Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Jumat, 03 Mei 2024

PERKUAT SILATURRAHMI QUDSIYYAH PUTRI ADAKAN HALAL BIHALAL DAN HARLAH KE-7

 




           Masih dalam suasana bulan Syawal, Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri menyelenggarakan acara dalam rangka Halal Bihalal dan Harlah ke-7 Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri pada 2 Mei 2024 TU. / 24 Syawal 1445 H. Diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, sholawat Asnawiyyah & Qudsiyyah, tahlil, sambutan-sambutan, pembacaan maulid diba’ oleh grup rebana Mimil Mubarok yang dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Lintang Aurelia dan bu Nyai Nailin Nafisah dengan menyanyikan lagu mabruk alfa mabruk secara serempak oleh semua santri. Acara  diakhiri dengan mauidhoh hasanah oleh Dr. K.H. Idham Cholid “Salah satu cara mengangkat harkat dan martabat adalah ta’diman lissyaikh (tabarrukan guru yang kebetulan alim ulama, para kyai, termasuk guru – guru kamu sekarang)”, tuturnya.

 

Halal bihalal sendiri berasal dari Bahasa arab “halal” yang berarti diizinkan atau sah. Istilah ini rujuk pada tradisi pasca Ramadhan di Indonesia, dimana masyarakat berkumpul untuk saling meminta maaf dan mempererat tali silaturrahmi. Pencetus halal bihalal berasal dari KH. Abdul Wahab Hasbullah, yang merupakan salah satu ulama pendiri Nahdhotul Ulama'. KH.Wahab memperkenalkan istilah ini pada tahun 1948 kepada Bung Karno sebagai bentuk cara silaturrahim antar pemimpin politik yang saat itu masih memilki konflik. Halal bihalal kemudian diikuti masyarakat Indonesia secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa, sebagai pengikut para ulama yang kini menjadi tradisi di Indonesia.

 

Acara halal bihalal ini merujuk pada hadist Rasulullah saw.                                                    

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

(رواه البخاري ومسلم)


 Dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa ingin dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan untuknya umurnya hendaknya ia melakukan silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim).