Melahirkan Putri Sholihah, Salaf, dan Mandiri

Info Pendaftaran Online Santri Baru

Tata Cara dan Langkah Pendaftaran Online

KHR. Asnawi Kudus

KHR. Asnawi Muassis Madrasah Qudsiyyah dan Pendiri NU

Ngaji Online Ponpes Qudsiyyah Putri

Ngaji Online rutin setiap ba'dal maghrib selain malam jumu'ah streaming via fb dan YT Qudsiyyah Putri

Profil Ponpes Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum Ponpes

Profil MTs Qudsiyyah Putri

Visi, Misi, Tujuan, dan Kurikulum MTs Qudsiyyah Putri

Minggu, 17 Juli 2022

MOSBA Santri Ponpes Qudsiyyah Putri Tahun Ajaran 2022-2023



    Kudus-Qudsiyyahputri.com. Tanggal 17 juli 2022, Ponpes Qudsiyyah putri adakan MOSBA (Masa orientasi santri baru. Mosba merupakan kegiatan rutinan di Qudsiyyah putri yang dilaksanakan setelah liburan akhir semester (dikhususkan untuk santri baru. Kegiatan ini bertujuan agar santri baru mengetahui lebih dalam tentang seluk beluk Ponpes Qudsiyyah putri.

    Kegiatan mosba diisi dengan beberapa materi yang setiap materinya akan diselingi dengan ice breaking. Kegiatan ini bertempat di mushola, diikuti oleh santri baru Ponpes Qudsiyyah putri  dan dibuka langsung oleh moderator. Dalam pembukaannya ia membahas sekilas tentang kegiatan mosba “dalam kegiatan mosba ini kalian akan di kenalkan lebih dalam tentang pondok pesantren Qudsiyyah putri seperti sejarah berdirinya Ponpes Qudsiyyah, jadwal kegiatan setiap hari, peraturan dan larangan, uang saku, tata cara laundry dan lain –lain” Ucapnya. Kemudian dilanjutkan materi pertama yakni sejarah Ponpes Qudsiyyah putri yang di sampaikan oleh Bpk. M. Isbah kholili. Kegiatan ini berakhir setelah  ta’aruf guru dan karyawan ponpes Qudsiyyah putri.

Jumat, 17 Juni 2022

MALAM AKULTURASI SENI



                

Kudus-Qudsiyyahputri.com. Qipees fest, acara penyaluran bakat santri yang diadakan secara berkala setiap tahunnya. Tahun ini kembali diadakan pada 16 Juni 2022 yang bertempat di halaman Pondok Pesantren Qudsiyyah Putri.

Acara ini diisi oleh para santri Qudsiyyah Putri dengan berbagai bakat yang spektakuler, juga penampilan sholawat oleh ibu nyai Nailin Nafisah dengan putra sulungnya mas Yahya yang sangat luar biasa dan ditonton oleh seluruh warga Qudsiyyah Putri.

“kalau nanti kita bilang Qipees fest Qudsiyyah Putri kalian jawab I can’t but we can” ucap kak Hanun dan kak Rona sebagai host. Setiap angkatan akan menampilkan 2 pertunjukan seperti: pantomim dan drama dari kelas 5 yang sangat kreatif,tari daerah dan sing off dari kelas 4 yang keren, puisi dan drama musical dari kelas 3, sholawat dan puisi berantai dari kelas 2, paduan suara dan tari saman dari kelas 1 yang sangat memukau para santri akan kekompakannya

Rabu, 15 Juni 2022

Haflah Akhirussanah Mts Qudsiyyah Putri; Santri Agar Tetap Menyambung Silaturahim



Kepala MTs Qudsiyyah Putri, Ustadz Muhammad Nuruddin M.Pd.I dalam sambutannya beliau menyampaikan selamat dan berpesan untuk selalu menyambung tali silatuahim kepada guru-guru bagi santri kelas IX yang lulus tahun ini.

“Selamat menempuh ke jenjang berikutnya. Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat, jangan lupa guru-guru dan tetap menyambung tali silaturahim kepada guru-guru,” pesan Ustadz Rudi dalam penggalan sambutan.

MTs Qudsiyyah Putri mengadakan Haflah Akhirussanah –perpisahan bagi kelas IX bertempat di lapangan madrasah pada Rabu 15 Juni 2022.

Menurut Ustadz Muhammad Toriq selaku ketua panitia Akhirussanah merupakan penutup tahun ajaran madrasah sekaligus pelepasan dengan menampilkan dan menunjukkan hasil belajar atau ketercapaian yang sudah direncanakan MTs Qudsiyyah Putri.

“Akhirussanah adalah penutup tahun ajaran sebuah lembaga yang menampilkan dan menunjukkan hasil belajar. Selain itu ada pelepasan dan pemberian kenang-kenangan bagi santri yang melanjutkan ke sekolah lain-lain,” ujar Ustadz Toriq.

Lebih lanjut Ustadz Toriq mengatakan bahwa perpisahan tersebut memuat berbagai program diantaranya tahfidz dan kitab dan juga beberapa bakat, minat, dan juga mauidzoh pembekalan oleh K.H. Noor Halim Maruf.

Azalia Rizki dan Khoirin Nada selaku perwakilan dari kelas VII juga menyampaikan harapannya agar kakak kelas IX menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

“Untuk kakak kelas IX yang lulus tahun ini semoga menjadi pribadi yang lebih baik, dapat dicontoh kami selaku adik kelas. Semoga sukses kedepannya,” ujar kelas VII F yang hadir mewakili kelas pada acara haflah.

Sementara, perwakilan kelas IX Pranada Miladiena Mujiono menyampaikan pesan yang sama kepada teman-temannya.

“Teman-teman yang meneruskan di luar atau tetap di Qudsiyyah Putri jangan lupa menjaga silaturahmi antar teman maupun guru, semoga menjadi santri yang berkualitas dan Qudsiyyah Putri makin sukses,” kata santri yang sering dipanggil Mila.

Adapun rangkaian acara Akhirussanah diantaranya pra acara oleh Rebana MTs QP, kirab dan pedang pora, pembukaan, pembacaan Ayat-ayat suci Al-Quran, pembacaan Shalawat Asnawiyah dan Qudsiyyah, sambutan-sambutan, pembekalan santri oleh K.H. Nur Halim Maruf, penampilan-penampilan bakat santri, pemberian penghargaan untuk santri lulusan terbaik, kemudian diakhiri dengan doa.

Reporter : Tim Jurnalistik Qudsiyyah Putri

Kamis, 05 Mei 2022

KH. M. Ma'ruf Irsyad Sang Murobbi Ruh Sejati




Qudsiyyahputri.com. KH. M MA’RUF IRSYAD. lahir pada hari ahad pon, 27 muharrom 1358 H. Yang bertepatan dengan 19 maret 1939 M. Di langgardalem, Kota, Kudus. Dari pasangan KH. Irsyad dan Hj. Munijah. Kyai Ma’ruf merupakan anak ke -9 dari sepuluh bersaudara. Namun yang hidup dari sepuluh bersaudara tersebut sampai dewasa hanya 5 yaitu: ibu Hj. Ruqoyyah, H. Mas’ud , KH. Selamet Solichul Hadi, Hj. Zubaedah, dan KH. M. Ma’ruf Irsyad. Ayah beliau berasal dari Balung Kendal, Balerejo, Dempet, Demak dan merupakan seorang sufi yang saleh dan handal mengaktualisasikan kitab-kitab salaf.

Menurut statement sosiolog, ’’garis keturunanbagi seorang kyai dipandang sebagai suatu faktor yang menyebabkan seorang menjadi kyai besar’’. Disamping pengetahuan dan ilmu agamanya yang luas .

Mungkin ini juga yang menjadi salah satu faktor KH. Ma’ruf irsyad akhirnya menjadi kyai besar. Garis keturunan belia jika ditarik ke atas adalah Ma’ruf bin Irsyad bin Kertonadi bin Ahmad Yasir bin Syariban bin syeh Dzakirin kemudian nasab beliau berlanjut sampai pada pangeran kadilangu Demak.

Bahkan sejumlah kalangan mempercayai bahwa kyai ma’ruf irsyad termasuk keturunan Raden syahid Sunan Kalijaga Demak yang merupakan salah satu Walisongo.

Adapun ibunda kyai ma’ruf adalah putri dari mbah sumo masijan seorang tukang jagal kerbau yang tersohor sebagai ahli bidang ilmu supranatural yang berdomisilih di kota kudus, yang konon berasal dari kadilangu demak.

Masa kecil

Sejak kecil beliau sudah merasakan pahitnya kehidupan. Menginjak umur 3 tahun beliau sudah menjadi yatim, ayah beliau KH.irsyad menghaap illahi robbi tepatnya pada tahun 1942 M. Dimasa penjajahan jepang.

Otomatis ibunda beliau Hj. Munijah mempunyai peran ganda, selai sebagai ibu rumah tanggga, beliau juga harus menompang perekonomian keluarga. Sudah barang tentu sebagai anak-anak yang birrul walidain putra-putri mbah mun (sapaan akrab Hj. Munijah) saling bahu membahu membantu ibundanya. Walaupun masih kecil kyai Ma’ruf tidak mau ketinggalan.

Usaha mbah mun adalah membuat kue atau jajanan, sementara ma’ruf kecil bertugas menyetorkan ke warung warung. Pagi-pagi sekali beliau mengantarkan kue atau jajanan tersebut, namun beliau sering terlambat ke sekolah, dan harus rela mendapat hukuman . karena sering terlambat akhirnya guru-guru beliau mengetahui kondisi beliau kemudian memakluminya.

Sore harinya setelah pulang sekolah ma’ruf kecil kembali ke warung-warung tadi untuk mengambil uang dari hasil penjualan jajanan. Terkadang disaat menunggu ma’ruf kecil diperintah oleh sang pemilik warung untuk mencuci piring tanpa upah. Sebagai anak yang masih polos beliau menjalaninya dengan penuh keikhlasan karena semua ini pasti ada hikmahnya.

Tidak hanya itu sejak masih kecil beliau sudah terampil merajut kain untuk dibuat toplek (kopiyah), karena tidak mempunyai modal beliau menjadi buruh kepada juragan kopiyah. Dari hasil jeri payah membuat toplek tersebut beliau gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pencarian ilmu

Kesungguhan dan semangat belajar beliau memang sudah tampak menonjol sejak masih kecil, walau rintangan membentang tak jadi masalah bagi beliau.

Awal pendidikan beliau dimulai di pesantren kediaman beliau sendiri. Ma’ruf kecil bersama dengan kakaknya yang bernama solichul hadi, belajar pula mengaji pada kakak iparnya KH.rif’an yang pada saat itu pengasuh pesantren raudlatul mutta’allimin setelah peninggalan mbah irsyad.

Walau kecerdasan ma’ruf kecil tidak dalam kategori istimewa namun beliau mempunyai himmah yang kuat untuk belajar ilmu-ilmu agama, dan sangat tekun mengisi waktunya dengan menuntut ilmu-ilmu agama. Beliau benar-benar memanfaatkan waktunya dengan mendatangi majlis-majlis para tokoh ulama kota kudus yang menjadi rujukan umat di zamannya. Diantaranya guru-guru beliau adalah KH. Ma’ruf Asnawi, KH. Turaikhan Adjuhri, KH. Arwani Amin, KH. Hambali, KH. Ma’mun Siroj, KH. Sirojuddin, dan KH. Sya’roni Ahmadi.

Disamping mengaji diberbagai majlis ta’lim kepada kyai, ma’ruf kecil juga pernah mengenyam pendidikan formal. Beliau pertama kali belajar di SD demangan kudus, namun beliau hanya sampai kelas 5 saja. Dikarenakan ingin mendalami ilmu-ilmu agama beliau pindah ke MI TBS kudus yang pada saat itu masih di ampu oleh guru-guru favorit beliau. Hingga dilanjutkan ke jenjang tsanawiyyah. Sorenya beliau belajar di madrasah mu’awanatul muslimin yang konon merupakan madrasah tertua di kudus.

Hebatnya, meski masih kecil, setiap beliau mendaftar sekolah ma’ruf kecil selalu datang sendiri tanpa diantar seorang wali sebab beliau tidak mau menyusahkan orang lain. Itu karena sosok mandiri beliau yang sudah tertanam sejak masih kecil dan atas dasar keinginan yang kuat untuk menunaikan kewajiban menuntut ilmu.

Pernikahan

Pada saat itu putri dari KH. Ma’ruf Asnawi yaitu nyai Salamah adalah kembang desa yang menjadi buah bibir karena kecantikannya. Selain berparas cantik dan putri dari seorang kyai tentu kesolehannya sudah tidak diragukan lagi, mungkin itu penyebab para pelamar dari orang-orang kaya hingga para pejabat berlomba-lomba ingin mendapatkannya.

Akan tetapi mbah ji (sapaan akrab KH. Ma’ruf Asnawi) seorang kyai alim yang terkenal dengan kezuhudannya. Hanya saja beliau menginginkan seorang menantu yang berkompeten dalam bidang ilmu agama.

Seakan seperti sayembara, setiap ada pelamar mbah ji menyodorkan kitab kuning untuk dibaca sambil berucap ‘’njenengan sampun saged nopo kok sampun wonten ngelamar putri kulo.’’ Mengetahui persyaratan tersebut banyak para pelamar yang  menyerah satu persatu atau dalam kata lain menyerah sebelum bertanding.

Sikap mbah ji sepertinya memberi isyarat bahwa putrinya hanya akan diberikan kepada murid kesayangan yaitu M. Ma’ruf Irsyad seorang pemuda yang alim dan berkepribadiaan mulia. Akhirnya gayung pun bersambut mbah mun meminang putri mbah ji untuk putra kesayangan.

Pernikahan M. Ma’ruf Irsyad dan ibu Salamah jatuh pada hari selasa pon 11 mei 1965 M. Bertepatan dengan hari kemenangan islam sedunia plus buka luwur sayyid ja’far shadiq sunan kudus 10 muharrom 1385 H. Walaupun pernikahan tersebut dilaksanakan secara sederhana akan tetapi tetap berlangsung dengan sangat khidmat.

Dari pernikahan ini beliau di karuniai 6 anak yaitu: Hj. Uswah Ma’ruf (kauman menara kudus), kami murtadlo (meninggal ketika berumur 1,5 tahun), Hj.Ulfa Ma’ruf (cendono kudus), Hj. Khorin Nida (janggalan kudus), Hj. Sailin Nihlah (bareng kudus), Hj. Dini Fakhriyati (langgar dalem kudus) ketiga diantaranya merupakan hamilatul qur’an.

Masa-masa sulit

Setelah menikah. Beliau bersama istrinya harus berjuang secara mandiri untuk mengarungi samudra kehidupan dalam biduk rumah tangga. Untuk menghidupi diri dan keluarga, beliau mengajarsambil berkhidmah di madrasah qudsiyyah yang keadaannya masih sangat memprihatinkan. Belum semaju seperti sekarang, dengan hanya mengandalkan gaji guru pada masa itu sudah barang tentu perekonmian keluarga masih belum mencukupi. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengikuti tes seleksi PGA (PNS guru agama) dengan tujuan meringankan beban madrasah agar tidak perlu menggaji beliau lagi dan mendongkrak perekonomian keluarga. Dan alhamdulillah beliau lulus seleksi dan menjadi guru PNS, walaupun sudah menjadi guru PNS beliau ditugaskan tetap mengajar di qudsiyyah.

Namun beliau menjadi guru PNS tidak belangsung lama, karena setiap pegawai negri harus masuk golkar yang pada saat itu belum ada kata ``partai’’nya. Padahal beliau tidak ingin berkecipung di catur kepolitikan, akhirnya beliau memutuskan untuk keluar dari PNS, banyak sekali yang menyayangkan keputusannya. Tapi bagaimana lagi? Tekat beliau sudah bulat tak bisa tergoyahkan lagi.

Setelah keluar dari PNS perekonomian beliau kembali terpuruk. Sebagai seorang muslim sejati beliau tidak mau hanya berpangku tangan, sebab allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya.

Setelah mondar-mandir kesana kemari akhirnya beliau mendapatkan tawaran dari kakaknya sendiri yaitu; H. Mas’ud untuk ikut bekerja di toko kain ``barokah’’ kyai ma’ruf akhirnya bekerja di toko tersebut, setiap selesai mengajar sampai terbenamnya matahari.

Mengasuh pesantren

Pondok pesantren raudlatul muta’allimin yang didirikan mbah irsyad sebelumnya hanya bangunan yang secara fisik awalnya biasa saja, konon hanya terbuat dari bambu tidak semegah seperti sekarang , namun setelah KH.M. ma’ruf irsyad mulai mengasuh pesantren yang berdiri sebelum kemerdekaan ini, berangsur-angsur berkembang baik segi fisik maupun pendidikan.

Banyak para donator-donatur yang tidak segan menginfakkan hartanya kepada pesantren, bahkan jumlah santripun meningkat setiap tahunnya, hal itu disebabkan keuletan serta keikhlasan beliau. Hingga nama pondok pesantren raudlatul muta’allimin yang juga dikenal pondok jagalan, sekarang lebih masyhur dengan sebutan ``pondok kyai ma’ruf.’’

Setiap santri dianggap seperti anak sendiri tanpa pandang bulu, para santrimembayar iuran itu hanya untuk keperluan santri sendiri. Bahkan dulu tunggakan listrik pondok, kyai ma’ruf sendiri yang membayarnya. Dikisahkan bahwa setiap para santrinya yang memberikan bisyaroh, beliau selalu mengembalikannya dengan bentuk membelikan fasilitas-fasilitas untuk para santri.

Wadhifah

Kegiatan beliau sehari-hari sangatlah sibuk sangat tidak mungkin jika dilakukan oleh orang biasa. Setiap pagi beliau pergi mengajar ke berbagai madrasah diantaranya, madrasah qudsiyyah, TBS kudus, banat kudus, mu’allimat kudus, diniyah kradenan kudus, dan mu’awanatul muslimin kenepan kudus.

Siang hingga sore harinya jika tidak ada undangan beliau gunakan untuk istirahat dan menerima tamu. Rumah beliau terbuka lebar untuk para tamunya, siapapun yang datang kepada beliau akan dilayani dengan ramah. Bahkan tatkala menyajikan suguhan, dan tak jarang beliau sering mengangkat sendiri sajian dari dapur dan menyugukannya kepada para tamunya.

Malamnya, mulai magrib beliau sudah berada di masjid untuk berjamaah bersama para santri dan masyarakat. Dilanjutkan dengan pengajian rutin setiap ba’da magrib. Beliau punya prinsip tidak mau menerima undangan jika bersamaan dengan mengajar para santri.

Sehabis shalat isya’ kyai yang juga ketua dewan syuriah PC NU Kudus ini merupakan seorang muballigh yang handal. Hingga hampir setiap malam beliau harus memnuhi undangan ke berbagai daerah dan pulang hingga larut malam. Sesibuk itu beliau masih sempat bangun malam untuk menunaikan ibadah tahajud dan shalat ssunnah lainnya. Memang di lihat dari dzahirnya kelihatan sangat berat, namun jika sudah didasari dengan rasa cinta semua menjadi ringan melakukannya.

Setiap subuh beliau selalu ke masjid untuk berjamaah bersama para masyarakat sekitar dan para santrinya. Diceritakan,bahwa kyai ma’ruf setiap ba’da shalat subuh bulan sya’ban beliau membagi bagikan uang ataupun sarung kepada para masyarakat yang ikut berjama’ah, supaya masyarakat sekitar bersemangat untuk berjama’ah di masjid.

Keistiqomahan

Kyai yang berthoriqoh naqsabandiyyah kholidiayyah ini merupakan sosok yang istiqomah, itu terbukti setiap beliau mengajar ataupun mengisi majlis ta’lim, beliau tidak pernah absen kecuali udzur syar’i. Bahkan diceritakan bahwa beliau mengajar di majlis ta’lim karang malang selama 20 tahun tidak pernah absen sama sekali.

Problem solving

Setiap kali para santri mendapatkan masalah baik berupa tingkah laku maupun yang lainya kyai ma’ruf selalu memberi jawaban dan solusi. Padahal para santri belum mengutarakannya (disimpan dalam hati). 

Kitab yang diajarkan

Kitab yang beliau ajarkan sangatlah banyak dan beragam, mulai dari kitab-kitab kecil sampai kitab yang besar, kitab-kitab ilmu fiqih hingga tasawuf. Diantara kitab yang beliau ajarkan adalah tafsir jalalain, jami’ shagir, riyadus shalihin, kifayatul atqiya’, majalisu tsaniyyah, irsyadul ibad, hadits buchori muslim, ihya’ ulumuddin, nashaihul ibad, durrotun nasihin, sulam taufiq, dll

Kepergian sang murobbi ruh

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Di usia senja beliau masih eksis dalam mengajar dan berdakwah, bahkan kegiatan beliau malah semakin padat , apalagi dibulan rajab (syahrullah), dan bulan sya’ban (syahru rosululilah). Terpampang jelas di kalender yang bisa dibuat mencatat jadwal pengajiannya terlihat banyak coretan menandakan sangking padatnya.

Pada malam rabu tanggal 21 juli 2010 beliau memimpin acara peringatan haul KH.M.Irsyad , ayahhandanya. Acara tersebut sudah rutin diadakan setiap tahunnya dan beliau tidak pernah absen memimpin acara tersebut. Dalam acara tersebut beliau masih terlihat bugar. keeesokan harinya setelah menunaikan sholat dzuhur berjamaah dengan para santri beliau merasakan sakit nyeri sehingga beliau dilarikan ke RSUD kudus dan dimasukkan ruang ICU. hari kamis legi tanggal 22 juli 2010 /10 sya’ban 1431 jam 08.00-09.00 beliau pulang kehadirat allah dengan raut wajah bahagia.

Sumber : Santri Jagalan

Kamis, 14 April 2022

KH. Yahya Arif


Qudsiyyahputri.com. KH. Yahya Arif tak lain merupakan putra ke tiga dari dua belas bersaudara pasangan dari H. Arif dan Ardinah. Dilahirkan pada tanggal 23 Juni 1923 M, di desa Kauman Menara Kudus. Sosok KH Yahya Arif tumbuh dan berkembang di lingkungan pondok pesantren dan kyai.

Masa Muda dan Pendidikan

Bermacam-macam pengajaran dan pengalaman pendidikan beliau lalui. Pertama kali beliau masuk Madrasah Qudsiyyah, di mana saat itu murid Madrasah Qudsiyyah masih sedikit. Sebagai orang yang termasuk keluarga kurang mampu, sambil sekolah beliau membuat layang-layang untuk kemudian dijual ke pasar Johar (Wergu). Ini dilakukan tak lain untuk membiayai sekolah serta mencukupi kebutuhan sehari-harinya. 

Setelah lulus dari Madrasah Qudsiyyah, beliau melanjutkan studi dan berguru pada kyai Yahya Abu Amar Sunggingan. Karena beliau sangat patuh dan tekun dalam belajar, maka gurunya begitu sayang dan selalu memperhatikannya. Setelah itu beliau meneruskan studinya ke pesantren Tanggulangin Sidoarjo. Selain terkenal dengan kecerdasannya yang luar biasa, KH. Yahya Arif dikenal dengan sifatnya yang andhap ashor (ramah tamah). Hal ini membuat gurunya menyukainya dan bahkan menjadikannya sebagai abdi dalem (pembantu gurunya). 

Selaian mondok, beliau juga berguru pada beberapa kyai di Kudus antara lain KH. Ma’mun Siraj untuk mendalami ilmu Faraid. Dalam hal Ilmu Falak beliau berguru kepada KH. Turaichan Adjhuri as Syarofi Langgardalem Kudus. 

Sekitar tahun 1951 M KH Yahya Arif pulang dari pesantren Tanggulangin Surabaya. Kepulangan beliau disambut gembira oleh masyarakat dan lantas beliau diminta untuk mengajar di Madrasah Qudsiyyah. 

Perjuangan untuk Madrasah 

Perjuangan beliau dalam memajukan Madrasah sangat besar. Perannya dalam memajukan Madrasah terlihat dalam bidang pendidikan. Kitab-kitab yang beliau tulis untuk diajarkan di madrasah begitu banyak dan hingga saat ini terus digunakan. 

Dalam hal administrasi, peran beliau sangat penting. KH Yahya Arif terkenal dengan ketelitiannya dalam hal tata usaha madrasah saat itu. Sehingga banyak data-data penting madrasah yang tetap terselamatkan hingga saat ini. Prinsip beliau tak lain adalah demi kepentingan dan kemajuan Madrasah Qudsiyyah.

Kehidupan dalam Keluarga 

Seperti halnya pria lain, beliau juga menjalankan sunnah rasul yaitu menikah. KH Yahya Arif memperistri Ibu Ni'afah, seorang gadis dari Janggalan Kota Kudus. Tepatnya pada 20 Rabi’ul Awal 1377 H bertepatan dengan tanggal 15 Oktober 1957 M beliau menjalankan akad nikah. Dalam menjalani rumah tangga beliau dikaruniai empat anak yaitu Sa’adah, Syafa’ah, Sayyidah, dan Masykuri. 

Sebagai kepala rumah tangga, tidak lepas dari tanggungjawab memberi nafkah kepada keluarga. Beliau pun bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Di samping mengajar di Madrasah Qudsiyyah, beliau juga memproduksi pakaian kemudian menjualnya. Selain itu, beliau juga pernah melakukan hubungan kerja secara syirkah dengan orang Kedungwaru Demak dalam bidang pertanian dan perkayuan. Namun kerja keras itu semua tak tampak di mata umum sehingga wajar kalau orang mengatakan, bahwa Mbah Ya, panggilan akrab beliau, hanya mengajar di Madrasah Qudsiyyah. 

Naik Haji 

Pada tahun 1993 M beliau menjalankan ibadah haji bersama guru-guru Madrasah Qudsiyyah yang lain. Ini merupakan fadhal dari Allah atas keuletan dan kerja keras beliau.

Kegemaran Beliau 

Di masa hidupnya beliau mempunyai banyak kegemaran di antaranya adalah silaturrahim ke tempat yang dekat ataupun jauh. Tak peduli entah itu terhadap yang tua maupun terhadap yang muda. Kegemaran lainnya adalah suka menyenangkan putra-putrinya dengan membuatkan mainan anak-anak yang baru musim di waktu itu. 

Bershodaqoh juga menjadi hobi KH Yahya Arif. Utamanya kepada para pengemis yang ada di lingkungan Menara, dan kepada pengemis yang datang ke rumahnya setiap hari Jumuah. Di samping itu, mbah Ya juga gemar bershadaqah pada hari Kamis berupa jajan pasar. 

”Tiada hari tanpa muthola’ah” menjadi prinsip beliau. Dengan kegemaran ini terbukti banyak karya-karya yang beliau tulis dan hingga sekarang masih tetap digunakan sebagai kitab pegangan di Madrasah yang berdiri sejak tahun 1919 ini. 

Membaca Al-Qur’an di waktu malam menjadi kegemaran beliau yang jarang ditinggalkan. Menurut cerita dari keluarga, KH Yahya Arif setelah pulang dari Baitullah selalu khatam Al Qur’an setiap pekan dan biasanya khataman pada malam Kamis. 

Pulang ke Rahmatullah 

Innalillahi wainna Ilaihi Raji’un, pada Rabu Kliwon, 28 Muharram 1418 H. bertepatan dengan tanggal 4 Juni 1997 M pukul 19.30 WIB KH. Yahya Arif dipanggil oleh Allah dalam usia 74 tahun. Pemakaman beliau dilaksanakan pada Hari Kamis Legi sekitar pukul 14.00 WIB di pemakaman Sedio Luhur Krapyak Kudus. Beliau wafat meninggalkan dua orang putri dan satu putra serta empat cucu.