Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Kamis, 14 Januari 2021

PEREMPUAN sebagai Tiang Negara

       


Kudus-Qudsiyyahputri.com. Islam memposisikan perempuan pada tempat yang tinggi dan mulia. Dalam pandangan islam, laki-laki dan perempuan itu relatif sama. Yang menjadi tolak ukur penilaiannya ada pada ketakwaan.

Didalam QS.Al-Hujurat:13 Allah berfirman yang artinya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

          Menurut Prof. Quraish Shihab dalam tafsiranya yang berjudul Al-Misbah, ayat ini berisi tentang prinsip dasar antar manusia. Karena itulah ayatnya menggunakan panggilan yang ditujukan kepada semua jenis manusia. Dan ayat ini sekaligus menjadi penegas bahwa semua manusia derajat kemanusiannya sama disisi Allah. Tidak ada perbedaan pada nilai kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan.

           Sejak kedatangan islam hingga sekarang, peran perempuan tidak bisa disepelekan. Dalam masalah keilmuan, Sayyidah ‘Aisyah, istri baginda Rasulullah, adalah yang terbanyak dalam meriwayatkan hadits. Banyak persoalan-persoalan agama, khususnya tentang perempuan, bersumber dari riwayat Sayyidah ‘Aisyah. Ada ribuan hadits yang sanadnya sampai kepadanya. Ihwal keistimewaan ‘Aisyah bisa ditelaah dalam buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam karya Dr. Bassam Muhammad Hamami.

           Dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi pada Rasulullah pun,nama-nama perempuan tidak sedikit. Baik yang sempat disebut dalam aneka riwayat, maupun yang menjadi pahlawan tak dikenal.

 Sebut saja tentang kisah seorang shahabiyyah  pemberani dalam pertempuran Uhud. Nasibah binti Ka’ab. Ia terlibat bersama suami dan kedua anaknya dalam pertempuran tersebut. Wanita mulia ini ikut membela Nabi sampai ia sendiri terluka. Tetapi ia juga melukai dengan pedang atau tombaknya dua belas musuh. Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Umar Radhiyallahu’anhu menyatakan, “Aku tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, ketika pertempuran Uhud, kecuali aku melihat Nasibah bertempur,”

         Pada era setelah sahabat Nabi, kita mendengar bagaimana peran ibunda dari Imam Syafi’I dalam membentuk karakter sang imam. Sebagaimana penuturan Imam Nawawi, “Ibunda Imam Syafi’I merupakan seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi.”

          Begitu juga ibunda dari Imam Ahmad bin Hambal, yang telah mendidik beliau hingga berhasi menghafal sejuta hadits. Pastinya ini tak lepas dari peran ibundanya yang mendidik seorang diri sebab sang imam yang terlahir yatim.

         Tak heran, gelar “tiang agama”pun disematka kepada perempuan. “Al-Mar’atu ‘imadu al-bilad”. Perempuan merupakan tiang negara. Bukan tanpa alasan jika ada tokoh-tokoh besar, pasti ada peran perempuan dibelakangnya.

 Kondisi Perempuan Pra-Islam

          Sebelumnya, pada zaman jahiliyyah, perempuan begitu dikengkang, seolah-olah tidak memiliki kebebasan sama sekali. Jangankan  kebebasan untuk hidup yang layak, bisa hidup dengan tanpa penderitaan saja sudah sangat beruntung kala itu. Pendidikan menjadi hal yang langka bagi mereka. Kelahiran bayi perempuanpun dianggap aib ditengah-tengah masyarakat saat itu. Sampai-sampai, jika bayi yang terlahir adalah perempuan, maka bayi tersebut langsung dikubur hidup-hidup. Seperti diisyaratkan dalam QS. An-Nahl ayat 58 yang artinya: “Padahal apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah.”

Dan diisyaratkan dalam QS. An-Nahl ayat 59 “Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan   memeliharakannya dengan (menangguang) kehinaan ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu.”

         Begitu islam datang perempuan diberikan hak-haknya sepuasnya. Seperti hak menerima harta warisan, hak kepemilikan penuh atas hartanya, hak bersaksi, hak memperoleh pendidikan dan lainnya.

         Dengan dapat dikatakan bahwa islam merupakan agama yang sangat menghargai perempuan dan laki-laki dihadapan Allah secara mutlak. Islam menghapus tradisi jahiliyyah yang begitu diskriminatif terhadap perempuan. Seperti disebutkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 diatas, perbedaan yang dijadikan antara laki-laki dan perempuan adalah agar saling melengkapi satu dengan yang lain.

Peran Perempuan dalam Islam

          Mungkin masih ada sebagian orang tua yang merasa bahwa pendidikan kaum laki-laki lebih diutamakan. Bahkan ada kalimat tentang perempuan, “Ngapain anak perempuan di sekolahkan tinggi-tinggi, kalau ujung-ujungnya di dapur.”

         Menurut hemat penulis, pandangan semacam ini sungguh keliru karena 2 hal. Pertama, pandangan diatas sangat bertentangan dengan ajaran agama. Karena Allah telah menjanjikan bagi siapapun baik laki-laki maupun perempuan yang serius dalam menuntut ilmu akan mendapat derajat dan kedudukan lebih tinggi dan mulia sebagaimana termaktub dalan Al-Qur’an Surah Al-Mujadalah ayat 11.

           Yang kedua, justru karena perempuan adalah madrasah pertama dan yang utama bagi anak-anaknya, maka seorang perempuan wajib memiliki pengetahuan dan pendidikan yang sangat tinggi.

           Bagaimana bisa seorang ibu mengajari anaknya tentang Fiqih kewanitaan, jika tidak punya pengetahuan tentang hal itu? Bagaimana anak-anaknya bisa menjadi pribadi yang kuat jika sang ibu tidak memiliki jiwa yang tangguh?

         Suatu saat ada seseorang yang ingin ikut berperang di jalan Allah. Saat memohon izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, justru Nabi malah melarangnya seraya berkata “celakalah engkau apakah ibumu masih hidup?” Ia pun menjawab, “Iya, wahai Rasulullah.” Nabi pun bersabda, “Pulanglah, berbuat baiklah dengannya. Pemuda ini meminta izin sampai 3 kali. Dan tidak mendapat jawaban dari Rasulullah kecuali jawaban yang sama. “Menetaplah dikakinya, maka surga ada disana.”

         Hadits diatas menunjukkan peran perempuan, terkhusus ibu sangat kursial. Perempuan merupakan ibu bangsa yang harus melahirkan generasi bermutu. Apabila sebuah negara baik, maka ini peran baik perempuan pada umumnya. Itulah sebabnya perempuan harus mendapat pendidikan setinggi-tingginya. Sehingga, dari rahim perempuan lah, orang-orang hebat dapat bermunculan.

 Penutup 

Walhasil, melihat kisah-kisah orang shalih terdahulu, juga orang-orang sukses di berbagai belahan dunia, perempuan yang mempunyai andil yang cukup besar. Tanpa mereka, dunia ini tidak dapat berkembang dengan baik.

Memang terdapat beberapa kekurangan yang dimiliki oleh perempuan. Agama pun membenarkannya. Tetapi jika dibandingkan dengan kelebihannya, maka kekurangan tersebut akan tertutupi.

Di negara kita, negara Indonesia ini, kita memiliki tokoh perempuan tangguh bernama R.A.Kartini. Tak hanya berjasa untuk dunia pendidikan, beliau juga berjasa untuk islam. Seperti dikisahkan bahwa R.A.Kartini lah yang mengusulkan kepada gurunya, KH. Sholeh Darat Semarang, untuk membuat karya tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Jawa.

Akhir kata, semoga perempuan-perempuan kita, anak-anak kita, murid-murid kita, keluarga kita semua, menjadi perempuan yang bertaqwa kepada Allah, menjadi perempuan yang menghadirkan manfaat di tengah-tengah kita, menjadi perempuan yang mampu menopang tiang agama dan negara.

                                                                                            Oleh : Ustadz Dzikri Fauqi Aqbas.