Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Rabu, 24 Juni 2026

Memperteguh Eksistensi Pesantren di tengah Arus Modernisasi

Memperteguh Eksistensi Pesantren

 di tengah Arus Modernisasi

KH M Aniq Muhammadun

KH M Yusuf Chudlori

Di tengah derasnya arus zaman yang kian menggerus nilai-nilai moral dalam kehidupan, masih ada pondok pesantren yang teguh mempertahankan nilai-nilai tersebut. Sebuah lembaga pendidikan yang telah lama berdiri ini terus menjaga jati dirinya sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan sekaligus pembentuk akhlak generasi penerus bangsa. Di lingkungan pesantren, para santri tidak hanya dibekali ilmu keagamaan, tetapi juga diajarkan bagaimana cara menyikapi berbagai persoalan di tengah masyarakat dengan bijak dan berlandaskan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh pesantren. Santri dapat disebut sebagai generasi istimewa yang tumbuh dengan keseimbangan antara kecerdasan akal dan keteguhan akhlak.

Tim redaksi Majalah Neswa berkesempatan mewawancarai K.H. Aniq Muhammadun yang merupakan Pengasuh pondok pesantren Mambaul Ulum Pakis, Tayu, Pati. Kiai asal Pati ini dikenal sebagai kiai ahli Bahtsul masail. Selain mengabdikan diri di dunia pesantren, K.H. Aniq Muhammadun juga aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Dalam wawancara tersebut, Kiai Aniq memberi pemahaman bahwa secara pemahaman kita, santri adalah orang yang pernah nyantri di pesantren sedangkan makna Pesantren adalah lembaga pendidikan yang dimana ada santri yang di asuh oleh kiai.

Sistem pengajaran pesantren telah memiliki akar sejarah sejak masa Rasulullah SAW melalui kelompok Ashabus-Suffah, yaitu para sahabat yang tinggal di serambi Masjid Nabawi untuk belajar langsung kepada Nabi. Kelompok tersebut rata-rata berasal dari kaum Muhajirin yang nyantri kepada Nabi. Ketika Nabi shalat, mereka mengikutinya begitu juga ketika Nabi mengaji dan berjihad, mereka pun mengikutinya. Pola pendidikan berbasis keteladanan ini kemudian diwarisi para ulama salaf dan berkembang menjadi sistem pesantren.

Pesantren di zaman sekarang juga telah diakui dunia sebagai lembaga pendidikan yang berhasil mencetak generasi yang layak menjadi pemimpin bangsa. Karena di pesantren tidak hanya dididik dengan ilmu namun juga dengan al-amal bil ilmi. Di pesantren dikenal konsep ta’dib, yaitu pengamalan ilmu dalam perilaku sehari-hari. Hal ini membedakannya dari sekolah umum yang biasanya hanya menekankan ta’lim (pengajaran ilmu) semata. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter melalui ta’lim dan tarbiyah secara seimbang, sehingga menghasilkan lulusan dengan akhlak dan keilmuan yang terintegrasi.

Dari penuturan Kiai Aniq dapat ditarik kesimpulan bahwa arti santri sebenarnya adalah orang yang benar-benar di tarbiyah langsung oleh kiai. Tidak termasuk santri kalong yang hanya mengaji kemudian pulang (tidak bermukim di pondok pesantren).

Ajaran Pesantren melalui karakter kiai, pengajaran ilmu Fikih, Tasawuf dan Akhlak

“Santri merupakan cerminan dari pesantren itu sendiri, Pondok pesantren dapat diibaratkan sebagai sebuah kerajaan besar yang memiliki karakter dan ciri khas tersendiri.” karakter santri dapat bersumber dari keteladanan kiai. Sikap kiai baik yang khusyuk, sederhana, maupun nyentrik secara tidak langsung akan diwariskan kepada santrinya melalui proses pendidikan dan keteladanan sehari-hari.

Di zaman sekarang beberapa pesantren mengalami transformasi seperti berubah menjadi boarding school. Zaman dulu santri mengaji dengan kiai yang benar-benar kiai, sehingga melahirkan santri yang alim dan berakhlak. Kini, tidak jarang kiai menyerahkan kegiatan pondok kepada pengurus dan tidak selalu mendampingi santri-santrinya. Perubahan ini dapat mempengaruhi hasil pendidikan santri. Melihat kenyataan yang ada, Kiai Aniq menyarankan agar kiai di zaman sekarang tetap tekun memberikan teladan yang baik sebagai bagian penting dari proses Pendidikan.

Santri kalangan Nahdliyin hingga kini masih berpegang teguh pada karakter santri salaf. Pondok Pesantren Salaf menitikberatkan pendidikan ilmu agama yang disertai pembentukan akhlak.

Banyak Masyarakat pada zaman sekarang yang masih sering menganggap santri gaptek (gagap teknologi) karena mereka melihat bahwa santri hanya belajar ilmu agama dan akhlak saja. Kenyataannya, di samping mengajarkan berbagai fan ilmu seperti fikih, tasawuf, akhlak, seperti kitab As-Sullam at-Tufiq dan Ashabul ‘Ibad, banyak pesantren juga mengajarkan seni dan teknologi.

Pengasuh Ponpes Mambaul Ulum ini juga menegaskan peran utama pesantren sebagai Lembaga pembentuk karakter sosial santrinya. Dalam kehidupan sosial, pesantren membekali santri dengan pendidikan akhlak, seperti pemahaman tentang Huququl Shuhbah (hak pertemanan), Huququl Walidain (bakti orang tua), dan Huququl Jiran (hak tetangga), tujuannya agar hubungan kita dengan sesama manusia dapat terjalin dengan akrab dan penuh rasa saling menghormati. “Karena di zaman modern, masalah yang berkaitan dengan akhlak seperti perilaku dalam bermasyarakat perlu di sikapi dengan akhlak,” terang beliau. Begitupun dengan masalah halal haram ataupun mu’amalah maka di sikapi dengan fikih. Meskipun demikian, tingkat pemahaman santri terhadap fan tersebut cukup beragam. Terdapat santri yang mampu menyerap pelajaran dengan baik, sementara sebagian lainnya masih memerlukan pendalaman lebih lanjut.

Strategi Pesantren dalam menyeimbangkan Ilmu dan Akhlak

Dalam wawancara tersebut, K.H. Aniq Muhammadun beberapa kali menegaskan pentingnya ilmu dan akhlak. Beliau menuturkan, “Yang di rasa penting itu ilmu dan akhlak. Kedua-duanya itu sangat penting.” Dalam kehidupan pesantren memang tidak bisa lepas dari berbagai fan yang telah dijelaskan sebelumnya. Sebagai santri, kita dapat mempelajari ilmu dari kitab kuning yang biasa disebut dengan “Trio Fathu” (Fathul Qorib, Fathul Mu’in dan Fathul Wahab) agar santri dapat memahami Muamalah ma'a Allah (hubungan dengan Allah) seperti bab thaharah, haji, shalat, puasa dan lain sebagainya, dan Muamalah ma'a makhluk (hubungan dengan sesama makhluk dan alam) seperti bab budak dan bab nikah, keduanya harus seimbang agar hidup menjadi lebih damai dan berkah.  Disamping itu Santri juga harus mempelajari akhlak seperti dari kitab As-Sullam at-Taufiq dan kitab Nashoihud Diniyyah, untuk menjaga nilai-nilai akhlak. “Terkadang ada santri yang pintar baca kitab tetapi tidak bisa menyikapi masalah yang terjadi di masyarakat karena memang hal itu tidak mudah.” jelas beliau. Menanggapi masalah ini, Pondok pesantren menghadirkan Bahtsul Masail sebagai metode pengajaran dalam menyikapi masalah dengan cara fikih juga dengan menganut cara ‘ibarotul ulama (pendapat ulama).

Kiai Aniq kembali mengingatkan bahwa “Pesantren tidak hanya mengajarkan teori, tetapi menanamkan ilmu dan akhlak melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.” Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

 إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَکَارِمَ الأَخْلَاق (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak), jadi pesantren bukan hanya mengajarkan ilmu tapi juga makarimal akhlak, membentuk Akhlak mulia dalam diri santri. Untuk mewujudkan makarimal akhlak, pesantren mengajarkan kitab akhlak dan tasawuf supaya santri tidak hanya bagus secara ilmiah sedangkan akhlaknya rusak.

Dalam khazanah Islam, terdapat dua disiplin ilmu yang saling melengkapi, yaitu fikih dan tasawuf. Sebagaimana ungkapan Imam Malik,

مَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّفْ فَقَدْ تَفَسَّقَ، وَمَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّهْ فَقَدْ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَحَقَّقَ.

yang menegaskan bahwa keseimbangan antara fikih dan tasawuf akan mengantarkan seseorang pada kebenaran yang hakiki. Fikih mengatur aspek lahiriah dalam hukum dan tata cara ibadah, sedangkan tasawuf menata dimensi batin melalui proses tazkiyatul qalb (penyucian hati). Dengan demikian, Islam yang haqiqi adalah Islam yang tertata lahir dan batinnya. Dalam setiap ibadah yang bersifat ta‘abbudiyah (penghambaan murni), idealnya tidak terdapat campur tangan haddun nafsi (kepentingan pribadi), sehingga esensi penghambaan benar-benar terwujud secara utuh dan seimbang.

Apabila terdapat santri yang tidak menerapkan ajaran yang telah diajarkan di pondok pesantren, hal tersebut tidak dapat sepenuhnya disalahkan atau dibebankan kepada pihak pesantren. Tanggung jawab tersebut merupakan kesalahan individu yang bersangkutan. Adapun tugas pesantren adalah memberikan pendidikan dan menanamkan nilai-nilai kebaikan, sedangkan hasil akhirnya kembali bergantung pada pribadi masing-masing santri.

Ajaran orang tua atau guru kepada anak

Menurut Kiai Aniq Santri masa kini juga harus dididik secara universal. Guru maupun orang tua perlu mendidik anaknya sesuai zaman anaknya. Mendidik anak sesuai zaman sudah di terangkan dalam hadist dari Ali bin Abi Thalib R.A.

عَلِّمُوْا اَوْلاَدَكُمْ فَإِنّهُمْ سَيَعِيْشُوْنَ فِى زَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ”.  Kalamullah pun bersifat universal, sehingga bisa diterapkan di mana saja dan kapan saja. Apapun yang terjadi, seseorang harus tetap berpegang pada ajaran agama yang telah ditentukan. Jika terdapat kondisi atau kebiasaan yang berbeda, maka dapat menyesuaikannya dengan petunjuk Al-Qur’an. Seringkali, ketika suatu kebiasaan menyimpang dari ajaran Al-Qur’an tetapi yang disalahkan justru Al-Qur’an, padahal seharusnya yang perlu dikoreksi adalah kebiasaan tersebut agar selaras dengan ajaran agama. Misal, praktik “Female Breadwinner” di mana perempuan bekerja sementara laki-laki tinggal di rumah dan melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan perempuan merupakan hal yang bertentangan dengan ajaran agama dan sepatutnya dihindari. Segala hal semacam ini harus disesuaikan dengan Al-Qur’an agar tetap berada di jalan yang benar. Tugas mendidik anak itu mengajarkannya tentang agama yang benar dan kuat sehingga anak-anak tetap berpegang teguh pada agama meskipun di zaman yang penuh perubahan dan pengaruh negatif sekarang.

Harapan untuk seluruh santri

Usai memberikan semua jawaban, Kiai Aniq menitipkan harapan besar kepada seluruh santri. Di antaranya, karakter yang diajarkan dalam ilmu akhlak dan tasawuf harus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, santri perlu berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama yang baik dan selaras dengan hukum fikih serta akhlak, karena di dalam fikih terdapat pembahasan tentang iriyyah. Memang tidak mudah hidup bermasyarakat; santri dituntut untuk mampu membaca situasi dan kondisi. Sebisa mungkin, kita harus menghindari qoul yang dapat menimbulkan hal-hal yang tidak baik, dan menggunakan qoul yang telah diakui kebenarannya oleh para ulama.

Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh bersama teknologi, santri hari ini memikul dua tanggung jawab sekaligus: menjaga warisan keilmuan sekaligus beradaptasi dengan perkembangan digital. Di era 2026 yang ditandai dengan meluasnya informasi dalam hitungan detik, ruang digital menghadirkan beragam narasi yang kerap kali sulit dibedakan kebenarannya. Dalam Konteks keagamaan, kondisi ini dapat menyesatkan Masyarakat ketika mendapat hukum dari sumber yang tidak terpercaya. 

Menanggapi realita tersebut, Tim Redaksi Majalah Neswa menghadirkan K.H. Muhammad Yusuf Chudlori sebagai narasumber untuk memberikan pandangan komprehensif mengenai peran santri dalam merespons tantangan era digital. Gus Yusuf, sapaan akrabnya adalah ulama, budayawan, politikus, sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang.

Sebelum membahas perspektif digitalitas, beliau terlebih dulu menjelaskan bahwa “Pesantren itu tempat dimana terdapat mu’allim wal muta’allim, guru dan santri. Ada proses belajar mengajar. Meski judulnya pesantren kalau tidak ada santri ya tidak bisa di sebut pesantren.” Sedangkan pengertian secara fisik sebagaimana yang telah disebutkan Dr. Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya, bahwa pesantren itu tempat yang memiliki: asrama, santri, musholla/masjid, dan pengajaran kitab kuning.

Dalam pengajaran pesantren, harus ada tafaqquh fid din sebagai tujuan utama. Baik itu dalam ulumul Qur’an, ulumul Fiqh, ulumul Hadist, dan ulumul Usul.

Selain mengajarkan ilmu pengetahuan, pesantren juga menanamkan pembentukan karakter dan moral santri. Tugas pokok pesantren itu ada dua, membentuk orang yang berilmu dan membentuk santri yang berkarakter. Sebagaimana al-ulama’ warasatul anbiya’. Warisan ulama’ itu ada dua, Pertama itu Ilmu, dimana ilmu itu hanya bisa diperoleh dengan belajar. Sebagaimana dalam nadhoman Wafi Ladunni Laduni qalla, karena sedikit sekali orang yang mendapat ilmu Ladunni (dengan tanpa belajar).

Warisan ulama’ Kedua yakni Al-Hal (karakter). Karakter hanya bisa dibentuk dengan subbah (muasarah/bergaul). “Kenapa kita harus mondok, siang malam kita tidak boleh pulang? Karena itu dalam rangka membentuk karakter. Dari mulai kita bangun tidur, siang, sore, sampai tidur lagi,” tutur beliau dengan penekanan dan menggugah kesadaran.

Seorang anak yang awalnya ndablek, ketika mereka berkumpul dengan santri yang rajin, tahu tata krama, tawadlu’ maka lambat laun ia juga akan ikut menjadi anak yang baik. “Sifat ilmu itu sebagaimana air.” Air itu akan mengalir mencari tempat yang lebih rendah. Maka ilmu juga akan mencari anak-anak yang tawadlu’. Pesantren tidak hanya mencerdaskan akal fikiran santri, tetapi juga membentuk karakter moral santri.

 

Di antara keistimewaan lembaga pendidikan pesantren adalah keberadaannya yang telah ada jauh sebelum lahirnya NKRI. Nahdlatul Ulama’ dapat dikatakan sebagai pesantren besar, dan pesantren sendiri merupakan Nahdlatul Ulama’ kecil. Jejak historis menunjukkan bahwa santri merupakan bagian integral dari perjuangan kemerdekaan. Salah satu peristiwa yang utama adalah Resolusi Jihad yang diserukan oleh para ulama dan kiai pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut kemudian menjadi landasan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang puncaknya terdapat dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Resolusi Jihad menjadi bukti nyata bahwa para ulama dan santri turut mengambil peran penting dalam mempertahankan kedaulatan bangsa dari upaya penjajahan kembali. Dapat dikatakan NKRI harga mati , karena kita ikut mendirikan dan memperjuangkan negara Indonesia ini dengan sepenuh hati.

 

Dalam peradaban global yang terus mengalami perubahan, Lembaga pendidikan Islam tertua ini juga tampak menunjukkan wajah yang berbeda. Sebagaimana maqalah

 المُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيدِ الْأَصْلَحِ

Artinya “pesantren harus tetap terbuka dengan zaman tanpa meninggalkan tradisi lama yang baik.” Dulu, pesantren kerap dicap sebagai tempat kumuh dan santrinya penyakitan. Persepsi seseorang belum sah menjadi santri bila belum terkena gudik karena menganggap bagian dari proses menuntut ilmu harus mulai ditinggalkan. Pondok di kata sebagai tempat kekerasan karena fenomena guru yang memukul santrinya dengan tuding juga perlu ditelaah lebih baik. Dewasa ini, pesantren menunjukkan dirinya sebagai tempat menuntut ilmu dengan lingkungan yang bersih dan suci. Karena prinsipnya sebagai tempat yang tidak harus mewah tapi wajib bersih, banyak pesantren hari ini yang tidak hanya peduli dengan kesehatan fisik tapi juga kesehatan mental.  Menelisik lebih dalam, kini tidak banyak ditemukan guru yang berani memukul santrinya. Pandangan berbeda yang diterima santri menjadi pengaruh besar dalam pembelajaran. Mungkin dulu dianggap sebagai barokah, tapi sekarang dikatakan sebagai zero toleransi. Gojlokan misalnya, dengan mengganggu santri baru sampai menangis di era sekarang juga perlu ditinggalkan pesantren. Antar santri tidak boleh melakukan perundungan (bullying). Sebagai generasi yang tumbuh dengan khazanah keilmuan seorang santri harus mampu membedakan perbedaan makna dari kholqon dan khuluqon.  Kholqon memiliki makna asal kejadian dari Allah. Termasuk di dalamnya ciri-ciri fisik seperti hitam, putih, tinggi, pendek, keriting maupun lurus. Inilah yang tidak boleh dihina dan dicela, karena sejatinya ciptaan dari sang Khaliq. Berbeda dengan khuluqon dengan artian akhlak. Guru dapat mengingatkan santrinya jika mereka berbicara kasar atau tidak sopan. Perkataan guru “Heh, lambemu,” itu artinya mengingatkan santri agar berkata yang lebih baik tidak bisa dimaknai dengan menghina fisik.

Di samping terkenal dengan kentalnya ilmu agama, banyak juga isu-isu miring yang didengar khalayak umum mengenai pesantren. Ibarat ikan di dalam aquarium yang di mana masyarakat luar bisa melihat seluk-beluk pesantren. Sebuah isu pelecehan di pesantren, berita guru yang cabul dengan santrinya hingga bullying banyak didengar oleh orang luar. Dengan sebuah fakta yang dapat menurunkan citra pondok pesantren, pesantren sendiri dapat mengangkat kembali citranya dengan menyembuhkannya bukan menutupinya. Salah satu langkah mengobatinya yakni dengan mengajarkan kewaspadaan dan keberanian kepada santri ketika ada temannya yang mulai menyukainya baik lawan jenis maupun sesama jenis serta saat muncul tanda-tanda perundungan. Pesantren juga perlu membuka ruang bercerita langsung dengan kiai melalui box massage seperti yang diterapkan di pondok pesantren yang diasuh narasumber dan di Qudsiyyah Putri. Menurut beliau, kita tidak perlu debat di media sosial dengan melayani hal-hal yang tidak jelas, tapi kita harus perbaiki dari dalam untuk mengembalikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa pesantren peduli terhadap kesehatan mental dan fisik. Tradisi buzzer yang sudah marak di media sosial perlu diimbangi dengan pembuktian bahwa pondok pesantren peduli dengan kedua hal tersebut (kesehatan mental dan fisik). “Jadi awak dewe iki mlaku bener wae di enteni salahe, apalagi kita salah wah mereka bersorak-sorak,” terang beliau. Kesimpulannya, banyak yang suka pesantren namun tidak sedikit pula yang membencinya, jadi harus berhati-hati mengingat bahwa pesantren ibarat seperti ikan dalam aquarium yang tidak bisa ditutup-tutupi dari pandangan luar.

Gus Yusuf dapat disebut kiai visioner. Beliau selalu mendorong santri-santri untuk tetap berpandangan ke depan. Secara tersirat beliau menyampaikan bahwa perkembangan perangkat digital dan kecerdasan buatan tidak perlu dipandang sebagai ancaman bagi dunia pesantren. Menurutnya, teknologi pada hakikatnya adalah wasilah atau sarana yang berasal dari Allah yang dihadirkan melalui perantara manusia. Karena itu, umat Islam khususnya untuk pesantren tidak seharusnya menjauhi teknologi, tetapi justru memanfaatkannya untuk kemaslahatan. Menyoroti fenomena masyarakat yang kini sering bertanya kepada Artificial Intelligence (AI) tentang berbagai persoalan, termasuk hukum syariat adalah sebuah tantangan dan peluang bagi santri masa kini.  Dakwah santri hari ini tidak cukup hanya dari mimbar ke mimba lain, tetapi juga perlu merabah ke media digital. Dengan memahami belajar komputer atau bahkan belajar coding, santri dapat berkontribusi mengisi ruang digital dengan menyebarkan ilmu agama yang dipelajarinya di pesantren. Sebagai contoh, Gus Yusuf menyebutkan bahwa hasil Bahtsul Masail seharusnya tidak berhenti di ruang diskusi saja, tetapi perlu dipublikasikan melalui berbagai media digital agar bisa diakses oleh masyarakat luas. Menurut beliau, jika santri terus-menerus berdakwah melalui tulisan dan semacamnya di media digital, maka lambat laun hal itu akan mempengaruhi algoritma di internet. Dengan begitu, ketika masyarakat mencari jawaban keagamaan secara daring, mereka akan menemukan pandangan Islam yang berakar pada sumber terpercaya. Sebaliknya, jika para santri enggan menulis atau berdakwah di media tersebut, maka jangan heran apabila masyarakat yang bertanya kepada “AI" tentang agama justru menemukan jawaban yang cenderung berasal dari perspektif lain, seperti paham Wahabi. Masalah ini dapat dikatakan bukan semata kesalahan teknologi, melainkan juga akibat dari kurangnya kontribusi santri dalam mengisi ruang digital dengan pengetahuan keislaman yang mereka miliki.

Selain itu, santri juga harus menjadi contoh bagi orang lain dalam melakukan “saring sebelum sharing” di internet. Dengan berpegang pada prinsip tabayyun, santri harus memastikan bahwa apa yang mereka bagikan itu tidak hanya populer, tetapi juga benar dan bermanfaat bagi kebaikan masyarakat  

Ada sebuah maqolah ulama’:

على العاقل أن يكون عارفا بزمانه مستقبلا في شأنه عارفا بربه

Santri harus paham dengan situasi pada zamannya, menjadi pribadi yang tidak asal melangkah, melainkan selalu memperhitungkan dampak jangka panjang demi masa depan yang lebih matang dan tetap mengenal tuhannya dengan benar dan mendalam, maksudnya dalam perkara akidah dan tauhid tidak boleh kita geser. Harus tetap dijaga dan dijalani dengan istiqamah.

Bagi banyak santri dan alumni, pesantren bukan sekadar tempat belajar agama. Kebersamaan menjadi salah satu hal yang paling dirindukan oleh kiai asal Magelang ini. Di sela-sela kesibukannya, Gus Yusuf sering mengajak teman-temannya untuk sekadar ngopi bersama, atau yang paling favorit makan sambal terong dengan lesehan. Sebagai santri alumni Lirboyo, setiap Kamis Legi beliau selalu ikut ngaji kitab Al-Hikam di sana. Hal ini sebagai upaya beliau untuk men-charge kembali semangat kesantriannya. supaya koneksi santri tidak terputus dengan guru, beliau menegaskan bahwa halaqah itu ada dua yakni halaqah batin dengan cara mengirimkan Surat Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada guru-guru dan halaqah lahir, yakni dengan cara sowan kepada guru-guru beliau. “Nek ora iso selapan pisan ya sebulan sekali,” tutur beliau. Menurut beliau, bagi alumni atau santri yang berada di luar Jawa juga bisa datang setengah tahun sekali atau setahun sekali, yang penting tetap ada.

Pada akhir wawancara, beliau menyampaikan harapan terbesarnya supaya pesantren tetap lestari menjaga peninggalan para masyayikh. Kendati demikian bukan berarti meninggalkan zaman. Pesantren harus tetap adaptif, tanggap, transformatif serta cepat dalam mengikuti perkembangan zaman. Dengan begitu, pesantren akan tetap dicintai dan dibutuhkan oleh masyarakat sampai kapanpun. Beliau menuturkan bahwa jika orang tua hanya menginginkan anaknya pintar, mungkin tidak harus di pesantren. Namun, jika ingin anaknya pintar sekaligus memiliki akhlak yang baik, maka pesantren adalah jawabannya.

Reporter:   

Alfaina Rosyada (5 Tahfidz B)

Elmaba Qirani (5 Kitab)

Nadya Shofwatil Haq (5 Tahfidz C)

Lutfiana Ulfa (5 Tahfidz A)

Kanila Khoirun Naili (5 Tahfidz B)

Nadhifa Luthiyatunnisa’ (4 Tahfidz A)

Adzkia Hanun Mumtaza (3 Kitab A)