Ibu Nyai Masriyah Amva
lahir di Babakan, Ciwaringin, Cirebon, pada 13 Oktober 1961. Terlahir dari
keluarga pesantren, beliau tumbuh dalam tradisi keilmuan dan nilai-nilai
keagamaan yang kuat. Lingkungan tersebut menjadi pondasi penting dalam
perjalanan hidup beliau hingga dikenal sebagai ulama perempuan, pendidik,
sekaligus penulis yang menginspirasi banyak kalangan. Beliau juga seorang
Pengasuh Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy di Babakan Ciwaringin Cirebon.
Nyai Masriyah
memperoleh pendidikan pertama dari orang tuanya. Ibunya, Al-Maghfurlaha
Hj. Fariatul ‘Aini yang sehari-hari berkiprah sebagai ustadzah adalah
sosok gigih yang aktif dalam berkegiatan sosial dan berdakwah. Sementara
ayahnya, Al- Maghfurlahu KH. Amrin Khanan adalah sosok kyai dan ulama
pesantren tradisional yang istiqomah mengajar dan mengamalkan ajaran
ajaran islam. Sejak kecil Nyai Masriyah hidup di lingkungan pesantren yang
dipimpin oleh orang tuanya. Ayahnya mengajarkan anak-anak perempuannya untuk
menempuh pendidikan yang sama dengan laki-laki. Keteladanan orang tua beliau
dalam mendidik putrinya, bisa dilihat dari putri-putrinya yang mendapatkan
perhatian dan pendidikan yang sama seperti anak laki-laki pada umumnya.
Beliau sempat belajar di Pesantren Al-Muayyad Solo, Pesantren Al-Badi’iyyah Pati dan Pesantren Dar Al-Lughah wa Da’wah (DALWA) di Bangil, Jawa Timur. ”Ketika Itu orang tua saya punya anak perempuan terus, walaupun kemudian ada adik saya laki-laki, lalu akhirnya mereka bertekad agar anak-anak perempuanya mendapatkan pendidikan yang sama,” dawuh beliau. Ketika belajar di Bangil, beliau menikah dengan KH. Syakur Yasin dan menetap di Tunisia selama empat tahun. Setelah delapan tahun menikah, mereka bercerai dan beberapa tahun kemudian beliau menikah dengan KH. Muhammad, pengasuh Pesantren Kebon Melati. Mereka berdua mendirikan Pesantren Kebon Jambu dan ketika itu Nyai Masriyah mengelola pesantren putri.
Beliau juga berhasil membuktikan bahwa dirinya bisa memajukan pesantren. Dari jumlah 300 santri saat ditinggal suami, saat ini jumlah santri di Pesantren Kebon Jambu mencapai 1400 orang, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Beliau pun mulai berdekatan dengan isu gender yang bermula dari pengalamannya memimpin pesantren yang cenderung patriarkal, sehingga tidak menerima kepemimpinan Perempuan. Di lingkungan pesantren ini, beliau mengajarkan kesetaraan gender sekaligus mempraktikannya. Kiprah dan pengalaman beliau memimpin pesantren yang hanya menerima kepemimpinan laki-laki membuktikan bahwa perempuan pun bisa memimpin di lembaga dan ranah keagamaan. Sudah 13 tahun beliau memimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon.
Sebagai seorang ulama perempuan yang berpegang pada interpretasi ajaran Islam yang berkesetaraan gender, Nyai Masriyah tidak suka memaparkan banyak teori. Beliau lebih banyak mencontohkan dalam perbuatan sehari-hari atau lewat obrolan santai bersama santri dan guru. Upaya untuk mengajarkan kesetaraan gender dan Pluralisme di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitarnya.
Upaya beliau untuk mengajarkan kesetaraan gender dan Pluralisme di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitarnya, membuat beliau diberi penghargaan, antara lain Al-Biruni Award sebagai tokoh yang sukses mengembangkan dakwah melalui seni dan budaya (2012), SK Trimurti Award sebagai tokoh gender dan pluralis (2014), Ikon Prestasi Pancasila (2022) dan Santri of the Year - Santri Inspiratif Bidang Pendidikan (2024)
Sumber: https://kupipedia.id/index.php/Masriyah_Amva
Pull quote: ”perempuan dan laki-laki itu memiliki kesadaran dan kesempatan yang sama, kalau sandaran kita sama. Kalau perempuan bersandarnya kepada Tuhan, laki-laki juga begitu. Maka kekuatannya sama”.
Oleh: Janeeta Aurelia (4 kitab B)





