melalui lisannya.”

Ini adalah puncak akhlak ilmiah: rendah hati di hadapan kebenaran.

Santri Qudsiyyah Putri harus mewarisi semangat ini—belajar dengan tawadhu’, menghormati guru, menjaga lisan, serta menghindari sikap merasa paling benar. Karena ilmu yang tidak dihiasi tawadhu’ akan berubah menjadi sebab kehancuran.

III. Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu

Dalam kitab Minhajul ‘Abidin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa rintangan pertama dalam perjalanan menuju Allah adalah meluruskan niat. Ilmu yang dipelajari bukan untuk kebanggaan, bukan untuk popularitas, bukan pula untuk mengalahkan orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang mempelajari ilmu agama dengan apa yang seharusnya ditujukan untuk mencari wajah Allah Ta’ala, namun ia mempelajarinya untuk mendapat bagian dari kehidupan dunia, maka tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Daud) 

Ancaman ini sangat berat. Maka pesantren harus terus menanamkan muraqabah—kesadaran bahwa Allah mengawasi setiap niat.

Imam An-Nawawi dalam muqaddimah Al-Arba’in menyebutkan hadits pertama tentang niat sebagai fondasi seluruh amal. Ini menunjukkan bahwa seluruh bangunan ilmu berdiri di atas fondasi ikhlas.

Di tengah zaman yang serba digital, ketika pengakuan dan eksistensi mudah diperoleh melalui media sosial, menjaga niat menjadi jihad tersendiri. Santri harus belajar bahwa kemuliaan bukan pada viralnya nama, tetapi pada diterimanya amal di sisi Allah.

IV. Pesantren sebagai Pilar Moral Bangsa

Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kuat secara ekonomi, tetapi bangsa yang kokoh akhlaknya. Dalam Al-Adzkar, Imam An-Nawawi menjelaskan pentingnya dzikir sebagai penjaga hati. Karena rusaknya moral bermula dari rusaknya hati.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Perubahan sosial bermula dari perubahan batin. Pesantren mendidik santri untuk memperbaiki hati melalui ibadah, dzikir, dan muhasabah.

Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali merinci adab keseharian seorang penuntut ilmu—mulai dari bangun tidur, berinteraksi dengan sesama, hingga menjaga pandangan. Semua ini membentuk karakter.

Moral bangsa tidak lahir dari slogan, tetapi dari pribadi-pribadi yang terbina. Jika setiap santri menjaga shalatnya, lisannya, dan akhlaknya, maka ia telah menyumbang fondasi bagi tegaknya bangsa.

V. Tantangan Zaman dan Keteguhan Manhaj

Zaman terus berubah. Informasi melimpah, pemikiran beragam, bahkan tidak sedikit yang menyimpang dari manhaj Ahlussunnah. Dalam kondisi seperti ini, berpegang pada turats (warisan kitab salaf) menjadi kebutuhan mendesak.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj menunjukkan ketelitian luar biasa dalam memahami dalil dan qaul ulama. Ini mengajarkan bahwa agama tidak boleh dipahami secara serampangan.

Mazhab Syafi’i memiliki metodologi istinbath yang kokoh. Santri perlu memahami bahwa mengikuti mazhab bukan bentuk fanatisme buta, tetapi bentuk disiplin ilmiah.

Imam As-Subki berkata:

مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ

“Siapa yang tidak memiliki guru, maka gurunya adalah setan.”

Di era belajar instan melalui internet, pesan ini semakin relevan. Santri Qudsiyyah Putri harus bangga belajar dengan sanad, talaqqi, dan bimbingan guru.

VI. Perempuan dan Peran Strategis dalam Peradaban

Sebagai pesantren putri, Qudsiyyah Putri memiliki peran besar dalam melahirkan perempuan-perempuan alimah yang berakhlak karimah. Dalam sejarah Islam, perempuan memiliki kontribusi besar dalam ilmu dan peradaban.

Sayyidah Aisyah رضي الله عنها menjadi rujukan para sahabat dalam fiqh dan hadits. Imam Az-Zarkasyi bahkan menulis kitab khusus tentang istinbath hukum Aisyah.

Dalam perspektif Syafi’iyyah, perempuan memiliki hak dan kewajiban menuntut ilmu. Imam An-Nawawi tidak membedakan keutamaan menuntut ilmu antara laki-laki dan perempuan.

Perempuan berilmu akan menjadi madrasah pertama bagi generasi berikutnya. Maka mendidik santri putri berarti menyiapkan fondasi masa depan umat.

Namun kemuliaan perempuan bukan hanya pada kecerdasannya, tetapi pada iffah (kehormatan), haya’ (malu), dan keteguhan menjaga syariat.

VII. Menyatukan Ilmu, Amal, dan Dakwah

Ilmu harus berbuah amal, dan amal harus melahirkan manfaat sosial. Dalam I’anatut Thalibin, dijelaskan pentingnya mengamalkan ilmu dalam kehidupan nyata.

Santri tidak cukup memahami hukum-hukum fiqh, tetapi harus mempraktekkannya dengan disiplin. Tidak cukup memahami akhlak dalam kitab, tetapi harus menampakkannya dalam pergaulan.

Imam Al-Ghazali membagi manusia menjadi empat golongan, dan yang paling celaka adalah orang yang tahu tetapi tidak mengamalkan.

Maka cita-cita pesantren adalah melahirkan pribadi yang benar aqidahnya, lurus ibadahnya, mulia akhlaknya dan luas manfaatnya

Inilah makna khairu ummah.

Dan kini, pesantren adalah benteng terakhir moralitas di tengah arus globalisasi yang deras. Jika pesantren kuat, maka bangsa kuat. Jika pesantren goyah, maka generasi kehilangan arah.

Kita memohon kepada Allah agar Qudsiyyah Putri senantiasa menjadi taman ilmu dan akhlak, tempat lahirnya perempuan-perempuan shalihah yang teguh dalam Manhaj Syafi’iyyah dan kokoh dalam menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.

Sebagaimana doa para ulama:

اللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا

Semoga setiap langkah santri dalam menuntut ilmu menjadi cahaya di dunia dan akhirat, serta menjadi kontribusi nyata bagi tegaknya moral bangsa.

Wallahu a’lam bish shawab.

"Pesantren bukan hanya tempat belajar ilmu, tetapi tempat menanam adab, menjaga sanad, dan merawat Cahaya akhlak."

                        -Muhammad Ainun Najib-

 


Senin, 16 Desember 2024

Hidup Bahagia Dengan Mental Yang Sehat


Ustadzah Nailil Fauziyyah, S.Pd.

 

           Adanya masalah-masalah tersebut sangat mungkin sekali berpengaruh pada kesehatan mental. Kesehatan sangat peting bagi kehidupan sesorang, kualitas hidup yang lebih baik menunjukkan kesehatan fisik dan mental yang baik. Mungkin banyak orang yang beranggapan bahwa keadaan tubuh tanpa penyakit dapat dikatakan sehat, padahal bisa saja terdapat masalah yang bersumber dari dalam diri manusia itu tersebut.

 

          Kehidupan di Pondok Pesantren merupakan miniature kehidupan Masyarakat dimasa depan. Terdapat berbagai macam sifat dan karakter manusia yang hidup saling berdampingan dengan kurun waktu yang cukup lama. Masalah yang timbul di dalam pondok pesantren itu sendiri bervariasi, mulai dari masalah yang menyangkut individu sampai masalah yang melibatkan orang lain. Masalah individu yang sering sekali muncul pada diri santri diantaranya insecure atau kurangnya rasa percaya diri, kecewa, merasa sendiri, dan lain-lain.

 

          Kesehatan menurut Freund adalah suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya yang dicirikan oleh fungsi yang normal dan tidak ada penyakit. Sedangkan menurut WHO (World Health Organization) kesehatan merupakan keadaan (status) sehat secara fisik, mental, dan sosial, bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit maupun cacat. Mental diartikan sebagai kepribadian merupakan kebulatan dinamik yang dimiliki seseorang yang tercermin dalam sikap dan perbuatan atau terlihat dari psikomotoriknya.

 

          Kesehatan mental adalah kondisi dimana seseorang memiliki kesejahteraan pada dirinya, diamana dia mampu mengetahui potensinya sendiri, serta dia mampu mengatasi tekanan hidup yang ada dan dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, juga dapat menyambungkan kontribusi bagi sekitar.

 

          Mental yang sehat dapat tercermin dari seseorang yang mempunyai kemampuan mengelola emosi, adanya rasa senang, sedih, kecewa, marah, dan semua macam rasa yang timbul adalah anugerah dari Allah. Selain itu sesorang harus bisa mencintai dirinya sendiri (Self Love), tidak mendahulukan perasaan orang lain sehingga melupakan dirinya sendiri.

 

          Dalam kehidupan di pondok pesantren para samtri harus merasa bangga hidup dalam naungan pondok pesantren, karena mereka semua merupakan insan pilihan yang dipilih Allah untuk selalu berada dalam kebaikan dan selalu diistiqomahkan dalam mempelajari ilmu agama. Apalagi sekarang banyak pondok pesantren yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama saja, namun juga melengkapi pembelajaran ilmu-ilmu umum. Dengan adanya rasa bangga tersebut santri tidak kan merasa minder dan semangat menjalani rutinitas yang ada.

 

          Fenomena yang ada saat ini banyak santri yang merasa insecure atas pencapaian yang ada pada diri mereka yang mengakibatkan beban mental, padahal yang seharusnya terjadi mereka hanya butuh merasa cukup dengan yang Allah anugerahkan kepada mereka, akan menjaga hati mereka dari sifat iri dengki yang perlahan dapat merusak diri dari dalam. Tidak perlu membandingkan pencapaian dengan orang lain, karena manusia sudah diberikan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

 

          Jangan sungkan meminta tolong pada orang lain, jangan terpuruk sendiri. Ingat di pondok semua mempunyai tujuan yang sama yakni mencari ilmu dan mengharapkan ridho dari sang pemilik jagad.        

Jumat, 16 Juni 2023

PERAN PONDOK PESANTREN DALAM MENUMBUHKAN JIWA WIRAUSAHA SANTRI Oleh: Muallifatus Sholihah

  





Pondok pesantren merupakan Lembaga Pendidikan islam tertua di Indonesia. Sejarah pertumbuhan dan perkembangan pondok pesantren hingga saat ini menunjukkan bahwa ia memiliki basis yang sangat kuat pada masyarakat.

            Misi awal didirikan pondok pesantren adalah untuk membentuk para santri dan lulusannya agar memiliki pengetahuan agama yang luas melalui kitab kuning. Namun, dengan adanya dinamika masyarakat, maka pondok pesantren yang bersentuhan langsung dengan masyarakat mengalami dinamika dan perkembangan pula.

            Di bidang Pendidikan pondok pesantren memiliki peranan yang sangat signifikan dengan memberikan kontribusi penting terhadap Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa terutama bidang keagamaan dalam bertafaqquh fiddin. Dibidang lainnya pondok pesantren kerap membuat decak kagum para pemerhatinya. Berbagai Upaya yang dilakukan oleh pengelola / atau pimpinan menjadikan pondok pesantren sebagai pusat pengembangan potensi umat pada pelayanan masyarakat di berbagai bidang. Melihat sejarah Panjang pondok pesantren dan menjadi salah satu sub sistem dari sistem Pendidikan nasional selain dalam bidang keagamaan ia juga membekali santri-santrinya keterampilan dan kemandirian yang tidak kalah dengan lulusan Lembaga lainnya.

·         Pendidikan kemandirian pondok pesantren

Pada umumnya pondok pesantren didirikan oleh para ulama secara mandiri, sebagai tanggung jawab ketaatan pada Allah SWT untk mengajarkan, mengamalkan, mendakwahkan ajaran-ajaran islam yang sudah diketahui. Karena pesantren didirikan oleh para ulama atau tokoh agamanya dengan visinya masing-masing maka kurikulumnya pun sangat beragam. Tetapi terdapat kesamaan fungsi Pendidikan pondok pesantren yaitu pondok pesantren sebagai pusat Pendidikan dan pendalaman ilmu-ilmu pengetahuan islam dan sebagai pusat dakwah islam. Mengingat pendirian dan pengelolaan dilakukan secara mandiri oleh para ulama dan masyarakat pendukungnya, maka dikalangan santri pun tumbuh pula jiwa kemandirian, keikhlasan dan kesederhanaan. Jiwa dan sikap tersebut memang selalu ditumbuhkan dan selalu tampak dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren. Jiwa kemandirian para santri mula-mula ditumbuhkan melalui bimbingan dalam mengurus sendiri kebutuhannya sehari-hari seperti menyiapkan makan, mencuci, membersihkan kamar tidur dan sebagainya. Semakin dewasa santri diserahi tanggung jawab mengurus satu bagian kegiatan pesantren. Kemudian ketika menjadi senior diberi tanggung jawab memimpin adik-adiknya atau diserahi tugas mengembangkan program-program pesantren seperti megurus kegiatan mengaji, koperasi pesantren, kegiatan ekstra kulikuler santri dan sebagainya.

            Diakui bahwa Pendidikan pesantren telah banyak berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pondok pesantren telah banyak ulama, tokoh bangsa, tokoh masyarakat. Hingga kini pondok pesantren masih tetap eksis dan semakin berkembang dan tetap konsisten melakukan fungsinya, mendidik, membimbing para santri, dam menyiapkan mereka dalam peranan kelak di masyarakat. Banyak pondok pesantren yang kini tidak hanya berlandasan pada keislaman saja, namun juga menjadi penggerak kegiatan kewirausahaan dan pusat ekonomi lingkungan sekitarnya.

·         Santri berdakwah dan berwirausaha

Dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa agama islam masuk ke nusantara dibawa dan didakwahkan oleh para pedagang atau saudagar dari Gujarat, dan Sebagian pedagang dari arab Persia. Mereka berdagang membawa dan menjual barang-barang dari tanah asalnya dan membeli rempah-rempah dari penduduk untuk dibawa ke daerahnya. Para pedagang dari manca negara tersebut banyak yang kemudian menetap di Indonesia, bahkan banyak yang menikah dan berkeluarga dengan penduduk setempat. Mereka berdagang dan mengembangkan kewirausahaan sambil terus berdakwah kepada masyarakat sekitarnya. Dari masa kemasa dakwah islam banyak dilakukan oleh para wirausahawan. Hingga kinipun banyak terdapat muballigh yang memiliki kegiatan usaha sebagai penopang kegiatan dakwahnya. Kalau para pendakwah/muballig adalah para pedagang /wirausahawan, maka sangat wajar bila para santri juga bercita-cita menjadi wirausahawan. Tentu saja dalam menjalankan usahanya harus lebih mampu menunjukkan nilai-nilai ajaran islam dan konsisten dalam menjaga etika bisnisnya. Sehingga dirinya akan lebih berharga dan bernilai dari pada harta yang dimiliki, orang lain bukan hormat kepadanya lantaran kekayaan yang dimiliki melainkan karena kejujuran dan akhlaqul karimah.

            Selain itu, pondok pesantren dan santri santrinya hendaknya selalu berusaha untuk bisa istiqomah dan berikhtiyar dalam mensinergikan antara kehidupan yang berorientasi pada kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

            Memang benar kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, berpakaian sekedarnya, asalkan kita mau berusaha tentu Allah menyediakan rizki baginya karena memang Allah telah menjamin rizi makhluqnya. Tetapi untuk dapat mengamalkan perintah-perintah Nya seperti mengeluarkan zakat, berqurban, menunaikan haji, menyantuni anak yatim, fakir dan miskin dan lain sebagainya maka umat islam perlu berusaha untuk menjadi orang yang mampu melakukan semua itu. Untuk itu kita sebagai santri sudah selayaknya terus berupaya dengan baik(propesional), penuh semangat, memiliki daya saing agar menjadi mukmin yang kuat dan mampu beramal/ berbuat banyak. Untuk itu patut kiranya kita mencontoh kemandirian Rasulullah SAW dalam berwirausaha waktu itu tidak lepas dari kejujuran dan profesionalitas dalam bisnisnya, juga pembinaan kemandirian sejak kecil oleh kakeknya atau pamannya. Karena itu alangkah baiknya bila sejak kecil para santri mulai senang belajar mandiri serta belajar berwirausaha. Tentu, mulai dari yang kecil dan terus belajar melihat da memanfaatkan peluang yang ada pada diri dan lingkungannya.

            Pondok pesantren sebaga Lembaga Pendidikan islam disamping tetap melaksanakan fungsinya sebagai pusat Pendidikan dan pendalaman ilmu-ilmu agama, juga harus membekali para santrinya dengan Pendidikan keterampilan. Jiwa kemandirian yang telah tumbuh di lingkungan pondok pesantren merupaka modal besar yang harus dikembangkan. Para santri sendiri sebagai generasi muda juga sangat perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi dan mewujudkan masa depan yang lebih cerah, sehingga kelak disamping mampu berdakwah dengan baik juga mampu berwirausaha dengan sukses.

            Agama islam sebagai ajaran yang kaffah sngat mendorong umatnya untuk dapat hidup sejahtera di dunia maupun di akhirat. Untuk hidup sejahtera di akhirat telah jelas ketentuan dan persyaratannya. Sedangkan untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera di dunia seorang muslim harus memiliki kemampuan dan keterampilan bekerja dan berusaha. Masih banyak anggota masyarakat yang miskin, bodoh, dan tertindas. Mereka memerlukan uluran tangan dari umat islam yang kuat. Kitalah yang diharapkan menjadi muslim yang kuat. Kuat imannya, kuat ilmunya, kuat hartanya, dan kuat kedudukannya. Maka, kita akan menjadi khoiro ummah yang mampu melakukan banyak amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Daftar pusaka:

Ø  Alma, buchori. Kewirausahaan.

Bandung: Alfabeta 2003

Ø  Ari ginarjar. Emotional spiritual quotient. Jakarta: Arga, 2001

Ø  Muhammad Nasri. Sundarini. Kewirausahaan santri bimbingan santri mandiri. Jakarta: PT. Citra yudha. 2004

Ø  Iping supingah. 2021. “Erik thohir terkesan dengan jiwa wirausaha santri”, http:// www. Suarasurabaya, net/ekonomi bisnis/2021/Erick-thohir terkesan dengan jiwa wirausaha  para santri/      




Minggu, 09 Januari 2022

EKSISTANSI PONDOK PESANTREN SALAF DI ERA 4.0


        Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam tertua di Indonesia yang kegiatannya berawal dari pengajian kitab. Pada hakikatnya pesantren adalah sebuah lembaga keagamaan yang memerankan fungsi sebagai institusi social, menjadi sumber nilai dan moralitas, menjadi sumber pendalaman nilai dan ajaran keagamaan, menjadi pengendali filter bagi pengembangan moralitas dan kehidupan spiritual, menjadi perantara berbagai kepentingan yang timbul dan berkembang di masyarakat dan menjadi sumber praktis dalam kehidupan. Dalam sejarahnya, pondok pesantren pertama yang mengajarkan pendidikan islam adalah Pondok Pesantren rintisan Sayyid  Ahmad  Rohmatullah atau yang bisa disebut Sunan Ampel. Pondok yang di kenal dengan nama Ampel Denta ini menjadi pusat kajian islam pertama di pulau Jawa. Menyandang status sebagai keponakan dari permaisuri Raja Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir), membuat Sunan Ampel di terima karena mendapat izin untuk menyebarkan agama islam di pesisir utara Jawa. Diantara murid beliau yang kemudian hari melanjutkan dakwahnya adalah Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Raden Fatah, dan lain sebagainya.

         Tujuan terbentuknya pondok pesantren yaitu membimbing anak didik untuk menjadi manusia berkepribadian islami, yang dengan ilmu agamanya dia sanggup menjadi seorang tokoh agama islam di lingkungan sekitarnya.

         Sebagai lembaga pendidikan tradisional pondok pesantren memiliki tiga fungsi pokok yang menjadi identitas (jati diri) pesantren, yaitu: pertama, transmigasi ilmu-ilmu dan pengetahuan islam (transmission of Islamic knowledge), kedua, pemeliharaan tradisi islam (maintenance of Islamic tradition /indigenous), dan ketiga, reproduksi ulama (reproduction of ulama). Dalam menjalankan fungsi pertama, pesantren mempunyai andil yang besar dalam upaya transmisi ilmu – ilmu agama terutam yang berkaitan dengan Al –qur’an dan tafsirnya, Al- hadits, kitab – kitab klasik terutama bidang teologi fiqh dan tasawuf. Konsep tafaqquh fiddin berfokus pada upaya memahami Al –qur’an serta kitab – kitab lain sebagaimana telah disebutkan.

Peran dan fungsi pesantren tersebut seharusnya terus di pertahankan di saat semua umat islam sekarang ini menghadapi dua tantangan besar, yaitu globalisasi neo –liberalisme yang turut mengendalikan tatanan dunia baru dan munculnya model-model islam berjenis lain yang di kenal fundamentalisme ekstrim, dengan watak yang keras, kurang toleran dan tidak ramah dalam mensikapi persoalan yang muncul dan dihadapi bangsa.

         Disisi lain, pada tingkat internal agar tetap eksis, seluruh pesantren di era global juga seharusnya mempersiapkan diri secara memadahi. Pesantren hendaknya dapat terlibat dalam aktifitas–aktifitas sosial kemanusiaan, menjadi agen perubahan sosial (agent of change).

         Selain itu, agar tetap eksis pondok pesantren salaf juga harus mau mengikuti perkembangan zaman khususnya dalam bidang teknologi dan informatika. Kemajuan di bidang media dan informasi juga harus bisa diinovasikan dalam pendidikan pondok pesantren. Penggunaan media sosial untuk publikasi pengajian kitab maupun kegiatan pondok pesantren melalui media sosial semacam Youtube, Instagram, Facebook, dan media lainnya harus benar –benar di aplikasikan. Jika pondok pesantren tidak dapat mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan tehnologi, maka lambat laun pesantren tersebut akan ketinggalan. 

Berdasarkan indikator tersebut, dalam melakukan dakwahnya, pesantren seharusnya tidak hanya berkutat pada masalah internal (pengajaran dan pendidikan) kepada para santrinya, melainkan harus berdakwah secara aktif dalam menekankan pada upaya-upaya penyelesaian masalah yang berkembang di tengah-tengah kehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam tugasnya melakukan pemberdayaan (empowerment)dan transformasi social. Pesantren yang menempati posisi yang sangat penting itu tidak bisa terlepas dari peran substansial dalam dakwah islam, yang antara lain berperan sebagai: fasilitator, mobilisator, agent of change, dan center of excellence.

         Sedangkan KH. Sahal Mahfudz, memberikan rambu-rambu bagi pengelola pesantren, yakni apabila pesantren ingin mempertahankan potensinya sebagai lembaga pendidikan keagamaan (tafaqquh fi addin), maka pesantren harus melengkapi dirinya dengan tenaga-tenaga yang terampil mengelola sumber daya di lingkungannya.

Demikianlah beberapa tantangan yang harus dihadapi pondok pesantren salaf di era 4.0 ini. Pondok pesantren harus bisa menghadapinya dengan melakukan perubahan dan inovasi serta memperhatikan kondisi dan realita lingkungan sekitar. Semoga pondok pesantren salaf semakin eksis dan bisa mencetak santri-santri yang unggul baik dalam keilmuwan maupun akhlaq yang mulia. 

Oleh: Ustadz Muhammad Isbah Kholili

Kamis, 14 Januari 2021

PEREMPUAN sebagai Tiang Negara

       


Kudus-Qudsiyyahputri.com. Islam memposisikan perempuan pada tempat yang tinggi dan mulia. Dalam pandangan islam, laki-laki dan perempuan itu relatif sama. Yang menjadi tolak ukur penilaiannya ada pada ketakwaan.

Didalam QS.Al-Hujurat:13 Allah berfirman yang artinya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

          Menurut Prof. Quraish Shihab dalam tafsiranya yang berjudul Al-Misbah, ayat ini berisi tentang prinsip dasar antar manusia. Karena itulah ayatnya menggunakan panggilan yang ditujukan kepada semua jenis manusia. Dan ayat ini sekaligus menjadi penegas bahwa semua manusia derajat kemanusiannya sama disisi Allah. Tidak ada perbedaan pada nilai kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan.

           Sejak kedatangan islam hingga sekarang, peran perempuan tidak bisa disepelekan. Dalam masalah keilmuan, Sayyidah ‘Aisyah, istri baginda Rasulullah, adalah yang terbanyak dalam meriwayatkan hadits. Banyak persoalan-persoalan agama, khususnya tentang perempuan, bersumber dari riwayat Sayyidah ‘Aisyah. Ada ribuan hadits yang sanadnya sampai kepadanya. Ihwal keistimewaan ‘Aisyah bisa ditelaah dalam buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam karya Dr. Bassam Muhammad Hamami.

           Dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi pada Rasulullah pun,nama-nama perempuan tidak sedikit. Baik yang sempat disebut dalam aneka riwayat, maupun yang menjadi pahlawan tak dikenal.

 Sebut saja tentang kisah seorang shahabiyyah  pemberani dalam pertempuran Uhud. Nasibah binti Ka’ab. Ia terlibat bersama suami dan kedua anaknya dalam pertempuran tersebut. Wanita mulia ini ikut membela Nabi sampai ia sendiri terluka. Tetapi ia juga melukai dengan pedang atau tombaknya dua belas musuh. Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Umar Radhiyallahu’anhu menyatakan, “Aku tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, ketika pertempuran Uhud, kecuali aku melihat Nasibah bertempur,”

         Pada era setelah sahabat Nabi, kita mendengar bagaimana peran ibunda dari Imam Syafi’I dalam membentuk karakter sang imam. Sebagaimana penuturan Imam Nawawi, “Ibunda Imam Syafi’I merupakan seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi.”

          Begitu juga ibunda dari Imam Ahmad bin Hambal, yang telah mendidik beliau hingga berhasi menghafal sejuta hadits. Pastinya ini tak lepas dari peran ibundanya yang mendidik seorang diri sebab sang imam yang terlahir yatim.

         Tak heran, gelar “tiang agama”pun disematka kepada perempuan. “Al-Mar’atu ‘imadu al-bilad”. Perempuan merupakan tiang negara. Bukan tanpa alasan jika ada tokoh-tokoh besar, pasti ada peran perempuan dibelakangnya.

 Kondisi Perempuan Pra-Islam

          Sebelumnya, pada zaman jahiliyyah, perempuan begitu dikengkang, seolah-olah tidak memiliki kebebasan sama sekali. Jangankan  kebebasan untuk hidup yang layak, bisa hidup dengan tanpa penderitaan saja sudah sangat beruntung kala itu. Pendidikan menjadi hal yang langka bagi mereka. Kelahiran bayi perempuanpun dianggap aib ditengah-tengah masyarakat saat itu. Sampai-sampai, jika bayi yang terlahir adalah perempuan, maka bayi tersebut langsung dikubur hidup-hidup. Seperti diisyaratkan dalam QS. An-Nahl ayat 58 yang artinya: “Padahal apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah.”

Dan diisyaratkan dalam QS. An-Nahl ayat 59 “Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan   memeliharakannya dengan (menangguang) kehinaan ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu.”

         Begitu islam datang perempuan diberikan hak-haknya sepuasnya. Seperti hak menerima harta warisan, hak kepemilikan penuh atas hartanya, hak bersaksi, hak memperoleh pendidikan dan lainnya.

         Dengan dapat dikatakan bahwa islam merupakan agama yang sangat menghargai perempuan dan laki-laki dihadapan Allah secara mutlak. Islam menghapus tradisi jahiliyyah yang begitu diskriminatif terhadap perempuan. Seperti disebutkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 diatas, perbedaan yang dijadikan antara laki-laki dan perempuan adalah agar saling melengkapi satu dengan yang lain.

Peran Perempuan dalam Islam

          Mungkin masih ada sebagian orang tua yang merasa bahwa pendidikan kaum laki-laki lebih diutamakan. Bahkan ada kalimat tentang perempuan, “Ngapain anak perempuan di sekolahkan tinggi-tinggi, kalau ujung-ujungnya di dapur.”

         Menurut hemat penulis, pandangan semacam ini sungguh keliru karena 2 hal. Pertama, pandangan diatas sangat bertentangan dengan ajaran agama. Karena Allah telah menjanjikan bagi siapapun baik laki-laki maupun perempuan yang serius dalam menuntut ilmu akan mendapat derajat dan kedudukan lebih tinggi dan mulia sebagaimana termaktub dalan Al-Qur’an Surah Al-Mujadalah ayat 11.

           Yang kedua, justru karena perempuan adalah madrasah pertama dan yang utama bagi anak-anaknya, maka seorang perempuan wajib memiliki pengetahuan dan pendidikan yang sangat tinggi.

           Bagaimana bisa seorang ibu mengajari anaknya tentang Fiqih kewanitaan, jika tidak punya pengetahuan tentang hal itu? Bagaimana anak-anaknya bisa menjadi pribadi yang kuat jika sang ibu tidak memiliki jiwa yang tangguh?

         Suatu saat ada seseorang yang ingin ikut berperang di jalan Allah. Saat memohon izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, justru Nabi malah melarangnya seraya berkata “celakalah engkau apakah ibumu masih hidup?” Ia pun menjawab, “Iya, wahai Rasulullah.” Nabi pun bersabda, “Pulanglah, berbuat baiklah dengannya. Pemuda ini meminta izin sampai 3 kali. Dan tidak mendapat jawaban dari Rasulullah kecuali jawaban yang sama. “Menetaplah dikakinya, maka surga ada disana.”

         Hadits diatas menunjukkan peran perempuan, terkhusus ibu sangat kursial. Perempuan merupakan ibu bangsa yang harus melahirkan generasi bermutu. Apabila sebuah negara baik, maka ini peran baik perempuan pada umumnya. Itulah sebabnya perempuan harus mendapat pendidikan setinggi-tingginya. Sehingga, dari rahim perempuan lah, orang-orang hebat dapat bermunculan.

 Penutup 

Walhasil, melihat kisah-kisah orang shalih terdahulu, juga orang-orang sukses di berbagai belahan dunia, perempuan yang mempunyai andil yang cukup besar. Tanpa mereka, dunia ini tidak dapat berkembang dengan baik.

Memang terdapat beberapa kekurangan yang dimiliki oleh perempuan. Agama pun membenarkannya. Tetapi jika dibandingkan dengan kelebihannya, maka kekurangan tersebut akan tertutupi.

Di negara kita, negara Indonesia ini, kita memiliki tokoh perempuan tangguh bernama R.A.Kartini. Tak hanya berjasa untuk dunia pendidikan, beliau juga berjasa untuk islam. Seperti dikisahkan bahwa R.A.Kartini lah yang mengusulkan kepada gurunya, KH. Sholeh Darat Semarang, untuk membuat karya tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Jawa.

Akhir kata, semoga perempuan-perempuan kita, anak-anak kita, murid-murid kita, keluarga kita semua, menjadi perempuan yang bertaqwa kepada Allah, menjadi perempuan yang menghadirkan manfaat di tengah-tengah kita, menjadi perempuan yang mampu menopang tiang agama dan negara.

                                                                                            Oleh : Ustadz Dzikri Fauqi Aqbas.