Memperteguh Eksistensi Pesantren
di tengah Arus Modernisasi
KH M Aniq Muhammadun
KH M Yusuf Chudlori
Di tengah derasnya arus zaman yang kian menggerus nilai-nilai moral dalam kehidupan, masih ada pondok pesantren yang teguh mempertahankan nilai-nilai tersebut. Sebuah lembaga pendidikan yang telah lama berdiri ini terus menjaga jati dirinya sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan sekaligus pembentuk akhlak generasi penerus bangsa. Di lingkungan pesantren, para santri tidak hanya dibekali ilmu keagamaan, tetapi juga diajarkan bagaimana cara menyikapi berbagai persoalan di tengah masyarakat dengan bijak dan berlandaskan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh pesantren. Santri dapat disebut sebagai generasi istimewa yang tumbuh dengan keseimbangan antara kecerdasan akal dan keteguhan akhlak.
Tim
redaksi Majalah Neswa berkesempatan mewawancarai K.H. Aniq Muhammadun
yang merupakan Pengasuh pondok pesantren Mambaul Ulum Pakis, Tayu, Pati.
Kiai asal Pati ini dikenal sebagai kiai ahli Bahtsul masail. Selain
mengabdikan diri di dunia pesantren, K.H. Aniq Muhammadun juga aktif dalam
organisasi Nahdlatul Ulama. Dalam wawancara tersebut, Kiai Aniq memberi
pemahaman bahwa secara pemahaman kita, santri adalah orang yang pernah nyantri
di pesantren sedangkan makna Pesantren adalah lembaga pendidikan yang dimana
ada santri yang di asuh oleh kiai.
Sistem
pengajaran pesantren telah memiliki akar sejarah sejak masa Rasulullah SAW
melalui kelompok Ashabus-Suffah, yaitu para sahabat yang tinggal di
serambi Masjid Nabawi untuk belajar langsung kepada Nabi. Kelompok tersebut rata-rata berasal dari kaum Muhajirin
yang nyantri kepada Nabi. Ketika Nabi shalat, mereka mengikutinya begitu
juga ketika Nabi mengaji dan berjihad, mereka pun mengikutinya. Pola pendidikan
berbasis keteladanan ini kemudian diwarisi para ulama salaf dan berkembang
menjadi sistem pesantren.
Pesantren di zaman sekarang juga telah diakui dunia sebagai
lembaga pendidikan yang berhasil mencetak generasi yang layak menjadi pemimpin
bangsa. Karena di pesantren tidak hanya dididik dengan ilmu namun juga dengan al-amal
bil ilmi. Di pesantren dikenal konsep ta’dib, yaitu pengamalan ilmu
dalam perilaku sehari-hari. Hal ini membedakannya dari sekolah umum yang
biasanya hanya menekankan ta’lim (pengajaran ilmu) semata. Pesantren
tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter melalui ta’lim
dan tarbiyah secara seimbang, sehingga menghasilkan lulusan dengan
akhlak dan keilmuan yang terintegrasi.
Dari penuturan Kiai Aniq dapat ditarik kesimpulan bahwa arti
santri sebenarnya adalah orang yang benar-benar di tarbiyah langsung oleh kiai.
Tidak termasuk santri kalong yang hanya mengaji kemudian pulang (tidak bermukim
di pondok pesantren).
Ajaran
Pesantren melalui karakter kiai, pengajaran ilmu Fikih, Tasawuf dan Akhlak
“Santri
merupakan cerminan dari pesantren itu sendiri, Pondok pesantren dapat
diibaratkan sebagai sebuah kerajaan besar yang memiliki karakter dan ciri khas
tersendiri.” karakter santri dapat bersumber dari keteladanan kiai. Sikap kiai
baik yang khusyuk, sederhana, maupun nyentrik secara tidak langsung akan
diwariskan kepada santrinya melalui proses pendidikan dan keteladanan
sehari-hari.
Di
zaman sekarang beberapa pesantren mengalami transformasi seperti berubah
menjadi boarding school. Zaman dulu santri mengaji dengan kiai yang
benar-benar kiai, sehingga melahirkan santri yang alim dan berakhlak. Kini,
tidak jarang kiai menyerahkan kegiatan pondok kepada pengurus dan tidak selalu
mendampingi santri-santrinya. Perubahan ini dapat mempengaruhi hasil pendidikan
santri. Melihat kenyataan yang ada, Kiai Aniq menyarankan agar kiai di zaman
sekarang tetap tekun memberikan teladan yang baik sebagai bagian penting dari
proses Pendidikan.
Santri
kalangan Nahdliyin hingga kini masih berpegang teguh pada karakter santri
salaf. Pondok Pesantren Salaf menitikberatkan pendidikan ilmu agama yang
disertai pembentukan akhlak.
Banyak
Masyarakat pada zaman sekarang yang masih sering menganggap santri gaptek
(gagap teknologi) karena mereka melihat bahwa santri hanya belajar ilmu agama
dan akhlak saja. Kenyataannya, di samping mengajarkan berbagai fan ilmu seperti
fikih, tasawuf, akhlak, seperti kitab As-Sullam at-Tufiq dan Ashabul
‘Ibad, banyak pesantren juga mengajarkan seni dan teknologi.
Pengasuh
Ponpes Mambaul Ulum ini juga menegaskan peran utama pesantren sebagai Lembaga
pembentuk karakter sosial santrinya. Dalam kehidupan sosial, pesantren
membekali santri dengan pendidikan akhlak, seperti pemahaman tentang Huququl Shuhbah
(hak pertemanan), Huququl Walidain (bakti orang tua), dan Huququl
Jiran (hak tetangga), tujuannya agar hubungan kita dengan sesama
manusia dapat terjalin dengan akrab dan penuh rasa saling menghormati. “Karena
di zaman modern, masalah yang berkaitan dengan akhlak seperti perilaku dalam
bermasyarakat perlu di sikapi dengan akhlak,” terang beliau. Begitupun
dengan masalah halal haram ataupun mu’amalah maka di sikapi dengan fikih.
Meskipun demikian, tingkat pemahaman santri terhadap fan tersebut cukup
beragam. Terdapat santri yang mampu menyerap pelajaran dengan baik, sementara
sebagian lainnya masih memerlukan pendalaman lebih lanjut.
Strategi
Pesantren dalam menyeimbangkan Ilmu dan Akhlak
Dalam
wawancara tersebut, K.H. Aniq Muhammadun beberapa kali menegaskan pentingnya
ilmu dan akhlak. Beliau menuturkan, “Yang di rasa penting itu ilmu dan akhlak.
Kedua-duanya itu sangat penting.” Dalam kehidupan pesantren memang tidak bisa
lepas dari berbagai fan yang telah dijelaskan sebelumnya. Sebagai
santri, kita dapat mempelajari ilmu dari kitab kuning yang biasa disebut dengan
“Trio Fathu” (Fathul Qorib, Fathul Mu’in dan Fathul Wahab)
agar santri dapat memahami Muamalah ma'a Allah (hubungan
dengan Allah) seperti bab thaharah, haji, shalat, puasa dan lain sebagainya,
dan Muamalah ma'a makhluk (hubungan dengan
sesama makhluk dan alam) seperti bab budak dan bab nikah, keduanya harus
seimbang agar hidup menjadi lebih damai dan berkah. Disamping itu Santri juga harus mempelajari
akhlak seperti dari kitab As-Sullam at-Taufiq dan kitab Nashoihud
Diniyyah, untuk menjaga nilai-nilai akhlak. “Terkadang ada santri yang
pintar baca kitab tetapi tidak bisa menyikapi masalah yang terjadi di
masyarakat karena memang hal itu tidak mudah.” jelas beliau. Menanggapi masalah
ini, Pondok pesantren menghadirkan Bahtsul Masail sebagai metode
pengajaran dalam menyikapi masalah dengan cara fikih juga dengan menganut cara
‘ibarotul ulama (pendapat ulama).
Kiai
Aniq kembali mengingatkan bahwa “Pesantren tidak hanya mengajarkan teori,
tetapi menanamkan ilmu dan akhlak melalui pembiasaan dalam kehidupan
sehari-hari.” Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
“ إِنَّمَا
بُعِثْتُ
لِأُتَمِّمَ
مَکَارِمَ
الأَخْلَاق ”
(Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak), jadi pesantren
bukan hanya mengajarkan ilmu tapi juga makarimal akhlak, membentuk
Akhlak mulia dalam diri santri. Untuk mewujudkan makarimal akhlak,
pesantren mengajarkan kitab akhlak dan tasawuf supaya santri tidak hanya bagus
secara ilmiah sedangkan akhlaknya rusak.
Dalam
khazanah Islam, terdapat dua disiplin ilmu yang saling melengkapi, yaitu fikih
dan tasawuf. Sebagaimana ungkapan Imam Malik,
مَنْ
تَفَقَّهَ
وَلَمْ
يَتَصَوَّفْ
فَقَدْ
تَفَسَّقَ،
وَمَنْ
تَصَوَّفَ
وَلَمْ
يَتَفَقَّهْ
فَقَدْ
تَزَنْدَقَ،
وَمَنْ
جَمَعَ
بَيْنَهُمَا
فَقَدْ
تَحَقَّقَ.
yang
menegaskan bahwa keseimbangan antara fikih dan tasawuf akan mengantarkan
seseorang pada kebenaran yang hakiki. Fikih mengatur aspek lahiriah dalam hukum
dan tata cara ibadah, sedangkan tasawuf menata dimensi batin melalui proses tazkiyatul
qalb (penyucian hati). Dengan demikian, Islam yang haqiqi adalah Islam yang
tertata lahir dan batinnya. Dalam setiap ibadah yang bersifat ta‘abbudiyah
(penghambaan murni), idealnya tidak terdapat campur tangan haddun nafsi
(kepentingan pribadi), sehingga esensi penghambaan benar-benar terwujud secara
utuh dan seimbang.
Apabila
terdapat santri yang tidak menerapkan ajaran yang telah diajarkan di pondok
pesantren, hal tersebut tidak dapat sepenuhnya disalahkan atau dibebankan
kepada pihak pesantren. Tanggung jawab tersebut merupakan kesalahan individu
yang bersangkutan. Adapun tugas pesantren adalah memberikan pendidikan dan
menanamkan nilai-nilai kebaikan, sedangkan hasil akhirnya kembali bergantung
pada pribadi masing-masing santri.
Ajaran
orang tua atau guru kepada anak
Menurut
Kiai Aniq Santri masa kini juga harus dididik secara universal. Guru maupun
orang tua perlu mendidik anaknya sesuai zaman anaknya. Mendidik anak sesuai
zaman sudah di terangkan dalam hadist dari Ali bin Abi Thalib R.A.
“عَلِّمُوْا
اَوْلاَدَكُمْ
فَإِنّهُمْ
سَيَعِيْشُوْنَ
فِى
زَمَانٍ
غَيْرِ
زَمَانِكُمْ”. Kalamullah pun bersifat universal,
sehingga bisa diterapkan di mana saja dan kapan saja. Apapun yang terjadi,
seseorang harus tetap berpegang pada ajaran agama yang telah ditentukan. Jika
terdapat kondisi atau kebiasaan yang berbeda, maka dapat menyesuaikannya dengan
petunjuk Al-Qur’an. Seringkali, ketika suatu kebiasaan menyimpang dari ajaran
Al-Qur’an tetapi yang disalahkan justru Al-Qur’an, padahal seharusnya yang
perlu dikoreksi adalah kebiasaan tersebut agar selaras dengan ajaran agama.
Misal, praktik “Female Breadwinner” di mana perempuan bekerja sementara
laki-laki tinggal di rumah dan melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan
perempuan merupakan hal yang bertentangan dengan ajaran agama dan sepatutnya
dihindari. Segala hal semacam ini harus disesuaikan dengan Al-Qur’an agar tetap
berada di jalan yang benar. Tugas mendidik anak itu mengajarkannya tentang
agama yang benar dan kuat sehingga anak-anak tetap berpegang teguh pada agama
meskipun di zaman yang penuh perubahan dan pengaruh negatif sekarang.
Harapan untuk seluruh santri
Usai memberikan semua jawaban, Kiai Aniq menitipkan harapan besar kepada seluruh santri. Di antaranya, karakter yang diajarkan dalam ilmu akhlak dan tasawuf harus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, santri perlu berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama yang baik dan selaras dengan hukum fikih serta akhlak, karena di dalam fikih terdapat pembahasan tentang ḥirḍiyyah. Memang tidak mudah hidup bermasyarakat; santri dituntut untuk mampu membaca situasi dan kondisi. Sebisa mungkin, kita harus menghindari qoul yang dapat menimbulkan hal-hal yang tidak baik, dan menggunakan qoul yang telah diakui kebenarannya oleh para ulama.
Sebagai
bagian dari generasi yang tumbuh bersama teknologi, santri hari ini memikul dua
tanggung jawab sekaligus: menjaga warisan keilmuan sekaligus beradaptasi dengan
perkembangan digital. Di era 2026 yang ditandai dengan meluasnya informasi
dalam hitungan detik, ruang digital menghadirkan beragam narasi yang kerap kali
sulit dibedakan kebenarannya. Dalam Konteks keagamaan, kondisi ini dapat
menyesatkan Masyarakat ketika mendapat hukum dari sumber yang tidak terpercaya.
Menanggapi
realita tersebut, Tim Redaksi Majalah Neswa menghadirkan K.H. Muhammad Yusuf
Chudlori sebagai narasumber untuk memberikan pandangan komprehensif
mengenai peran santri dalam merespons tantangan era digital. Gus Yusuf, sapaan
akrabnya adalah ulama, budayawan, politikus, sekaligus pengasuh Pondok
Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang.
Sebelum
membahas perspektif digitalitas, beliau terlebih dulu menjelaskan bahwa
“Pesantren itu tempat dimana terdapat mu’allim wal muta’allim, guru dan
santri. Ada proses belajar mengajar. Meski judulnya pesantren kalau tidak ada
santri ya tidak bisa di sebut pesantren.” Sedangkan pengertian secara fisik
sebagaimana yang telah disebutkan Dr. Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya,
bahwa pesantren itu tempat yang memiliki: asrama, santri, musholla/masjid, dan
pengajaran kitab kuning.
Dalam
pengajaran pesantren, harus ada tafaqquh fid din sebagai tujuan utama.
Baik itu dalam ulumul Qur’an, ulumul Fiqh, ulumul Hadist, dan ulumul
Usul.
Selain
mengajarkan ilmu pengetahuan, pesantren juga menanamkan pembentukan karakter
dan moral santri. Tugas pokok pesantren itu ada dua, membentuk orang yang
berilmu dan membentuk santri yang berkarakter. Sebagaimana al-ulama’
warasatul anbiya’. Warisan ulama’ itu ada dua, Pertama itu Ilmu,
dimana ilmu itu hanya bisa diperoleh dengan belajar. Sebagaimana dalam nadhoman
Wafi Ladunni Laduni qalla, karena sedikit sekali orang yang mendapat
ilmu Ladunni (dengan tanpa belajar).
Warisan
ulama’ Kedua yakni Al-Hal (karakter). Karakter hanya bisa
dibentuk dengan subbah (muasarah/bergaul). “Kenapa kita harus mondok,
siang malam kita tidak boleh pulang? Karena itu dalam rangka membentuk
karakter. Dari mulai kita bangun tidur, siang, sore, sampai tidur lagi,” tutur
beliau dengan penekanan dan menggugah kesadaran.
Seorang
anak yang awalnya ndablek, ketika mereka berkumpul dengan santri yang
rajin, tahu tata krama, tawadlu’ maka lambat laun ia juga akan ikut menjadi
anak yang baik. “Sifat ilmu itu sebagaimana air.” Air itu akan mengalir mencari
tempat yang lebih rendah. Maka ilmu juga akan mencari anak-anak yang tawadlu’.
Pesantren tidak hanya mencerdaskan akal fikiran santri, tetapi juga membentuk
karakter moral santri.
Di
antara keistimewaan lembaga pendidikan pesantren adalah keberadaannya yang
telah ada jauh sebelum lahirnya NKRI. Nahdlatul Ulama’ dapat dikatakan sebagai
pesantren besar, dan pesantren sendiri merupakan Nahdlatul Ulama’ kecil. Jejak
historis menunjukkan bahwa santri merupakan bagian integral dari perjuangan
kemerdekaan. Salah satu peristiwa yang utama adalah Resolusi Jihad yang
diserukan oleh para ulama dan kiai pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut
kemudian menjadi landasan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan
Indonesia, yang puncaknya terdapat dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya
yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Resolusi Jihad menjadi bukti nyata
bahwa para ulama dan santri turut mengambil peran penting dalam mempertahankan
kedaulatan bangsa dari upaya penjajahan kembali. Dapat dikatakan NKRI harga
mati , karena kita ikut mendirikan dan memperjuangkan negara Indonesia ini
dengan sepenuh hati.
Dalam
peradaban global yang terus mengalami perubahan, Lembaga pendidikan Islam
tertua ini juga tampak menunjukkan wajah yang berbeda. Sebagaimana maqalah
المُحَافَظَةُ
عَلَى
الْقَدِيمِ
الصَّالِحِ
وَالْأَخْذُ
بِالْجَدِيدِ
الْأَصْلَحِ
Artinya
“pesantren harus tetap terbuka dengan zaman tanpa meninggalkan tradisi lama
yang baik.” Dulu, pesantren kerap dicap sebagai tempat kumuh dan santrinya
penyakitan. Persepsi seseorang belum sah menjadi santri bila belum terkena gudik
karena menganggap bagian dari proses menuntut ilmu harus mulai
ditinggalkan. Pondok di kata sebagai tempat kekerasan karena fenomena guru yang
memukul santrinya dengan tuding juga perlu ditelaah lebih baik. Dewasa
ini, pesantren menunjukkan dirinya sebagai tempat menuntut ilmu dengan
lingkungan yang bersih dan suci. Karena prinsipnya sebagai tempat yang tidak
harus mewah tapi wajib bersih, banyak pesantren hari ini yang tidak hanya
peduli dengan kesehatan fisik tapi juga kesehatan mental. Menelisik lebih dalam, kini tidak banyak
ditemukan guru yang berani memukul santrinya. Pandangan berbeda yang diterima
santri menjadi pengaruh besar dalam pembelajaran. Mungkin dulu dianggap sebagai
barokah, tapi sekarang dikatakan sebagai zero toleransi. Gojlokan misalnya, dengan
mengganggu santri baru sampai menangis di era sekarang juga perlu ditinggalkan
pesantren. Antar santri tidak boleh melakukan perundungan (bullying).
Sebagai generasi yang tumbuh dengan khazanah keilmuan seorang santri harus
mampu membedakan perbedaan makna dari kholqon dan khuluqon. Kholqon memiliki makna asal kejadian
dari Allah. Termasuk di dalamnya ciri-ciri fisik seperti hitam, putih, tinggi,
pendek, keriting maupun lurus. Inilah yang tidak boleh dihina dan dicela,
karena sejatinya ciptaan dari sang Khaliq. Berbeda dengan khuluqon dengan
artian akhlak. Guru dapat mengingatkan santrinya jika mereka berbicara kasar
atau tidak sopan. Perkataan guru “Heh, lambemu,” itu artinya
mengingatkan santri agar berkata yang lebih baik tidak bisa dimaknai dengan
menghina fisik.
Di
samping terkenal dengan kentalnya ilmu agama, banyak juga isu-isu miring yang
didengar khalayak umum mengenai pesantren. Ibarat ikan di dalam aquarium yang
di mana masyarakat luar bisa melihat seluk-beluk pesantren. Sebuah isu
pelecehan di pesantren, berita guru yang cabul dengan santrinya hingga bullying
banyak didengar oleh orang luar. Dengan sebuah fakta yang dapat menurunkan
citra pondok pesantren, pesantren sendiri dapat mengangkat kembali citranya dengan
menyembuhkannya bukan menutupinya. Salah satu langkah mengobatinya yakni dengan
mengajarkan kewaspadaan dan keberanian kepada santri ketika ada temannya yang
mulai menyukainya baik lawan jenis maupun sesama jenis serta saat muncul
tanda-tanda perundungan. Pesantren juga perlu membuka ruang bercerita langsung
dengan kiai melalui box massage seperti yang diterapkan di pondok pesantren
yang diasuh narasumber dan di Qudsiyyah Putri. Menurut beliau, kita tidak perlu
debat di media sosial dengan melayani hal-hal yang tidak jelas, tapi kita harus
perbaiki dari dalam untuk mengembalikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa
pesantren peduli terhadap kesehatan mental dan fisik. Tradisi buzzer yang
sudah marak di media sosial perlu diimbangi dengan pembuktian bahwa pondok
pesantren peduli dengan kedua hal tersebut (kesehatan mental dan fisik). “Jadi
awak dewe iki mlaku bener wae di enteni salahe, apalagi kita salah wah mereka
bersorak-sorak,” terang beliau. Kesimpulannya, banyak yang suka pesantren namun
tidak sedikit pula yang membencinya, jadi harus berhati-hati mengingat bahwa
pesantren ibarat seperti ikan dalam aquarium yang tidak bisa ditutup-tutupi
dari pandangan luar.
Gus
Yusuf dapat disebut kiai visioner. Beliau selalu mendorong santri-santri
untuk tetap berpandangan ke depan. Secara tersirat beliau menyampaikan
bahwa perkembangan perangkat digital dan kecerdasan buatan tidak perlu
dipandang sebagai ancaman bagi dunia pesantren. Menurutnya, teknologi pada
hakikatnya adalah wasilah atau sarana yang berasal dari Allah yang
dihadirkan melalui perantara manusia. Karena itu, umat Islam khususnya untuk
pesantren tidak seharusnya menjauhi teknologi, tetapi justru memanfaatkannya
untuk kemaslahatan. Menyoroti fenomena masyarakat yang kini sering bertanya
kepada Artificial Intelligence (AI) tentang berbagai persoalan, termasuk hukum
syariat adalah sebuah tantangan dan peluang bagi santri masa kini. Dakwah santri hari ini tidak cukup hanya dari
mimbar ke mimba lain, tetapi juga perlu merabah ke media digital. Dengan
memahami belajar komputer atau bahkan belajar coding, santri dapat
berkontribusi mengisi ruang digital dengan menyebarkan ilmu agama yang
dipelajarinya di pesantren. Sebagai contoh, Gus Yusuf menyebutkan bahwa hasil Bahtsul
Masail seharusnya tidak berhenti di ruang diskusi saja, tetapi perlu
dipublikasikan melalui berbagai media digital agar bisa diakses oleh masyarakat
luas. Menurut beliau, jika santri terus-menerus berdakwah melalui tulisan dan
semacamnya di media digital, maka lambat laun hal itu akan mempengaruhi
algoritma di internet. Dengan begitu, ketika masyarakat mencari jawaban
keagamaan secara daring, mereka akan menemukan pandangan Islam yang berakar
pada sumber terpercaya. Sebaliknya, jika para santri enggan menulis atau
berdakwah di media tersebut, maka jangan heran apabila masyarakat yang bertanya
kepada “AI" tentang agama justru menemukan jawaban yang cenderung berasal
dari perspektif lain, seperti paham Wahabi. Masalah ini dapat dikatakan bukan
semata kesalahan teknologi, melainkan juga akibat dari kurangnya kontribusi
santri dalam mengisi ruang digital dengan pengetahuan keislaman yang mereka
miliki.
Selain
itu, santri juga harus menjadi contoh bagi orang lain dalam melakukan “saring
sebelum sharing” di internet. Dengan berpegang pada prinsip tabayyun, santri
harus memastikan bahwa apa yang mereka bagikan itu tidak hanya populer, tetapi
juga benar dan bermanfaat bagi kebaikan masyarakat
Ada
sebuah maqolah ulama’:
على العاقل أن يكون عارفا بزمانه
مستقبلا في شأنه عارفا بربه
Santri
harus paham dengan situasi pada zamannya, menjadi pribadi yang tidak asal
melangkah, melainkan selalu memperhitungkan dampak jangka panjang demi masa
depan yang lebih matang dan tetap mengenal tuhannya dengan benar dan mendalam,
maksudnya dalam perkara akidah dan tauhid tidak boleh kita geser. Harus tetap
dijaga dan dijalani dengan istiqamah.
Bagi
banyak santri dan alumni, pesantren bukan sekadar tempat belajar agama.
Kebersamaan menjadi salah satu hal yang paling dirindukan oleh kiai asal
Magelang ini. Di sela-sela kesibukannya, Gus Yusuf sering mengajak
teman-temannya untuk sekadar ngopi bersama, atau yang paling favorit makan
sambal terong dengan lesehan. Sebagai santri alumni Lirboyo, setiap Kamis Legi
beliau selalu ikut ngaji kitab Al-Hikam di sana. Hal ini sebagai upaya beliau
untuk men-charge kembali semangat kesantriannya. supaya koneksi santri
tidak terputus dengan guru, beliau menegaskan bahwa halaqah itu ada dua yakni
halaqah batin dengan cara mengirimkan Surat Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada
guru-guru dan halaqah lahir, yakni dengan cara sowan kepada guru-guru beliau.
“Nek ora iso selapan pisan ya sebulan sekali,” tutur beliau. Menurut beliau,
bagi alumni atau santri yang berada di luar Jawa juga bisa datang setengah
tahun sekali atau setahun sekali, yang penting tetap ada.
Pada
akhir wawancara, beliau menyampaikan harapan terbesarnya supaya pesantren tetap
lestari menjaga peninggalan para masyayikh. Kendati demikian bukan
berarti meninggalkan zaman. Pesantren harus tetap adaptif, tanggap,
transformatif serta cepat dalam mengikuti perkembangan zaman. Dengan begitu,
pesantren akan tetap dicintai dan dibutuhkan oleh masyarakat sampai kapanpun.
Beliau menuturkan bahwa jika orang tua hanya menginginkan anaknya pintar,
mungkin tidak harus di pesantren. Namun, jika ingin anaknya pintar sekaligus
memiliki akhlak yang baik, maka pesantren adalah jawabannya.
Reporter:
Alfaina Rosyada (5 Tahfidz B)
Elmaba Qirani (5 Kitab)
Nadya Shofwatil Haq (5 Tahfidz C)
Lutfiana Ulfa (5 Tahfidz A)
Kanila Khoirun Naili (5 Tahfidz B)
Nadhifa Luthiyatunnisa’ (4 Tahfidz A)
Adzkia Hanun Mumtaza (3 Kitab A)





