Karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari
Nama
Kitab: Adabul ‘Alim wal Muta’allim
Pengarang:
Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari
Tebal
Halaman: IV+110 Halaman
Ukuran:
15 x 23 cm
Bahasa:
Arab
Penerbit:
Maktabah Turots Al-Islami (Tebuireng)
Kitab Adabul Alim wal
Mutaallim adalah kitab karya simbah KH.Hasyim Asy’ari yang membahas tentang
etika orang yang berilmu [‘alim] dan orang yang menuntut ilmu [muta’allim].
Kitab ini merupakan salah satu kitab simbah KH.Hasyim Asy’ari yang terdapat
dalam kitab Irsyadus Syari. Kitab ini melibatkan pada akhlaq seorang
santri dan guru dalam pembelajaran maupun dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Setidaknya seorang santri mempunyai akhlaq yang baik kepada guru dalam hal
mencari ilmu agar seorang santri tidak terlepas dari aktivitas pembelajaran,
karena pembelajaran merupakan aktivitas keilmuan. Adapun Pembahasan dalam kitab
ini mencakup beberapa bab, yaitu etika seseorang kepada diri sendiri, guru,
murid, pelajaran, adab menulis dan mengajar, serta etika terhadap buku dan kitab.
Adab terhadap ilmu, ulama’,
dan orang ‘alim adalah hal yang sangat krusial. Landasan utamanya merujuk pada
firman Allah SWT QS. Al-Mujadilah: 11
{يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ
وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰت}
Yang artinya: “Allah akan
mengangkat derajat/tingkatan orang orang yang beriman diantara kamu, dan orang
yang diberi ilmu.” Yang dimaksud dengan "orang yang diberi ilmu"
adalah mereka yang mengumpulkan ilmu sekaligus mengamalkannya. Sebagai orang
yang beriman, kita tidak boleh menyepelekan kitab hanya sebagai tumpukan kertas
biasa. Kitab harus dihormati karena mengandung ilmu yang kita pelajari. Adab
tidak hanya terbatas pada sopan santun antar manusia, tetapi juga mencakup
penghormatan terhadap sumber ilmu itu sendiri.
Hukum mempelajari kitab
ini pada dasarnya adalah sunnah muakkadah [sangat dianjurkan], dan dalam
konteks tertentu bisa menjadi fardhu ‘ain [wajib bagi setiap individu].
Tujuan dalam kitab ini agar setiap orang memiliki akhlaqul karimah yang baik
kepada siapapun, baik kepada ulama’ ahli kitab, dan baik terhadap kitabnya
sendiri. Dasar pijakan dalam kitab ini adalah Al-qur’an dan Hadis. Kitab
ini menegaskan bahwa adab atau etika dalam menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu
memiliki posisi yang sangat vital, bahkan sering dianggap lebih utama daripada
ilmu itu sendiri.
“Gunakan masa muda dan umurmu untuk memperoleh ilmu. Jangan mau terpedaya oleh rayuan menunda-nunda dan berangan-angan panjang, sebab setiap detik umur yang terlewatkan dari umur tidak akan tergantikan”
[HADRATUSSYAIKH
KH. HASYIM ASY’ARI]
Oleh: Farah Rayya Makki (5 Tahfidz A)





