Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Info Pendaftaran Online Santri Baru

Tata Cara dan Langkah Pendaftaran Online

KHR. Asnawi Kudus

KHR. Asnawi Muassis Madrasah Qudsiyyah dan Pendiri NU

Ngaji Online Ponpes Qudsiyyah Putri

Ngaji Online rutin setiap ba'dal maghrib selain malam jumu'ah streaming via fb dan YT Qudsiyyah Putri

Profil Ponpes Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum Ponpes

Profil MTs Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum MTs Qudsiyyah Putri

Jumat, 25 Februari 2022

PERDANA!!! AJANG GHURFAH MEETING PONPES QUDSIYYAH PUTRI

                

            Jumu’ah (25/2/2022), Ponpes Qudsiyyah Putri pertama kali mengadakan ghurfah meeting dalam rangka memeriahkan peringatan Rajabiyyah. Pada dasarnya Istilah ghurfah meeting sama halnya dengan istilah class meeting madrasah, namun karena kegiatan ini berada di bawah naungan Ponpes Qudsiyyah Putri lebih khususnya ISQi, maka istilah ghurfah meeting dipakai untuk membedakan antara class meeting dengan ghurfah meeting. Tujuan diadakannya ghurfah meeting ini untuk menumbuhkan rasa sportivitas santri, melatih kerjasama, mengasah bakat dan sebagai hiburan tersendiri untuk para santri.

 Kegiatan ghurfah meeting dilaksanakan 2 hari, tepatnya pada hari Jumu’ah (25/2/2022) dan Senin (28/2/2022). Kegiatan ghurfah meeting mencakup dua aspek yaitu lomba akademik  dan non akademik. Keseluruhan lomba yang diselenggarakan berjumlah 8 di antaranya, Sambung ayat al qur’an dan sambung bait alfiyyah, lalaran nadhoman ‘aqidatul awam, MQK (Musabaqoh Qiro’atul Kutub), drama, bakiyak, topi bola air, estafet karet dan estafet tepung. Ada 4 lomba yang dilaksanakan pada hari Jumu’ah yakni, Sambung ayat al qur’an dan sambung bait alfiyyah , lalaran nadhoman ‘aqidatul awwam, bakiyak, dan topi bola air. Sedangkan sisanya dilaksanakan Senin mendatang. Dengan total 19 ghurfah (kamar), ada sejumlah kurang lebih 610 santri yang ikut berpartisipasi dalam memeriahkan ghurfah meeting ini. Tentunya  dengan adanya kegiatan ini para santri bisa menyalurkan bakatnya serta mendapat berbagai pengalaman.

Ghurfah meeting diawali dengan apel pembukaan pada pukul 08:00 WIB yang dibuka langsung oleh pengasuh ponpes qudsiyyah putri dan dilanjutkan dengan lomba yang telah dijadwalkan. Untuk lomba akademik bertempat di musholla dan lantai 4 sedangkan non akademik bertempat di lapangan dan panggung. Pengumuman kejuaraan lomba akan diumumkan ketika apel penutupan pada senin (28/2/2022). Semua kegiatan yang berlangsung ketika ghurfah meeting juga disiarkan langsung di sosial media Qudsiyyah Putri khususnya di youtube channel Qipee TV.  (Red-Aida/Ezri)

Kamis, 24 Februari 2022

Vaksin ketiga (Booster) Guru dan Karyawan Qudsiyyah Putri

 


KUDUS,Qudsiyyahputri.com-Di masa Pandemi ini pemerintah menggalakkan adanya vaksinasi Covid 19. Vaksinasi tersebut sudah mulai digencarkan setahunan yang lalu. Tahapan vaksin pun bertingkat. Mulai vaksin pertama, kedua, lalu vaksin ketiga. Efek dari vaksin itu juga beda-beda. Untuk vaksin pertama kebanyakan tidak memberi efek samping, mungkin hanya ngantuk saja karena dosisnya memang sangat rendah. Lalu vaksin kedua agak keras dengan dosis lebih tinggi sehingga memberi efek meriang dan badan terasa pegal-pegal. 

Guru dan karyawan Qudsiyyah Putri sudah menjalani vaksinasi pertama pada bulan Juni 2021 lalu dilanjutkan vaksin kedua sebulan kemudian. Jumlah guru dan karyawan yang berada di Qudsiyyah Putri baik pondok maupun madrasah ada sekitar 100 orang. Waktu itu, vaksinasi baik pertama maupun kedua dilaksanakan di Puskesmas Rendeng Kota Kudus. 

Sekitar lima hari yang lalu, pengasuh ponpes Qudsiyyah Putri Ustadz Muhammad Isbah Kholili menelpon pihak klinik pratama polres Kudus. Tujuannya adalah menanyakan apakah ada fasilitas vaksin ketiga. Akhirnya dijawab oleh pihak klinik bahwa nanti akan dijadwalkan. Bahkan dari pihak klinik meminta agar semua guru, karyawan, dan keluarga besar Qudsiyyah bisa ikut semua baik putra maupun putri. Total ada sekitar 220 orang.

Selasa kemarin, pengasuh ponpes Qudsiyyah Putri ditelpon balik dari klinik Pratama bahwa agenda vaksin ketiga adalah kamis pagi tanggal 24 Februari 2022. Akhirnya dari pengurus Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah Menara Kudus segera membuat surat undangan vaksinasi ketiga (Booster) di klinik pratama polres Kudus yang letaknya di jalan raya panjang atau yang dulu menjadi kantor polsek Kota. 

Alhamdulillah vaksinasi berjalan dengan lancar. Guru dan karyawan datang tepat waktu. Untuk Qudsiyyah Putri jadwalnya pukul 08.00 sd 09.00, lalu dilanjut MTs-MA Qudsiyyah (putra) pukul 09.00 sd 10.00, dan yang terakhir adalah dari guru serta karyawan MI Qudsiyyah. Semoga guru-guru dan karyawan Qudsiyyah senantiasa diberi kesehatan sehingga bisa mengajar santri-santri seperti biasa. Amiin.

Senin, 21 Februari 2022

Update Pendaftaran Qudsiyyah Putri



Pendaftaran online Qudsiyyah Putri sudah dibuka sejak Ahad, 20 Februari 2022. Link pendaftaran yang dibuka tepat pukul 00.00 itu segera diakses oleh calon santri Ponpes-MTs-MA Qudsiyyah Putri. Biasanya tengah malam itu juga langsung banyak yang mendaftar. Sampai berita ini ditulis, jumlah pendaftar sudah mencapai 237 santri. Pendaftar itu tersebar dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Luar Jawa.

Untuk Jawa Tengah sendiri mayoritas didominasi pendaftar dari kabupaten Kudus, disusul Jepara, dan Demak. Selain itu, Kabupaten Pati, Grobogan, Semarang, Kendal, Batang, dan Pekalongan hampir tiap tahun selalu ada yang mendaftar. Untuk luar Jawa biasanya dari Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Rata-rata dari pendaftar itu adalah sekalian mondok di Ponpes Qudsiyyah Putri. Kalau dibuat prosentase ada di kisaran 87% berbanding 13%. Jadi yang mendaftar laju hanya sedikit. Lingkungan pondok yang nyaman dan satu lokasi dengan madrasah membuat wali santri merasa tenang memondokkan para santri di sini.

Jumat, 18 Februari 2022

One Fine Day With English Coach Training


Siang itu, Kamis 17 Februari 2022 beberapa santri ponpes Qudsiyyah Putri mulai berkumpul di depan kantor pondok. Setelah selesai KBM madrasah, beberapa santri Aliyah yang tergabung dalam ECT (English Coach Training) segera makan siang dan berkumpul untuk segera masuk ke angkot yang telah menunggu di depan kantor. Suasana yang sejuk mengiringi kepergian mereka menuju ke desa Kajar Dawe, tepatnya di sebuah villa yang bernama villa MC Pro. 

Selama satu hari satu malam itu, santri-santri akan mengikuti outbound dengan tajuk "One Fine Day With ECT". Sebelum outbound santri-santri menerima materi terlebih dahulu dari para mentor bahasa Inggris ponpes Qudsiyyah Putri yaitu Mr. Shofiyuddin, Mr. Ali Shodikin, dan Mrs. Nailin Nafisah. Ketiganya merupakan koordinator program bahasa Inggris di Ponpes Qudsiyyah Putri.

English Coach Training sendiri telah dilaksanakan ketika liburan juli 2021. Setelah training tersebut, terpilihlah 19 santri yang nanti akan membantu proses pembelajaran bahasa Inggris di Ponpes Qudsiyyah Putri. Setelah hampir tujuh bulan mengemban tugas mengajar, maka pengasuh ponpes Qudsiyyah Putri Ustadz Muhammad Isbah Kholili, M.Pd bermaksud mengajak mereka untuk outbound di Pijar Park Kajar Dawe. Acara Outbound ini adalah wujud terima kasih pengasuh kepada mereka yang telah membantu dalam proses pembelajaran bahasa Inggris di Ponpes Qudsiyyah Putri. Selain itu, dengan adanya pemberian materi yang lebih ditekankan pada metode pembelajaran dengan games pun semakin menambah skill dan kemampuan mereka ketika mengajar.

"One Fine Day With ECT" ini sendiri diawali dengan opening ceremony pada kamis 17 Februari 2022 pukul 16.00 wib, laju dilanjut dengan pemberian materi mulai pukul 16.30 sampai Jumuah pagi 18 Februari 2022 pukul 08.00 wib. Setelah itu diteruskan dengan acara inti outbound di Pijar Park dan diakhiri dengan Clossing ceremony pada pukul 14.30 wib. Tepat pukul 15.30 wib (setelah jaamah ashar), semua peserta pun kembali ke pondok tercinta. Semoga ilmu yang didapat semakin bermanfaat.

Selasa, 15 Februari 2022

Guru Qudsiyyah Ziarah Ke Madura

 


Setiap akan memulai penerimaan santri baru, Madrasah Qudsiyyah punya tradisi untuk ziarah ke Madura. Tujuan ziarah hanya dua yaitu makam saikhona Kholil Bangkalan dan Syekh Samsuddin Batu Ampar. Menurut sesepuh madrasah Qudsiyyah, KH. Fathur Rahman, ziarah ke Madura ini bertujuan untuk menarik santri-santri agar masuk ke Qudsiyyah serta mendapatkan santri yang sholih sholihah.

Agenda ziarah kali ini terasa spesial karena baru tahun ini ziarah diikuti oleh bapak dan ibu guru madrasah Qudsiyyah. Selain itu, ziarah juga bisa diikuti oleh beberapa masyayikh, diantaranya adalah KH. Fathur Rahman, KH. Sugiharto, KH. A. Sudardi, KH. Abdul Aziz dan guru-guru sepuh lainnya. Ziarah untuk PPDB tahun ajaran 2022-2023 ini juga bisa menjadi obat kerinduan setelah dua tahun sempat berhenti karena pandemi. 

Rangkaian ziarah dimulai dari makam Kangjeng Sunan Kudus terlebih dahulu pada Senin siang tanggal 14 Februari 2022. Kemudia setelah maghrib rombongan guru mulai berkumpul di SPBU Bendan lalu langsung bertolak ke Batu Ampar. Sampai di Batu Ampar pada pukul 06.00 WIB, rombongan guru langsung mengikuti khataman Al Qur'an sebanyak tujuh khataman. Selesai khataman langsung menuju rumah alumni yang dekat dengan komplek makam Syekh Abu Samsuddin yaitu ustadz Fathur Rahman. Di rumah alumni ini, rombongan guru langsung sarapan dan mandi. Kira-kira dua jam, rombongan langsung bertolak ke Bangkalan menuju makam saikhona Kholil bin Abdul Lathif yang terkenal dengan banyak karomahnya. Kira-kira pukul 12.00 WIB rombongan sampai di Bangkalan dan langsung ziarah. Kalau di makam saikhona Kholil ini yang terkenal adalah amalan membaca sholawat kholiliyyah sebanyak seribu kali. 

Selesai dari Bangkalan rombongan pun langsung bertolak menuju Kudus. Semoga rombongan selamat sampai rumah dan hajat-hajat keluarga besar Qudsiyyah dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala.  Amiiin.

Minggu, 13 Februari 2022

KHR. Asnawi



Kelahiran, Nama dan Nasab


KH Raden Asnawi, atau biasa disebut Mbah Asnawi dilahirkan pada hari Jum’at Pon, kisaran tahun 1861 M (1281 H) di daerah Damaran, salah satu desa di kecamatan Kota Kudus, Jawa Tengah. Orang tuanya memberikan nama "Ahmad Syamsyi" bagi dirinya. Nama ayah beliau adalah H. Abdullah Husnin, sedangkan ibu beliau bernama Raden Sarbinah. H. Abdullah Husnin, ayah beliau berprofesi sebagai seorang pedagang konfeksi yang tergolong besar. Apabila dirunut keatas, beliau merupakan ma keturunan ke-14 Sunan Kudus (Raden Ja’far Shodiq) dan keturunan ke-5 KH Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati, seorang kiyai yang terkenal akan kewaliannya.

Perkembangan dan Pendidikan

Ahmad Syamsyi dikenalkan pada pelajaran agama semenjak kecil oleh orang tuanya, disamping juga mengajarkan cara berdagang. Pada usia15 tahun, sekitar tahun 1876 M. orang tuanya pindah ke Tulungagung Jawa Timur. Di sana ayahnya mengajarkan cara berdagang  berdagang mulai dari pagi hingga siang. Sepulang dari berdagang, mulai dari sore sampai malam hari beliau  mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung. Beliau juga pernah mengahi kepada KH. Irsyad Naib, Mayong, Jepara.

Mengajar Ilmu Agama


Sewaktu umur 25 tahun, kira-kira pada tahun 1886 M. Ahmad Syamsi menunaikan ibadah haji yang pertama Sepulangnya dari haji pertamanya, nama Raden Ahmad Syamsi diganti dengan Raden Haji Ilyas.  Nama Ilyas ini kemudian diganti lagi dengan Raden Haji Asnawi, setelah pulang dari menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya.

Kira-kira umur 30 tahun KHR. Asnawi diajak oleh ayahnya untuk pergi haji yang kedua dengan niat untuk bermukim di tanah suci. Di saat-saat melakukan ibadah haji, ayahnya pulang ke rahmatullah, meskipun demikian, niat bermukim tetap diteruskan selama 20 tahun. Selama itu KHR.Asnawi juga pernah pulang ke Kudus beberapa kali untuk menjenguk ibunya yang masih hidup beserta adik yang bernama H. Dimyati yang menetap di Kudus hingga wafat. Ibunya wafat di Kudus sewaktu KHR. Asnawi telah kembali ke tanah suci untuk meneruskan cita-citanya.

Sepulangnya dari ibadah haji ini, KHR. Asnawi mulai mangajar dan melakukan tabligh agama. Pada setiap Jumu’ah Pahing, sesudah shalat Jumu’ah, KHR. Asnawi mengajar Tauhid di Masjid Muria (Masjid Sunan Muria) yang berjarak + 18 Km dari kota Kudus, dan jalan pegunungan yang menanjak ini ditempuhnya dengan berjalan kaki. KHR. Asnawi juga selalu berkeliling mengajar dari masjid ke masjid sekitar kota saat shalat Shubuh.

Secara khusus KHR. Asnawi juga mengadakan pengajian rutin, seperti Khataman TafsirJalalain dalam bulan Ramadlan di pondok pesantren Bendan Kudus. Khataman kitab Bidayatul Hidayah dan al-Hikam dalam bulan Ramadlan di Tajuk Makam Sunan Kudus. Membaca kitab Hadist Bukhari yang dilakukan setiap jamaah fajar dan setiap sesudah jama’ah shubuh selama bulan Ramadhan bertempat di Masjid al-Aqsha Kauman Menara Kudus, sampai KHR. Asnawi wafat, kitab ini belum khatam, makanya diteruskan oleh al-Hafidh KHM. Arwani Amin sampai khatam. Kegiatan dakwah beliau tidaklah terbatas daerah Kabupaten Kudus saja, melainkan juga menjangkau ke daerah lain seperti Demak, Jepara, Tegal, Pekalongan, Semarang, Gresik, Cepu, dan Blora.

Di antara ilmu yang diutamakan oleh KHR. Asnawi adalah Tauhid dan Fiqih. Karenanya, bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya, KHR. Asnawi hingga kini masih selalu diingat melalui karya populernya yang kini dikenal dengan “Shalawat Asnawiyyah.”  Selain itu karya Asnawi seperti Soal Jawab Mu’taqad Seket, Fasholatan Kyai Asnawi (yang disusun oleh KH. Minan Zuhri), Syi'ir Nasihat, Du’aul ‘Arusa’in, Sholawat Asnawiyyah dan syi’iran lainnya juga tetap diajarkan di pengajian-pengajian pesantren dan masjid-masjid hingga saat ini.

Kehidupan di Mekah

Di Mekah, KHR. Asnawi tinggal di rumah Syeikh Hamid Manan (Kudus). Namun setelah menikahi Nyai Hj. Hamdanah (janda Almaghfurlah Syeikh Nawawi al-Bantani), KHR. Asnawi pindah ke kampung Syami’ah. Dalam perkawinannya dengan Nyai Hj. Hamdanah ini, KHR. Asnawi dikaruniai 9 putera. Namun hanya 3 puteranya yang hidup hingga tua. Yaitu H. Zuhri, Hj. Azizah (istri KH. Shaleh Tayu) dan Alawiyah (istri R. Maskub Kudus).

Selama bermukim di Tanah Suci, di samping menunaikan kewajiban sebagai kepala rumah tangga, KHR. Asnawi masih mengambil kesempatan untuk memperdalam ilmu agama dengan para ulama besar, baik dari Indonesia (Jawa) maupun Arab, baik di Masjidil Haram maupun di rumah. Para Kyai Indonesia yang pernah menjadi gurunya adalah KH. Saleh Darat (Semarang), KH. Mahfudz (Termas), KH. Nawawi (Banten) dan Sayid Umar Shatha.

Selain itu, KHR. Asnawi juga pernah mengajar di Masjidil Haram dan di rumahnya, di antara yang ikut belajar padanya, antara lain adalah KH. Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), KH. Bisyri Sansuri (Pati/Jombang), KH. Dahlan (Pekalongan), KH. Shaleh (Tayu pati), KH. Chambali Kudus, KH. Mufid Kudus dan KHA. Mukhit (Sidoarjo). Di samping belajar dan mengajar agama Islam, KHR. Asnawi turut aktif mengurusi kewajibannya sebagai seorang Komisaris SI (Syariat Islam) di Mekah bersama dengan kawan-kawannya yang lain.

Pada waktu bermukim ini, KHR. Asnawi pernah mengadakan tukar pikiran dengan salah seorang ulama besar, Mufti Mekah bernama Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau tentang beberapa masalah keagamaan. Pembahasan ini dilakukan secara tertulis dari awal masalah hingga akhir, meskipun tidak memperoleh kesepakatan pendapat antara keduanya. Karena itu KHR. Asnawi bermaksud ingin memperoleh fatwa dari seorang Mufti di Mesir, maka semua catatan baik dari tulisan KHR. Asnawi dan Syeikh Ahmad Khatib tersebut dikirim ke alamat Sayid Husain Bek seorang Mufti di Mesir, akan tetapi Mufti Mesir itu tidak sanggup memberi fatwanya. (sayang, catatan-catatan itu ketinggalan di Mekah bersama kitab-kitabnya dan sayang keluarga KHR. Asnawi lupa masalah apa yang dibahas, meskipun sudah diberitahu).

Melihat tulisan dan jawaban KHR. Asnawi terhadap tulisan Syeikh Ahmad Khatib itu, tertariklah hati Sayid Husain Bek untuk berkenalan dengan KHR. Asnawi. Karena belum kenal, maka Mufti Mesir itu meminta bantuan Syeikh Hamid Manan untuk diperkenalkan dengan KHR. Asnawi Kudus. Akhirnya disepakati waktu perjumpaan yaitu sesudah shalat Jum’ah. Oleh Syeikh Hamid Manan maksud ini diberitahukan kepada KHR. Asnawi dan diatur agar KHR. Asnawi nanti yang melayani mengeluarkan jamuan.

Sesudah shalat Jum’ah datanglah Sayyid Husain Bek ke rumah Syeikh Hamid Manan dan KHR. Asnawi sendiri yang melayani mengeluarkan minuman. Sesudah bercakap-cakap, bertanyalah tamu itu: “Fin, Asnawi?” (Dimana Asnawi?), “Asnawi? Hadza Huwa” (Asnawi ? Inilah dia) sambil menunjuk KHR. Asnawi yang sedang duduk di pojok, sambil mendengarkan percakapan tamu dengan tuan rumah. Setelah ditunjukkan, Mufti segera berdiri dan mendekat KHR. Asnawi, seraya membuka kopiah dan diciumlah kepala KHR. Asnawi sambil berkenalan. Kata Mufti Sayyid Husain Bek kepada Syeikh Hamid Manan: "Sungguh saya telah salah sangka, setelah berkenalan dengan Asnawi. Saya mengira tidaklah demikian, melihat jasmaniahnya yang kecil dan rapih".

Teguh Dalam Berdakwah

Saat menjenguk kampung halamannya, bersama kawan-kawannya KHR. Asnawi mendirikan Madrasah Madrasah Qudsiyyah (1916 M). Dan tidak berselang lama, KHR. Asnawi juga memelopori pembangunan Masjid Menara secara gotong royong. Malam hari para santri bersama-sama mengambil batu dan pasir dari Kaligelis untuk dikerjakan pada siang harinya. Di tengah-tengah melaksanakan pembangunan itulah, terjadi huru-hara pada tahun 1918 H, kejadian ini berbuntut pada penangkapan terhadap KH. Asnawi dan rekannya KH. Ahmad Kamal

Damaran, KH. Nurhadi dan KH. Mufid Sunggingan dan lain-lain, dengan dalih telah mengadakan pengrusakan dan perampasan oleh pemerintah penjajah. Mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam penjara dengan masa hukuman 3 tahun.

Pada zaman penjajahan Belanda, KHR. Asnawi  juga sering dikenakan hukuman denda karena pidatonya tentang Islam serta menyisipkan ruh nasionalisme dalam pidatonya. Begitu juga pada masa pendudukan Jepang. KHR. Asnawi pernah dituduh menyimpan senjata api, sehingga rumah dan pondok KHR. Asnawi dikepung oleh tentara Dai Nippon, dan KHR. Asnawi pun dibawa ke markas Kempetai di Pati.

Meski sering menghadapi ancaman hukuman, namun KHR. Asnawi tidak pernah berhenti berdakwah, amar ma'ruf nahi munkar. Bahkan didalam penjara sekalipun, KHR. Asnawi tetap melakukan amar ma'ruf nahi munkar. KHR. Asnawi tetap membuka pengajian di penjara. Banyak kemudian di antara para penjahat kriminal yang dipenjara bersamanya, kemudian menjadi murid KHR. Asnawi.

Fatwa Larangan Berdasi

Dalam memperjuangkan Islam, KHR. Asnawi memiliki pendirian yang teguh. Prinsip-prinsip hidupnya sangat keras dan watak perjuangnnya terkenal galak, sebab kala itu bangsa Indonesia sedang dirundung nestapa penjajahan kaum kafir. Keyakinan inilah yang dipeganginya sangat kokoh sekali. Bagi KHR. Asnawi, segala hal yang dilaksanakan oleh Belanda tidak boleh ditiru. Bahkan tidak segan-segan KHR. Asnawi memfatwakan hukum agama dengan sangat tegas, anti-kolonialisme, seperti mengharamkan segala macam bentuk tasyabbuh (menyerupai) perilaku para penjajah dan antek-anteknya.

Salah satu diantara fatwanya yang keras ini adalah larangan untuk memakai berdasi dan menghidupkan radio, termasuk menyerupai gaya jalan orang-orang kafir (Belanda dan China). Fatwa larangan berdasinya ini sangat terkenal, hingga suatu ketika KH Saifuddin Zuhri melepaskan dasi dan sepatunya ketika mengunjungi KHR. Asnawi. KH Saifuddin Zuhri kala itu sedang menjabat Menteri Agama, namun demi menghormati KHR. Asnawi, ia bertamu hanya dengan memakai sandal tanpa dasi.

Tawaran Menjadi Penghulu

Pada kisaran tahun 1927 M. KHR. Asnawi membangun pondok pesantren di Desa Bendan Kerjasan Kudus, di atas tanah wakaf dari KH. Abdullah Faqih (Langgar Dalem) dan dukungan dari para dermawan dan umat Islam. Pada tahun ini pula, Charles Olke Van Der Plas (1891-1977), seorang pegawai sipil di Hindia Belanda, pernah datang ke rumah KHR. Asnawi untuk meminta kesediaannya memangku jabatan penghulu di Kudus. Secara tegas KHR. Asnawi menolak penawaran tersebut.

Dalam pandangan KHR. Asnawi, jika dirinya diangkat sebagai penghulu, maka tidak akan lagi dapat bebas melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap para pejabat. Beda halnya jika tetap menjadi orang partikelir, ia dapat berdakwah tanpa harus menanggung rasa segan (ewuh pakewuh).

Wafatnya KH Asnawi

KHR. Asnawi berpulang ke rahmatullah pada Sabtu Kliwon, 25 Jumadil Akhir 1378 H. bertepatan tanggal 26 Desember 1959 M. pukul 03.00 WIB. KHR. Asnawi meninggal dunia dalam usia 98 tahun, dengan meninggalkan 3 orang istri, 5 orang putera, 23 cucu dan 18 cicit (buyut). Kabar wafatnya KH.R Asnawi disiarkan di Radio Republik Indonesia (RRI) Pusat Jakarta lewat berita pagi pukul 06.00 WIB. Penyiaran itu atas inisiataif Menteri Agama RI KH Wahab Chasbullah yang ditelepon oleh HM. Zainuri Noor.

Sabtu, 12 Februari 2022

Ngaji Kitab Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah




Ngaji Kitab Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah bersama : Ust. H. Sholihul Hadi



Jumat, 11 Februari 2022

Ngaji Kitab Nurul Yaqien



Ngaji Kitab Nurul Yaqien bersama : Ust. M. Isbah Kholili, M.Pd

Rabu, 09 Februari 2022

Ngaji Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim




Ngaji Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim bersama Ustadzah Nailin Nafisah




Selasa, 08 Februari 2022

Ngaji Kitab Tafsir Jalalain



Ngaji Kitab Tafsir Jalalain bersama : Ust. H. Sholihul Hadi



Senin, 07 Februari 2022

Ngaji Kitab Majalisus Saniyyah




Ngaji Kitab Majalisus Saniyyah bersama : Ust. Miftahur Rohman, M.Pd

Minggu, 06 Februari 2022

Ngaji Kitab Fathul Qorib



Ngaji Kitab Fathul Qorib bersama : Ust. Muhammad Thoriq



Kamis, 03 Februari 2022

Perdana ! Tahun ini MA Qudsiyyah Putri Buka Pendaftaran Santri Luar



Tahun ini untuk pertama kali Madrasah Qudsiyyah Putri tingkat Aliyah membuka pendaftaran santri baru dari luar Lulusan MTs Qudsiyyah Putri dengan kuota satu kelas. Hal ini dibenarkan oleh  Pengasuh Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri, Bapak Isbah Kholili.

“Iya, tahun ini Qudsiyyah Putri tingkat Aliyah membuka pendaftran santri dari luar lulusan MTs Qudsiyyah Putri dengan kuota satu kelas,” ujar Pak Isbah yang juga pengampu pelajaran Nahwu.

Beliau menyampaikan bahwa sebelumnya, pembukaan pendaftaran Aliyah ini merupakan hasil dari sowan ke Pengurus Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (YAPIQ) Menara, Bapak H. Em. Nadjib Hassan.

“Awal januari kemarin saya sowan pengurus Yayasan bapak H. Em Nadjib Hassan, saya bermaksud menanyakan apakah tahun ini MA Qudsiyyah Putri menerima santri dari luar apa tidak? Sebelum memberi keputusan beliau bertanya mengenai jumlah santri yang akan pindah, kemudian saya jawab kira-kira hanya satu kelas. Kemudian Pak Nadjib memutuskan untuk membuka satu kelas dengan kualifikasi yang sesuai dengan alumni MTs sini,” tambah Pak Isbah.

Adapun mengenai persyaratan seleksi masuk calon santri dari luar harus hafal minimal 3 juz untuk program Tahfidz dan 300 bait Alfiyah untuk program Kitab.  

“Yowis sing tahfidz 3 juz, sing alfiyyah 300 bait begitu dawuh Pak Nadjib,” tutur Pak Isbah menirukan dawuh Pak Nadjib.

Informasi selengkapnya bisa menghubungi panitia PSB :

M. Isbah Kholili : wa.me/6285640605640

M. Khothibul Umam : wa.me/6285726212216


Rabu, 02 Februari 2022

ASAL USUL BULAN RAJAB


Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata'ala. Bulan Rajab juga biasa disebut bulan Rohmat, Barokah, dan bulan ketenangan. Bulan Rajab bertambah mulia karena di bulan itu terjadi peristiwa agung yaitu isro' mi'roj Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Belas kasih nabi kepada ummatnya juga terjadi di bulan Rajab, karena ketika isro' mi'roj itu nabi memintakan keringanan kewajiban sholat 50 waktu menjadi 5 saja.

Bulan Rajab adalah bulan ke tujuh dalam urutan tahun hijriyyah. Bulan Rajab adalah satu dari empat asyhurul hurum yang Allah khususkan penyebutannya dalam Al Qur'an. Di bulan-bulan mulia itu bangsa Arab tidak mengadakan peperangan dan meninggalkan kedholiman guna menghormati bulan tersebut. 
Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata'ala :

«إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ»،  سورة التوبة:36

Bulan Rajab juga biasanya disambung dengan nama 'al ashom', yang tuli. Karena dalam bulan ini tidak didengungkan peperangan dan tidak didengar suara pedang. Rajab artinya adalah yang agung, karena orang arab mengagungkan bulan tersebut. Namun ada juga yang berpendapat bahwa disebut Rajab karena para Malaikat mengagungkan bulan tersebut dengan membaca tasbih dan tahmid. Wallahu A'lam.