Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Jumat, 16 Juni 2023

PERAN PONDOK PESANTREN DALAM MENUMBUHKAN JIWA WIRAUSAHA SANTRI Oleh: Muallifatus Sholihah

  





Pondok pesantren merupakan Lembaga Pendidikan islam tertua di Indonesia. Sejarah pertumbuhan dan perkembangan pondok pesantren hingga saat ini menunjukkan bahwa ia memiliki basis yang sangat kuat pada masyarakat.

            Misi awal didirikan pondok pesantren adalah untuk membentuk para santri dan lulusannya agar memiliki pengetahuan agama yang luas melalui kitab kuning. Namun, dengan adanya dinamika masyarakat, maka pondok pesantren yang bersentuhan langsung dengan masyarakat mengalami dinamika dan perkembangan pula.

            Di bidang Pendidikan pondok pesantren memiliki peranan yang sangat signifikan dengan memberikan kontribusi penting terhadap Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa terutama bidang keagamaan dalam bertafaqquh fiddin. Dibidang lainnya pondok pesantren kerap membuat decak kagum para pemerhatinya. Berbagai Upaya yang dilakukan oleh pengelola / atau pimpinan menjadikan pondok pesantren sebagai pusat pengembangan potensi umat pada pelayanan masyarakat di berbagai bidang. Melihat sejarah Panjang pondok pesantren dan menjadi salah satu sub sistem dari sistem Pendidikan nasional selain dalam bidang keagamaan ia juga membekali santri-santrinya keterampilan dan kemandirian yang tidak kalah dengan lulusan Lembaga lainnya.

·         Pendidikan kemandirian pondok pesantren

Pada umumnya pondok pesantren didirikan oleh para ulama secara mandiri, sebagai tanggung jawab ketaatan pada Allah SWT untk mengajarkan, mengamalkan, mendakwahkan ajaran-ajaran islam yang sudah diketahui. Karena pesantren didirikan oleh para ulama atau tokoh agamanya dengan visinya masing-masing maka kurikulumnya pun sangat beragam. Tetapi terdapat kesamaan fungsi Pendidikan pondok pesantren yaitu pondok pesantren sebagai pusat Pendidikan dan pendalaman ilmu-ilmu pengetahuan islam dan sebagai pusat dakwah islam. Mengingat pendirian dan pengelolaan dilakukan secara mandiri oleh para ulama dan masyarakat pendukungnya, maka dikalangan santri pun tumbuh pula jiwa kemandirian, keikhlasan dan kesederhanaan. Jiwa dan sikap tersebut memang selalu ditumbuhkan dan selalu tampak dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren. Jiwa kemandirian para santri mula-mula ditumbuhkan melalui bimbingan dalam mengurus sendiri kebutuhannya sehari-hari seperti menyiapkan makan, mencuci, membersihkan kamar tidur dan sebagainya. Semakin dewasa santri diserahi tanggung jawab mengurus satu bagian kegiatan pesantren. Kemudian ketika menjadi senior diberi tanggung jawab memimpin adik-adiknya atau diserahi tugas mengembangkan program-program pesantren seperti megurus kegiatan mengaji, koperasi pesantren, kegiatan ekstra kulikuler santri dan sebagainya.

            Diakui bahwa Pendidikan pesantren telah banyak berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pondok pesantren telah banyak ulama, tokoh bangsa, tokoh masyarakat. Hingga kini pondok pesantren masih tetap eksis dan semakin berkembang dan tetap konsisten melakukan fungsinya, mendidik, membimbing para santri, dam menyiapkan mereka dalam peranan kelak di masyarakat. Banyak pondok pesantren yang kini tidak hanya berlandasan pada keislaman saja, namun juga menjadi penggerak kegiatan kewirausahaan dan pusat ekonomi lingkungan sekitarnya.

·         Santri berdakwah dan berwirausaha

Dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa agama islam masuk ke nusantara dibawa dan didakwahkan oleh para pedagang atau saudagar dari Gujarat, dan Sebagian pedagang dari arab Persia. Mereka berdagang membawa dan menjual barang-barang dari tanah asalnya dan membeli rempah-rempah dari penduduk untuk dibawa ke daerahnya. Para pedagang dari manca negara tersebut banyak yang kemudian menetap di Indonesia, bahkan banyak yang menikah dan berkeluarga dengan penduduk setempat. Mereka berdagang dan mengembangkan kewirausahaan sambil terus berdakwah kepada masyarakat sekitarnya. Dari masa kemasa dakwah islam banyak dilakukan oleh para wirausahawan. Hingga kinipun banyak terdapat muballigh yang memiliki kegiatan usaha sebagai penopang kegiatan dakwahnya. Kalau para pendakwah/muballig adalah para pedagang /wirausahawan, maka sangat wajar bila para santri juga bercita-cita menjadi wirausahawan. Tentu saja dalam menjalankan usahanya harus lebih mampu menunjukkan nilai-nilai ajaran islam dan konsisten dalam menjaga etika bisnisnya. Sehingga dirinya akan lebih berharga dan bernilai dari pada harta yang dimiliki, orang lain bukan hormat kepadanya lantaran kekayaan yang dimiliki melainkan karena kejujuran dan akhlaqul karimah.

            Selain itu, pondok pesantren dan santri santrinya hendaknya selalu berusaha untuk bisa istiqomah dan berikhtiyar dalam mensinergikan antara kehidupan yang berorientasi pada kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

            Memang benar kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, berpakaian sekedarnya, asalkan kita mau berusaha tentu Allah menyediakan rizki baginya karena memang Allah telah menjamin rizi makhluqnya. Tetapi untuk dapat mengamalkan perintah-perintah Nya seperti mengeluarkan zakat, berqurban, menunaikan haji, menyantuni anak yatim, fakir dan miskin dan lain sebagainya maka umat islam perlu berusaha untuk menjadi orang yang mampu melakukan semua itu. Untuk itu kita sebagai santri sudah selayaknya terus berupaya dengan baik(propesional), penuh semangat, memiliki daya saing agar menjadi mukmin yang kuat dan mampu beramal/ berbuat banyak. Untuk itu patut kiranya kita mencontoh kemandirian Rasulullah SAW dalam berwirausaha waktu itu tidak lepas dari kejujuran dan profesionalitas dalam bisnisnya, juga pembinaan kemandirian sejak kecil oleh kakeknya atau pamannya. Karena itu alangkah baiknya bila sejak kecil para santri mulai senang belajar mandiri serta belajar berwirausaha. Tentu, mulai dari yang kecil dan terus belajar melihat da memanfaatkan peluang yang ada pada diri dan lingkungannya.

            Pondok pesantren sebaga Lembaga Pendidikan islam disamping tetap melaksanakan fungsinya sebagai pusat Pendidikan dan pendalaman ilmu-ilmu agama, juga harus membekali para santrinya dengan Pendidikan keterampilan. Jiwa kemandirian yang telah tumbuh di lingkungan pondok pesantren merupaka modal besar yang harus dikembangkan. Para santri sendiri sebagai generasi muda juga sangat perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi dan mewujudkan masa depan yang lebih cerah, sehingga kelak disamping mampu berdakwah dengan baik juga mampu berwirausaha dengan sukses.

            Agama islam sebagai ajaran yang kaffah sngat mendorong umatnya untuk dapat hidup sejahtera di dunia maupun di akhirat. Untuk hidup sejahtera di akhirat telah jelas ketentuan dan persyaratannya. Sedangkan untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera di dunia seorang muslim harus memiliki kemampuan dan keterampilan bekerja dan berusaha. Masih banyak anggota masyarakat yang miskin, bodoh, dan tertindas. Mereka memerlukan uluran tangan dari umat islam yang kuat. Kitalah yang diharapkan menjadi muslim yang kuat. Kuat imannya, kuat ilmunya, kuat hartanya, dan kuat kedudukannya. Maka, kita akan menjadi khoiro ummah yang mampu melakukan banyak amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Daftar pusaka:

Ø  Alma, buchori. Kewirausahaan.

Bandung: Alfabeta 2003

Ø  Ari ginarjar. Emotional spiritual quotient. Jakarta: Arga, 2001

Ø  Muhammad Nasri. Sundarini. Kewirausahaan santri bimbingan santri mandiri. Jakarta: PT. Citra yudha. 2004

Ø  Iping supingah. 2021. “Erik thohir terkesan dengan jiwa wirausaha santri”, http:// www. Suarasurabaya, net/ekonomi bisnis/2021/Erick-thohir terkesan dengan jiwa wirausaha  para santri/