Di balik gedung Qudsiyyah Putri yang berdiri megah sekarang,
tersimpan kisah awal Qudsiyyah Putri melangkah menuju peradaban. Dulunya
Qudsiyyah Putri adalah lahan kosong yang penuh rumput liar, pada tahun pertama
kegiatan belajar mengajar dijalankan dengan seadanya. Kegiatan belajar mengajar
madrasah masih menumpang di pondok, dan pada masa itu Qudsiyyah Putri masih
bergabung dengan madrsah Qudsiyyah yang sudah berdiri sekitar seratus tahun
sebelum Qudsiyyah Putri berdiri.
Selain lokasi gedung yang yang masih terbatas, kala itu
beberapa guru terutama guru salaf harus mengampu lebih dari satu mapel
menjalani tahun pertama dengan fasilitas seadanya, tidak menjadi halangan bagi
bapak ibu guru untuk mengajarkan ilmunya kepada para santri, karena dibalik itu
ada keyakinan dari dalam hati bapak ibu guru bahwa ini adalah awal dari
lahirnya ulama’ putri untuk masa depan. Mulai di tahun kedualah Qudsiyyah Putri
semakin maju dan berkembang, semakin banyak santri yang mendaftar, semakin
banyak juga guru dan tenaga kerja yang dibutuhkan, mulai dibangunnya gedung
asrama untuk para santri menginap, dibangunnya gedung madrasah untuk kegiatan
belajar mengajar yang nyaman, dan semakin banyak prestasi yang diraih oleh
Qudsiyyah Putri, baik prestasi yang diperoleh dari madrasah maupun pondok
pesantren, baik prestasi dalam bidang akademik, nonakademik atau salaf.
Kini Qudsiyyah Putri sudah berdiri teguh dengan berbagai
prestasi yang dimiliki, dan melahirkan santri putri yang mahir membaca kitab
kuning, santri yang hafal seribu dua bait nadzom Alfiyyah dan 30 juz Al Qur’an.
Qudsiyyah Putri yang sekarang adalah bukti bahwa Qudsiyyah Putri yang baru
berdiri sepuluh tahun bisa berkembang seperti madrasah lain yang sudah lebih
dulu berdiri.





