Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Selasa, 15 September 2026

MENJAGA WARISAN, MENJEMPUT MASA DEPAN

MENJAGA WARISAN, MENJEMPUT MASA DEPAN

Oleh: Muhammad Ainun Najib

 (Pengasuh Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri) 

I. Pesantren dan Amanah Menjaga Warisan Salaf

Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi mata rantai estafet keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah . Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya dalam manhaj Syafi’iyyah, keilmuan bukan hanya transmisi teks, tetapi transmisi adab, sanad, dan ruh keilmuan.

Imam An-Nawawi رحمه الله dalam Al-Majmu’ menegaskan:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْعِلْمَ شَرِيفٌ لِشَرَفِ مَعْلُومِهِ

“Ketahuilah bahwa ilmu itu mulia karena kemuliaan objek yang dipelajarinya.”

Ilmu syar’i menjadi mulia karena ia berkaitan dengan Kalamullah dan Sunnah Rasul-Nya. Maka pesantren sebagai penjaga ilmu-ilmu syar’i memiliki tanggung jawab besar: menjaga kemurnian pemahaman sekaligus menanamkan akhlak sebagai buahnya.

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali رحمه الله menjelaskan bahwa ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan:

الْعِلْمُ بِلَا عَمَلٍ جُنُونٌ وَالْعَمَلُ بِلَا عِلْمٍ لَا يَكُونُ

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu tidak akan benar.”

Di sinilah pesantren berdiri sebagai benteng moral bangsa. Bukan hanya mencetak generasi cerdas secara intelektual, tetapi matang secara spiritual dan kokoh secara akhlak.

II. Keutamaan Adab Sebelum Ilmu

Tradisi salaf menempatkan adab di atas segalanya. Abdullah bin Mubarak berkata:

تَعَلَّمْنَا الْأَدَبَ ثَلَاثِينَ سَنَةً وَتَعَلَّمْنَا الْعِلْمَ عِشْرِينَ سَنَةً

“Kami belajar adab selama tiga puluh tahun, dan belajar ilmu selama dua puluh tahun.”

Dalam mazhab Syafi’i, adab terhadap guru dan ilmu merupakan fondasi keberkahan. Imam Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim (yang menjadi pegangan pesantren) menegaskan bahwa keberhasilan menuntut ilmu sangat bergantung pada penghormatan kepada guru.

Imam Asy-Syafi’i رحمه الله sendiri berkata:

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا إِلَّا وَدِدْتُ أَنْ يُجْرِيَ اللَّهُ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِهِ

“Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali aku berharap Allah menampakkan kebenaran melalui lisannya.”

Ini adalah puncak akhlak ilmiah: rendah hati di hadapan kebenaran.

Santri Qudsiyyah Putri harus mewarisi semangat ini—belajar dengan tawadhu’, menghormati guru, menjaga lisan, serta menghindari sikap merasa paling benar. Karena ilmu yang tidak dihiasi tawadhu’ akan berubah menjadi sebab kehancuran.

III. Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu

Dalam kitab Minhajul ‘Abidin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa rintangan pertama dalam perjalanan menuju Allah adalah meluruskan niat. Ilmu yang dipelajari bukan untuk kebanggaan, bukan untuk popularitas, bukan pula untuk mengalahkan orang lain.

Rasulullah bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang mempelajari ilmu agama dengan apa yang seharusnya ditujukan untuk mencari wajah Allah Ta’ala, namun ia mempelajarinya untuk mendapat bagian dari kehidupan dunia, maka tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Daud) 

Ancaman ini sangat berat. Maka pesantren harus terus menanamkan muraqabah—kesadaran bahwa Allah mengawasi setiap niat.

Imam An-Nawawi dalam muqaddimah Al-Arba’in menyebutkan hadits pertama tentang niat sebagai fondasi seluruh amal. Ini menunjukkan bahwa seluruh bangunan ilmu berdiri di atas fondasi ikhlas.

Di tengah zaman yang serba digital, ketika pengakuan dan eksistensi mudah diperoleh melalui media sosial, menjaga niat menjadi jihad tersendiri. Santri harus belajar bahwa kemuliaan bukan pada viralnya nama, tetapi pada diterimanya amal di sisi Allah.

IV. Pesantren sebagai Pilar Moral Bangsa

Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kuat secara ekonomi, tetapi bangsa yang kokoh akhlaknya. Dalam Al-Adzkar, Imam An-Nawawi menjelaskan pentingnya dzikir sebagai penjaga hati. Karena rusaknya moral bermula dari rusaknya hati.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Perubahan sosial bermula dari perubahan batin. Pesantren mendidik santri untuk memperbaiki hati melalui ibadah, dzikir, dan muhasabah.

Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali merinci adab keseharian seorang penuntut ilmu—mulai dari bangun tidur, berinteraksi dengan sesama, hingga menjaga pandangan. Semua ini membentuk karakter.

Moral bangsa tidak lahir dari slogan, tetapi dari pribadi-pribadi yang terbina. Jika setiap santri menjaga shalatnya, lisannya, dan akhlaknya, maka ia telah menyumbang fondasi bagi tegaknya bangsa.

V. Tantangan Zaman dan Keteguhan Manhaj

Zaman terus berubah. Informasi melimpah, pemikiran beragam, bahkan tidak sedikit yang menyimpang dari manhaj Ahlussunnah. Dalam kondisi seperti ini, berpegang pada turats (warisan kitab salaf) menjadi kebutuhan mendesak.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj menunjukkan ketelitian luar biasa dalam memahami dalil dan qaul ulama. Ini mengajarkan bahwa agama tidak boleh dipahami secara serampangan.

Mazhab Syafi’i memiliki metodologi istinbath yang kokoh. Santri perlu memahami bahwa mengikuti mazhab bukan bentuk fanatisme buta, tetapi bentuk disiplin ilmiah.

Imam As-Subki berkata:

مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ

“Siapa yang tidak memiliki guru, maka gurunya adalah setan.”

Di era belajar instan melalui internet, pesan ini semakin relevan. Santri Qudsiyyah Putri harus bangga belajar dengan sanad, talaqqi, dan bimbingan guru.

VI. Perempuan dan Peran Strategis dalam Peradaban

Sebagai pesantren putri, Qudsiyyah Putri memiliki peran besar dalam melahirkan perempuan-perempuan alimah yang berakhlak karimah. Dalam sejarah Islam, perempuan memiliki kontribusi besar dalam ilmu dan peradaban.

Sayyidah Aisyah رضي الله عنها menjadi rujukan para sahabat dalam fiqh dan hadits. Imam Az-Zarkasyi bahkan menulis kitab khusus tentang istinbath hukum Aisyah.

Dalam perspektif Syafi’iyyah, perempuan memiliki hak dan kewajiban menuntut ilmu. Imam An-Nawawi tidak membedakan keutamaan menuntut ilmu antara laki-laki dan perempuan.

Perempuan berilmu akan menjadi madrasah pertama bagi generasi berikutnya. Maka mendidik santri putri berarti menyiapkan fondasi masa depan umat.

Namun kemuliaan perempuan bukan hanya pada kecerdasannya, tetapi pada iffah (kehormatan), haya’ (malu), dan keteguhan menjaga syariat.

VII. Menyatukan Ilmu, Amal, dan Dakwah

Ilmu harus berbuah amal, dan amal harus melahirkan manfaat sosial. Dalam I’anatut Thalibin, dijelaskan pentingnya mengamalkan ilmu dalam kehidupan nyata.

Santri tidak cukup memahami hukum-hukum fiqh, tetapi harus mempraktekkannya dengan disiplin. Tidak cukup memahami akhlak dalam kitab, tetapi harus menampakkannya dalam pergaulan.

Imam Al-Ghazali membagi manusia menjadi empat golongan, dan yang paling celaka adalah orang yang tahu tetapi tidak mengamalkan.

Maka cita-cita pesantren adalah melahirkan pribadi yang benar aqidahnya, lurus ibadahnya, mulia akhlaknya dan luas manfaatnya

Inilah makna khairu ummah.

Dan kini, pesantren adalah benteng terakhir moralitas di tengah arus globalisasi yang deras. Jika pesantren kuat, maka bangsa kuat. Jika pesantren goyah, maka generasi kehilangan arah.

Kita memohon kepada Allah agar Qudsiyyah Putri senantiasa menjadi taman ilmu dan akhlak, tempat lahirnya perempuan-perempuan shalihah yang teguh dalam Manhaj Syafi’iyyah dan kokoh dalam menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.

Sebagaimana doa para ulama:

اللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا

Semoga setiap langkah santri dalam menuntut ilmu menjadi cahaya di dunia dan akhirat, serta menjadi kontribusi nyata bagi tegaknya moral bangsa.

Wallahu a’lam bish shawab.