Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Sabtu, 12 September 2026

PROSPEK PESANTREN DALAM MENJAGA MORAL BANGSA

Pesantren merupakan Lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Kata “pesantren” sendiri  mempunyai makna “asrama tempat murid atau santri belajar mengaji”. Sebagai salah satu Lembaga pendidikan, pesantren mempunyai peran yang sangat krusial dalam membentuk karakter santri dan menjaga moral anak bangsa di Tengah perkembangan zaman. Saat ini, arus perkembangan zaman membawa banyak pengaruh bagi manusia. Baik pengaruh negatif maupun positif. Hal tersebut menjadi salah satu faktor utama pesantren untuk berperan sebagai sarana penjaga moral bangsa di Tengah arus zaman.

Untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif, tim redaksi Majalah Neswa edisi 6 berkesempatan untuk mewawancarai Ibu Nyai Hj. Nur Hannah Zamzami, ulama putri asal kediri yang merupakan pengasuh pondok pesantren Al-Baqarah Lirboyo.


Beliau menjelaskan bahwa pesantren mempunyai peranan yang sangat penting di era saat ini. Dapat dikatakan pesantren, karena santri tidak hanya diberi pelajaran saja namun juga dididik. “Sebetulnya kata ‘diajari’ dengan kata ‘dididik’ memiliki makna yang berbeda. ‘diajari’ memiliki makna di beri Pelajaran tanpa di beri contoh. Misalnya, Guru bidang pertanian menyampaikan materi kepada murid tanpa menjadi seorang petani. Sedangkan kata ‘dididik’ memiliki makna di beri materi sekaligus di beri contoh. Misalnya, Kyai di pesantren ketika mengajarkan santrinya tentang tata cara berwudhu maka kyai nya pun juga ikut berwudhu. Begitu juga sama ketika mengajarkan santrinya shalat jamaah maka kyainya menjadi imam shalat.” tutur beliau dengan lugas.


Keunggulan pengajaran pesantren

Kelebihan pesantren yang tidak bisa di temukan di luar adalah pembentukan karakter melalui pendidikan dan akhlak. Tidak ada ceritanya di pesantren, terutama pesantren salaf itu santri melakukan aksi demo terhadap kyai nya. Karena santri telah dididik untuk selalu berhusnudzon kepada guru bagaimanapun tingkah laku guru itu sendiri. Hal itu terjadi karena pesantren tidak menutup kemungkinan bahwa seorang guru tetaplah manusia yang pasti memiliki salah. Di pesantren para santri juga di ajarkan untuk berdoa agar Allah menutup aib-aib guru dari pandangan kita, supaya tidak hilang keberkahan ilmunya. Karena ketika santri mengetahui aib gurunya, ada kemungkinan mereka akan membicarakan guru tersebut di belakangnya. Perbuatan itulah yang dapat menghilangkan keberkahan ilmu pada diri santri.


Di pesantren, seorang guru hanya dituntut untuk mengajarkan, menyampaikan ilmu dan memberikan uswatun hasanah (contoh yang baik) kepada santri. Seperti bagaimana cara melakukan ibadah secara istiqomah dan tata krama. Selebihnya persoalan apakah santri tersebut paham atau tidak merupakan urusan Allah. Seorang guru tidak bisa memintarkan anak orang lain, akan tetapi hanya Allah yang dapat memberi pemahamana tersebut dengan membuka pintu hidayah dan futuh anak tersebut. Tidak selamanya memberi Pelajaran itu berupa mauidlah atau nasehat, tetapi dengan mengamati tingkah laku guru juga merupakan bentuk ajaran guru kepada santrinya. “Bahkan metode pembelajaran seperti itu lebih mudah diimplementasikan oleh santri daripada hanya diberikan teori tanpa contoh dari guru,” Tutur Ummi Hannah.


Kyai dan Bu Nyai hanya ditugaskan untuk memberi teladan yang baik. Begitu pula dengan orang tua kita, pembentukan karakter anak zaman sekarang tidak hanya bergantung di pesantren saja, namun faktor dominan pembentuk karakter anak bertumpu pada peran orang tua. Dimana ketika seorang anak melihat perilaku orang tuanya ia akan lebih mudah mengikutinya. Pepatah mengatakan “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” Maka benar bahwa tingkah laku anak lebih banyak dipengaruhi oleh didikan orang tua.


Pencetak generasi unggul

Sebagian orang beranggapan bahwa pesantren adalah pendidikan yang tertinggal zaman. Akan tetapi hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurut Ummi Hannah sendiri, pendidikan pondok pesantren justru memiliki peluang yang besar dalam mencetak generasi yang lebih unggul. Terbukti dengan  banyaknya lulusan pesantren yang sudah menjadi wakil rakyat seperti gubernur dan sebagainya. Di sisi lain, banyak guru di pesantren sering memberi dawuh “Kalau memondokkan anak itu tidak perlu khawatir besok makan apa atau akan jadi apa, sejatinya ketika kita berkhidmat pada ilmunya Allah itu sama seperti kita berkhidmat pada Allah. Menjadi budak manusia saja diberi makan, apalagi menjadi hamba Allah”. “Peluang yang didapat sangat besar, tergantung bagaimana keyakinan kita untuk berkhidmah pada ilmunya Allah. Di pesantren santri diarahkan untuk berniat khidmah pada ilmu, dengan cara mencari ilmunya Allah kemudian mengamalkannya.” tutur beliau dalam penjelasannya.


Memperkuat Peran Santri Lewat Digitalisasi Dakwah

Di tengah perannya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Baqoroh Putri, Ummi Hannah juga dikenal sebagai sosok yang mendukung pemanfaatan teknologi untuk dakwah. Namun, pada praktiknya Ummi Hannah hanya menggunakan media sosial WhatsApp. Adapun unggahan yang beredar di media sosial lain seperti Instagram, Facebook, dan sebagainya merupakan unggahan dari para alumni atau para pengurus yang mengelola akun resmi Pondok Pesantren Al-Baqoroh Putri. Ummi Hannah mendukung anak-anak muda, para pendakwah, atau siapa pun yang memanfaatkan media sosial sebagai ladang dakwah. Diakui atau tidak, pada zaman sekarang masyarakat lebih sering membuka telepon genggam daripada membuka Al-Qur’an atau kitab. Oleh karena itu, dakwah melalui media sosial dinilai lebih mudah diakses oleh berbagai kalangan. Dan untuk mengimbangi  media sosial agar tidak hanya dipenuhi oleh konten kemaksiatan, maka menampilkan hal-hal yang baik tentu jauh lebih bermanfaat daripada membiarkan kemaksiatan ditampilkan secara nyata dan terbuka.


Peran perempuan dan Rahasia menghafal ala Ummi Hannah

Ummi Hannah, sosok inspiratif bagi perempuan berkat perannya sebagai pengasuh dari salah satu pondok terbesar di Indonesia dan seorang Hafidzah dengan hafalan yang Mutqin. Dalam wawancara kami, beliau memberikan penjelasan lugas  mengenai peran seorang perempuan.

Dalam konteks pendidikan, perempuan memiliki peran sebagai pendidik untuk generasi berikutnya. Maka pendidiknya harus terdidik terlebih dahulu. “Mendidik satu perempuan sama dengan mendidik satu generasi.” Tutur Ummi Hannah. Perempuan memiliki peran yang besar dan tidak dapat dipandang sebelah mata. Allah SWT menganugerahkan kepada perempuan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh laki-laki, khususnya dalam proses kehamilan, melahirkan, menyusui, serta mendidik anak yang penuh dengan pengorbanan dan kesabaran. Dalam ajaran Islam, setiap kesulitan yang dijalani perempuan dalam mengasuh dan mendidik anak memiliki nilai pahala yang besar, bahkan dinilai setara dengan jihad meskipun tidak terlibat langsung dalam peperangan. Selain itu, peran perempuan dalam mengurus rumah tangga dan membantu keluarga, ketika dijalani dengan keikhlasan demi meraih ridha suami, juga bernilai ibadah, sebab ridha Allah SWT bergantung pada ridha suami. Keteladanan ini tercermin dalam kisah Siti Asiyah yang memperoleh kemuliaan di sisi Allah SWT meskipun hidup sebagai seorang istri Fir’aun.

Banyak sekali tokoh perempuan yang bisa menjadi panutan bagi perempuan di zaman sekarang. Mengidolakan seseorang itu tidak harus mengikuti semua tingkah lakunya selama hal itu tidak dilarang agama. Misalnya mengidolakan Sayyidah Fathimah, maka kita tidak harus bercadar untuk mengikuti beliau. Namun hiduplah sebagai Sayyidah Fathimah di zaman sekarang tanpa meninggalkan syariat-syariatnya. 


Kemudian Ummi Hannah juga turut memberikan rahasia beliau dalam menghafal Al-Qur’an. Keseriusan menjadi kunci utama beliau  dalam menentukan arah keberhasilannya mengahafal Al-Qur’an. Menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat, penawar, dan pedoman hidup membutuhkan kesungguhan serta kejelasan tujuan. Seseorang harus mampu memprioritaskan hal-hal yang menjadi tujuan utamanya agar tidak teralihkan oleh kesibukan yang kurang bermanfaat. Prinsip ini sejalan dengan kaidah الِاشْتِغَالُ بِغَيْرِ الْمَقْصُودِ إِعْرَاضٌ عَنِ الْمَقْصُودِ, yang menegaskan bahwa kesibukan terhadap sesuatu di luar tujuan utama dapat menyebabkan seseorang berpaling dari tujuan tersebut. Hal ini tampak dalam aktivitas keseharian, seperti program kajian Al-Qur’an ba’da subuh yang tidak akan berjalan maksimal tanpa kesadaran untuk meninggalkan hal-hal yang tidak penting. Dalam pesannya, Ummi Hannah menekankan pentingnya memprioritaskan tujuan agar cita-cita dapat tercapai. Ia juga mengingatkan bahwa ilmu tidak dapat diraih dengan kemalasan, sebab ilmu tidak diwariskan, melainkan diperoleh melalui kesungguhan dan kemauan untuk belajar. Pesan tersebut dikuatkan dengan Q.S. Maryam ayat 12 yang menegaskan bahwa ilmu harus dicapai dengan semangat dan tekad yang kuat, serta disertai cita-cita yang tinggi.


Di akhir pemaparannya, Ummi Hannah menyampaikan dua pesan penting yang patut menjadi perhatian santri putri:

1. Bijak dalam bermedia sosial. “Pergunakanlah media sosial secukupnya, karena tidak semua harus diunggah di media sosial,” pesan beliau. Biarlah santri putri diketahui oleh khalayak umum sebagai orang yang rajin mengaji, primpen (terjaga), menutup aurat, berbakat dibidang yang baik. Tidak perlu menunjukkan ke semua orang kalau ia memiliki tubuh yang bagus dan wajah yang cantik. Meskipun ia telah keliling sampai ke ujung dunia, tidak semua harus diunggah di media sosial. Karena terkadang bukan kita yang jahat, namun nikmat yang kita terima menyakiti orang lain dan itu bisa menjadi penyakit ‘ain. Bahkan jika orang lain mempunyai sifat hasad kepada kita bisa saja dia menyakiti diri kita sendiri.


2. Memelihara rasa malu. 

“Milikilah rasa malu yang di zaman akhir ini sudah sangat berkurang terutama pada anak-anak remaja masa kini,” tutur beliau. Syarat utama untuk menjadi Wanita sholihah adalah memiliki rasa malu yang besar. Munculnya rasa malu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama karena kodrat kita yang di takdirkan sebagai wanita. Maka aurot wanita menjadi tolak ukur dalam menjaga rasa malu tersebut. Jangan hanya karna memiliki wajah cantik dan rambut ikal yang Panjang, kita dengan bebas memperlihatkannya kepada umum. Jadilah anak perempuan yang menjadi jalan surga bagi ayah dan suami kalian.   


Pull Qoute: 

“BERKHIDMAH PADA ILMU ALLAH ADALAH BERKHIDMAH PADA ALLAH”

(pada lembar kedua)


“Ummi Hannah menekankan pentingnya memprioritaskan tujuan utama agar cita-cita dapat tercapai”

(pada lembar terakhir)


Reporter: Nazila Ikmaliyalatho (4 Tahfidz A)

                Nadhifa Luthfiyatunnisa (4 Tahfidz A)

                Elmaba Qirani (5 Kitab)

                Lutfiana Ulfa (5 Tahfidz A)

                Alfaina Rosyada (5 Tahfidz B)