Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Info Pendaftaran Online Santri Baru

Tata Cara dan Langkah Pendaftaran Online

KHR. Asnawi Kudus

KHR. Asnawi Muassis Madrasah Qudsiyyah dan Pendiri NU

Ngaji Online Ponpes Qudsiyyah Putri

Ngaji Online rutin setiap ba'dal maghrib selain malam jumu'ah streaming via fb dan YT Qudsiyyah Putri

Profil Ponpes Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum Ponpes

Profil MTs Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum MTs Qudsiyyah Putri

Sabtu, 25 Juli 2026

AKSELERASI KAPASITAS, WUJUDKAN SIDANG BERKUALITAS

 

Kudus, 23 - 24 Juli 2026 TU/8 - 9 Shafar 1448 H — Ikatan Santri Qudsiyyah Putri (ISQi) menyelenggarakan Diklat Persidangan dengan tema “Akselerasi Kapasitas, Wujudkan Sidang Berkualitas.” Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 23 - 24 Juli 2026, di Rumah Limas Muara Enim ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengurus dalam menjalankan forum organisasi, sekaligus mempersiapkan pengurus menghadapi agenda laporan pertanggungjawaban selama satu periode kepengurusan.

Diklat persidangan ini menjadi salah satu bentuk pembekalan bagi pengurus agar mampu memahami tata cara persidangan dengan baik. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi utama “Konsep Dasar dan Teknik Persidangan” yang membahas pengertian, tujuan, fungsi, unsur, serta prinsip-prinsip dalam persidangan. Peserta juga dibekali teknik menyampaikan pendapat, menggunakan hak bicara dan interupsi, mengatur jalannya forum, hingga mengambil keputusan melalui musyawarah.

Selain memberikan pemahaman secara teori, kegiatan ini juga melatih peserta agar mampu mengelola forum secara tertib, terarah, dan kondusif. Kemampuan tersebut menjadi penting karena persidangan merupakan salah satu wadah untuk menyampaikan laporan, membahas berbagai persoalan organisasi, mengevaluasi pelaksanaan program, serta mempertanggungjawabkan amanah kepengurusan selama satu periode. Melalui persidangan yang baik, setiap pengurus diharapkan mampu menyampaikan hasil kerja dan laporan kepengurusan secara jelas, terbuka, dan bertanggung jawab. Forum tersebut juga menjadi ruang evaluasi bersama untuk melihat capaian, kendala, serta hal-hal yang perlu diperbaiki sebagai bahan keberlanjutan organisasi pada periode berikutnya.

Diklat Persidangan Pengurus ISQi diharapkan dapat membentuk pengurus yang lebih kompeten, percaya diri, kritis, dan bertanggung jawab dalam menjalankan amanah organisasi. Dengan penguasaan konsep dan teknik persidangan yang baik, ISQi berupaya mewujudkan forum yang demokratis, kondusif, serta mampu menghasilkan keputusan yang berkualitas.

Dari pengurus yang siap, lahir forum yang tertib, pertanggungjawaban yang transparan, dan keputusan yang bermanfaat.

 

 


Selasa, 21 Juli 2026

SEMINAR DARI TIM ORANGE CARWASH

 

Kudus —  20 Juli 2026 TU / 5 Safar 1448 H. Qudsiyyah Putri menerima kunjungan dari tim Orange Carwash yang dihadiri oleh pengasuh, dan seluruh santri kelas 5 dan kelas 6, sebagai upaya memberikan wawasan dan motivasi kepada santri yang tertarik untuk memasuki dunia wirausaha.

Dalam kunjungan ini membahas berbagai hal penting dalam menjalankan bisnis Carwash, mulai dari strategi memulai usaha, pemilihan lokasi, pengelolaan layanan, pemasaran, hingga cara meningkatkan kepuasan pelanggan. Para santri juga mendapatkan pemahaman mengenai peluang dan tantangan dalam mengembangkan bisnis carwash ditengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan mendapat sambutan positif dari pihak Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri. Antusiasme para santri menjadi bagian penting dalam membangun hubungan baik sekaligus membuka ruang untuk berbagi pengalaman tentang dunia usaha.

Kunjungan ini menjadi Langkah positif untuk mempererat silaturahmi sekaligus menumbuhkan semangat kewirausahaan di lingkungan pesantren, bahwa santri tidak hanya memiliki bekal ilmu agama dan akademik, tetapi juga dapat memiliki jiwa mandiri, kreatif, dan produktif.

 


Jumat, 17 Juli 2026

MATASANTRI QUDSIYYAH PUTRI: LANGKAH AWAL SAMBUT SANTRI BARU TAHUN AJARAN 2026/2027

Kudus – Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri resmi memulai langkah awal tahun ajaran baru melalui gelar kegiatan MATA SANTRI (Masa Ta’aruf Santri Baru) guna menyambut kedatangan para santriwati tahun ajaran baru 2026/2027.

Agenda orientasi ini berlangsung khidmat selama tiga hari berturut-turut, terhitung sejak tanggal 15 hingga 17 Juli 2026 TU. Kegiatan ini dirancang sebagai gerbang awal bagi para santri untuk menyelami nilai-nilai kepesantrenan, sekaligus memahami regulasi dan tata tertib yang berlaku di lingkungan pondok pesantren Qudsiyyah Putri. Momentum berharga ini dibuka secara resmi pada siang hari oleh pengasuh Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri, Bapak Muhammad Ainun Najib.

Dukungan penuh diperlihatkan oleh jajaran pengurus Ikatan Santri Qudsiyyah (ISQi) yang ikut serta memimpin jalannya MATASANTRI. Dengan penuh semangat dan antusiasme tinggi, mereka mendampingi para santriwati baru sehingga suasana terjalin sangat aktif dan interaktif. Acara pembukaan sendiri berjalan dengan runtut dan khusyuk, yang kemudian langsung dilanjutkan ke berbagai agenda inti pada hari-hari berikutnya.

Selama tiga hari pelaksanaan, para santriwati baru dibekali dengan berbagai materi esensial guna mempermudah masa adaptasi mereka. Mereka mendapatkan pemaparan mendalam mengenai tata tertib pondok serta prosedur teknis loundry, yang diselingi dengan sesi ice breaking seru dari pengurus ISQi untuk mencairkan suasana. Selain itu, para santri juga diajarkan tata cara penggunaan kartu jajan santri untuk kebutuhan harian, serta mengikuti sesi khusus penggalian minat dan bakat guna memetakan potensi non-akademik mereka.

Sebagai pemungkas rangkaian kegiatan, acara ditutup dengan sesi ta’aruf atau perkenalan langsung antara jajaran guru dan staff karyawan Ponpes Qudsiyyah Putri dengan para santri baru. Melalui program MATA SANTRI ini, pihak pesantren berharap seluruh santri baru memiliki kesiapan mental dan spiritual yang matang, serta mampu menghayati adat sekaligus adab dengan baik selama menuntut ilmu di Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri.


    


 


Rabu, 15 Juli 2026

DARI PESANTREN MENUJU DUNIA: KISAH BALIK PENAMPILAN GEMILANG DI PANGGUNG


Santri Qudsiyyah Putri kembali harumkan nama Jawa Tengah di Ajang Musabaqah Qiraatil Kutub Nasional ke-8 dan Internasional ke-1 yang terselenggara di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Di balik capaian membanggakan tersebut ada banyak perjalanan yang di lalui oleh kelima santri tersebut sebelum tampil memukau di panggung Nasional.

Gerbang awal dan debut perdana 

Keberadaan tim lalaran Alfiyyah sebenarnya telah terbentuk dengan jumlah 20 santri yang di persiapakan untuk salah satu rangkaian acara  Sewindu Qudsiyyah Putri. Penyelenggaraan acara pada 17 Syawal 1446 H atau 15 April 2025 TU mengakibatkan rentang waktu latihan yang tersedia bagi tim menjadi cukup terbatas, tidak lebih dari satu bulan. 

Lalaran Alfiyyah dengan iringan alat musik kontemporer merupakan hal baru yang sebelumnya belum pernah ada di Qudsiyyah Putri sehingga dapat dikatakan latihan dari nol. Situasi menuntut para tim dan pelatih untuk menghadapi berbagai tantangan sulit selama latihan. Sebagai contoh kesulitan pelatih dalam mencari notasi, menentukan ritme, tempo dan menyatukan feel antar pemain satu dengan lainnya. Sementara itu, kesulitan dirasakan tim, seperti dalam mengolah intonasi terutama bagian suluk dan evaluasi berulang dari para pemegang alat musik. Meski begitu, dalam kurun waktu yang singkat tim berhasil melewati tantangan dengan latihan keras yang turut di dukung dengan kecepatan daya tangkap para tim dalam mempelajari instrument dan nada baru. 

Pada penampilan perdana di acara Sewindu Qudsiyyah Putri, tim berhasil membawakan empat macam lagu, diantaranya: nada Kembang Jawa, Suwe ora jamu, Gundul-gundul pacul dan NDX Aka dengan baik. Paduan alat musik menjadi daya tarik utama bagi penonton yang hadir. Karena menurut pelatih alat musik memiliki keistimewaan tersendiri. “Setiap nada memiliki caranya sendiri untuk berbicara. Dalam senyap, musik dapat menjadi bahasa yang tak terucap, doa bagi yang tak terkatakan. Di sinilah musik menjelma menjadi medium spiritual, tempat di mana cerita dan keheningan saling berpelukan,” jelas pelatih.

Melaju ke MQK Tingkat Provinsi

Perjalanan berlanjut ketika di pilih lima santri dari tim lalaran tersebut mengikuti lomba Lalaran Alfiyyah di ajang MQK 2025 yang dalam tahap pertama melalui seleksi di tingkat provinsi. Kelima santri tersebut yakni Adiba Nihlatuzzahwa, Firza  Amaliyatunnisa’, Gendis Anindya, Nafisa Aniq Rosyada, Zakiyatus Sholichah merupakan santri dari kelas 4 program Tahfidz dan Kitab.

Kendala utama kembali pada keterbatasan waktu. Efisiensi waktu tiga hari sebelum keberangkatan ke Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati Bangsri, Jepara Bersama tujuh peserta cabang Qiroatul Kutub dan sehari di arena perlombaan. Jelang sehari sebelum perlombaan para peserta lomba di gembleng para pendamping untuk memaksimalkan persiapan dari cabang lomba masing-masing. Meski berada di tempat yang cukup sepi dan berlatih hingga pukul 1 malam sebelum akhirnya kembali ke tempat transit untuk beristirahat.

Keesokan harinya para peserta dari berbagai daerah di Jawa Tengah hadir dengan semangat juang  yang tinggi. Mereka siap mengadu kecerdasan dalam Qiraatul Kutub dan siap menunjukkan kreativitas tinggi dalam kategori lomba Lalaran Alfiyyah Ibnu Malik. Mengetahui banyak peserta yang tampil memukau rupanya tidak menyurutkan harapan mereka untuk meraih hasil terbaik setelah kabar gembira yang di terimanya di subuh hari terakhir. Tim Qudsiyyah Putri menerima informasi dari guru pendamping bahwa tim Lalaran mendapat kesempatan dari panitia untuk tampil dalam acara Closing Ceremony sekaligus pengumuman juara. Informasi tersebut segera menumbuhkan optimisme di kalangan guru pendamping maupun para santri Qudsiyyah Putri yang mengikuti Musabaqah. Kehormatan untuk tampil pada acara penutupan dipandang sebagai bentuk apresiasi atas penampilan yang telah mereka berikan, sehingga muncul harapan besar akan adanya capaian membanggakan pada cabang Lalaran Alfiyyah Ibnu Malik. Akhirnya, nama Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri sebagai kontingen terakhir dipanggil, yang menandai pencapaiannya sebagai juara pertama mengungguli lima tim lalaran lainnya. Seleksi Musabaqah Qiraatil Kutub Tingkat Jawa Tengah berlangsung sukses dan melahirkan juara terbaik yang akan mewakili provinsi ke tingkat Nasional.  Tim Lalaran dari Pondok Pesantren Qudsiyyah putri menjadi salah satunya yang akan bertaruh di Kancah Nasional membawa identitas sebagai Kafilah Jawa Tengah.

Menembus Panggung Nasional 

Terdapat waktu sekitar 2 bulan untuk mempersiapkan diri secara matang. Semangat juang menjadi bahan bakar utama. Tim lalaran harus mengikuti Latihan di dalam pondok dan Training Center (TC) untuk memantapkan kesiapan lomba bersama seluruh peserta yang tergabung dalam Kafilah Jawa Tengah. Berlangsung di kedua kota yang berbeda, Semarang dan Jepara dan dilatih oleh bapak Drs. H. Ahmad Niam Syukri, M.Si , seorang budayawan sekaligus Juri Lalaran MQK Jateng 2025. Sama hal nya dengan Latihan sebelumnya, tidak ada nada atau lagu yang diubah hanya saja ada beberapa evaluasi dari juri sebagai bahan perbaikan kedepannya.

Ajaran luhur pesantren rupanya tak luntur. Sebelum hari keberangkatan menuju Sulawesi Selatan, Tim lalaran di ajak  Pengasuh untuk berziarah Ke Makam Sunan Kudus, K.H.R. Asnawi, K.H.M Sya’roni Ahmadi dan K.H. Em Nadjib Hassan sebagai bentuk tabarruk dan wasilah. Karena sejatinya perlombaan bukan sekadar mengejar kemenangan melainkan  juga wujud dari proses belajar yang panjang serta keberkahan dari doa orang-orang sekitar, terutama doa dari Masyayikh pendahulu. 

Setelah berlatih keras dan pematangan strategi, tim kafilah Jawa Tengah akhirnya berangkat ke Sulawesi Selatan pada bulan Oktober 2025, siap menunjukkan performa terbaiknya dalam membaca kitab, debat bahasa hingga Ekshibisi Lalaran.

Menjelang perlombaan, Semua peserta yang telah tergabung di Pondok Pesantren As'adiyah Wajo itu rupanya masih terus berlatih sebaik mungkin. Kali ini Tim Lalaran Kafilah Jawa Tengah mengasingkan diri di sebuah ruko guna menjaga fokus latihan mereka.

Saat penampilan, mereka mengenakan busana adat Kudus berupa baju kurung berbahan beludru. Ada lima kafilah pada cabang Ekshibisi lalaran yang hanya ada dua kafilah peserta perempuan. Suara alunan alat musik khas Jawa yang dibawa Kafilah Jawa Tengah mengalun merdu. Banyak pasang mata terkunci menyaksikan penampilan tim tersebut. Lalaran Alfiyyah ibnu malik yang di bawakan kelima santri Qudsiyyah Putri  berhasil membuat dewan hakim dan penonton takjub.. 

Seluruh rangkaian latihan yang dijalani akhirnya membuahkan hasil. Tim lalaran kafilah Jawa Tengah berhasil meraih juara 2 setelah kemenangan kafilah Kalimantan Selatan. Prestasi ini tentu mengharumkan nama mengharumkan nama Jawa Tengah di kancah Nasional. 


sekaligus mengangkat nama baik pondok pesantren Qudsiyyah Putri. Bapak Ahmad Niam Syukri (juri lalaran tingkat provinsi) memuji penampilan gemilang Qudsiyyah Putri karena dinilai menarik dan berhasil mengkreasikan unsur lalaran dengan nilai-nilai budaya. Sehingga menjadi poin tersendiri bagi para juri yang menilai penampilan kreatif tersebut. Salah satu pelatih yang membersamai tim tersebut dari awal hingga akhir sangat mengapresiasi kegigihannya hingga sampai titik kemenangan. “Saya salut dengan teman-teman yang mau belajar dan mau mengenali alat-alat musik. Berkat latihan keras dan keinginan belajar yang kuat, saya kira mereka pantas untuk merayakannya,” pujinya. 

Prestasi yang diraih itu menjadi bukti bahwa pesantren bukan hanya tempat sunyi yang memelihara kitab kuning, tetapi juga tempat ditempanya generasi penerus bangsa yang kuat dengan agama serta memiliki daya saing yang tinggi dalam merespon persaingan global yang semakin kuat. 

Pull Quote: “Dari pesantren lahir generasi yang siap mengguncang dunia”

Oleh: Elmaba Qirani (5 Kitab)

          Nadhifa Luthfiyatunnisa A. (4 Tahfidz A)

          Adzkia Hanun M. (3 Kitab B)